Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Riwayat Syeikh Yusuf Al-Maqassari

Syeikh Yusuf lahir tahun 1626 di Goa, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Abdullah, bukan bangsawan, tetapi ibunya, Aminah, keluarga Sultan Ala al-Din. Dia dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid. Pada usia 15 tahun dia belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Saya tahu dari sejarawan Belanda, Van Leur, betapa agama Islam dibawa ke Indonesia pada mulanya oleh pedagang-pedagang Islam yang sekaligus adalah sufi. Kembali dari Cikoang Syeikh Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Goa, lalu pada usia 18 tahun dia naik haji ke Mekkah sekalian memperdalam studi tentang Islam.

Di Makassar dia naik sebuah kapal Melayu dan berlayar menuju Banten yang merupakan pusat Islam penting di Nusantara. Di sana dia bersahabat dengan putra mahkota yang kelak memerintah sebagai Sultan Ageng Tirtayasa (1651-83), penguasa agung terakhir dari Kesultanan Banten, juga kerajaan terakhir dari Nusantara yang dengan kapal-kapalnya melaksanakan perdagangan jarak jauh.

Mengikuti rute perdagangan antar-Nusantara zaman itu Syeikh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Aceh, lalu ke Gujarat, India, tempat dia bertemu dengan Sufi Nuruddin Ar-Raniri, penasihat sultan perempuan Safyatuddin dari Aceh, kemudian ke Yaman, akhirnya ke Mekkah dan Madinah, bahkan sampai ke Damascus (Suriah) dan Istanbul (Turki) yang disebut dalam tambo-tambo Melayu sebagai “Negeri Rum”. Bila dipikir sangat lamanya waktu perjalanan dengan kapal layar atau dengan kafilah unta zaman itu, maka sungguh mengagumkan kekuatan fisik dan mental Syeikh Yusuf untuk berkelana sambil belajar tasawuf bertahun-tahun dalam tradisi seorang sufi. Sungguh menyenangkan di Mekkah dia memperoleh ijazah dari tarekat (mystical order) Khalwatiyyah, diakui sebagai ilmuwan Islam yang berwibawa, dipandang sebagai guru agama oleh orang-orang Melayu-Indonesia yang datang naik haji ke tanah Haramyn. Dia menikah dengan putri Imam Shafi’i di Mekkah yang meninggal dunia waktu melahirkan bayi. Sebelum pulang ke Indonesia, dia kawin lagi dengan seorang perempuan asal Sulawesi di Jeddah.

SYEIKH Yusuf tidak kembali ke Goa di mana agama sudah dilecehkan, orang berjudi, mengadu ayam, meminum arak, menghidupkan lagi animisme tanpa ditindak secara tuntas oleh Sultan. Alih-alih dia menetap di Banten dan menjadi penasihat agama utama Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan ini sangat anti-VOC Belanda. Ia berselisih dengan putranya yang dikenal sebagai Sultan Haji. Timbul perang saudara, Sultan Haji minta bantuan VOC yang mengirim tentara Kompeni untuk menangkap Sultan Ageng dan menyekapnya di Batavia di mana dia meninggal tahun 1692.

Syeikh Yusuf dengan 4.000 tentara Bugis memihak Sultan Ageng, turut bergerilya dengannya, juga ditangkap oleh Belanda. Pada bulan September 1682, Syeikh Yusuf bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke Ceylon, kini Sri Lanka. Di Sri Lanka dia menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Dia aktif menyusun sebuah jaringan Islam yang luas di kalangan para haji yang singgah di Sri Lanka, di kalangan para penguasa, dan raja-raja di Nusantara. Haji-haji itu membawa karya-karya Syeikh Yusuf ke Indonesia, dan karena itu bisa dibaca di negeri kita sampai sekarang.

Mengingat aktivitas Syeikh Yusuf tadi, VOC Belanda khawatir dampaknya dalam bidang agama dan politik di Nusantara. Keadaan bisa bergolak terus. VOC lalu mengambil keputusan memindahkan Syeikh Yusuf ke Kaapstad di Afrika Selatan. Dalam usia 68 tahun, Syeikh Yusuf beserta rombongan pengikutnya terdiri dari 49 orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog. Di tengah perjalanan badai besar menghantam sehingga membuat nakhoda Belanda, Van Beuren, ketakutan kapalnya akan tenggelam, tapi berkat wibawa dan karisma Syeikh Yusuf dia bisa tenang dan selamat sampai di Kaapstad. Akibat pengalaman tersebut, sang kapten memeluk agama Islam dan sampai sekarang keturunannya yang semua Muslim masih ada di Afrika Selatan.

Syeikh Yusuf ditempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Lokasi itu di Cape Town sekarang dikenal sebagai Macassar. Bersama ke-12 pengikutnya, yang dinamakan imam-imam, Syeikh Yusuf memusatkan kegiatan pada menyebarkan agama Islam di kalangan budak belian dan orang buangan politik, juga di kalangan orang-orang Afrika hitam yang telah dibebaskan dan disebut Vryezwarten.

MENYAMPAIKAN syiar Islam, memelihara dan mempertahankan agama Islam di kalangan golongan Muslim merupakan perhatian dan aktivitas Syeikh Yusuf di Afrika Selatan. Sebagai sufi, dia mengajarkan tarekat Qadiniyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah di kalangan Muslim Afrika Selatan. Dia meninggal dunia tanggal 22 Mei 1699 dan dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti ‘keajaiban, mukjizat’. Sultan Gowa meminta kepada VOC supaya jenazah Syeikh Yusuf dibawa ke Tanah Airnya. Dia tiba di Goa 5 April 1705 dan dimakamkan kembali di Lakiung. Seperti makamnya di Faure, makamnya di Makkasar juga banyak diziarahi orang. Fakta bahwa Syeikh Yusuf memiliki dua makam menimbulkan spekulasi. Sejarawan De Haan percaya Belanda mengirimkan kerangka Syeikh Yusuf ke Makassar dan karena itu makamnya di Faure telah kosong. Di pihak lain, tulis Prof Azyumardi Azra dalam makalahnya, orang-orang Muslim di Cape percaya hanyalah sisa sebuah jari tunggal dari Syeikh Yusuf yang dibawa kembali. Spekulasi ini mungkin ada benarnya mengingat sebuah legenda di Goa mengenai jenazah Syeikh Yusuf yang dimakamkan kembali. Menurut legenda, pada mulanya hanya sejemput abu yang mungkin sisa-sisa jarinya yang dibawa dari Afrika Selatan. Tapi abu itu bertambah terus sampai mengambil bentuk seluruh badan penuh Syeikh Yusuf tatkala tiba di Goa. Dr Nabilah Lubis berkata kepada saya, soalnya adalah apakah yang tiba di Goa, kerangka atau keranda?

Syeikh Yusuf adalah seorang sufi. Pada awal tahun 1960-an ketika membaca soal mistik di Jawa dalam disertasi Dr Schmidt yang diajukan di Universitas Geneva saya mendapat keterangan tasawuf mana yang tidak diterima oleh Islam. Yaitu yang mengandung panteisme, yang menganggap diri sendiri adalah Tuhan, ana’l Haq, itu ditolak. Azyumardi Azra menulis Syeikh Yusuf menolak konsep wahdah al-wujud. Dalam analisis terakhir: man is man and God is God. Karena HAMKA menulis buku Tasawuf Indonesia saya bertanya kepadanya apakah dia sufi, dan pada awal tahun 1960-an Buya menjawab dalam bahasa Minang: Ha indak, ambo ma ngaji-ngaji sajo. HAMKA menyangkal dirinya seorang sufi.

Memang susah menjelaskan tentang sufi apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam sebuah tarikat yang dipimpin oleh syeikh. Sebagai orang awam, tentu terlebih-lebih saya tidak punya bakat dan persediaan untuk memahami sufi dan ajarannya. Kalangan yang mengetahui berkata sufi-ism adalah sama dengan akhlak yang baik.

Siapa yang berusaha hidup dengan akhlak baik, tidak mengundurkan diri dari masyarakat ramai, tetap aktif dalam urusan dunia, mengindahkan sepenuhnya suruhan dan larangan Tuhan, dia itu sesungguhnya mirip sufi. Bagaimanapun juga, Syeikh Yusuf al-Makassari, Pahlawan Nasional, adalah seorang sufi.

March 30, 2008 - Posted by | Kisah Sufi, Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani

8 Comments »

  1. Riwayat hidup Syekh Yusuf Al-Maqassari, sumber : https://darisrajih.wordpress.com

    Comment by sufimuda | August 22, 2008 | Reply

  2. Reblogged this on sufialmakassari.

    Comment by sufialmakassari | June 11, 2012 | Reply

  3. Subhanallah….begitu besar namamu yaaa Tuanta Salamaka Syeihk Yusuf-Almakassari…
    Kami selalu bangga dan rindu padamu….
    Dan andai Allah Ta’ala mengizinkan…pertemukanlah saya walau hanya lewat mimpi….

    Comment by daeng Makassar | June 21, 2012 | Reply

  4. makasih atas tulisan ini tentang syekh yusuf cuma kami anak cucu dan cicitnya masih merasa masih sangat kurang informasi yang dimiliki oleh penulis di blok ini sebab kami menganggap bahwa seakan – akan syekh yusuf itu adanya di Gowa dan Banten sedang kami yang benar benar anak cucu dan cicitnta di Rappang tidak tersentuh sama sekali oleh sejarah tentang dimana dan siapa serta syekh yusuf itu beranak pinak dan dimana syekh yusuf sekembalinya dari Mekkah menyebarkan agama dan ilmunya dan siapa sebenarnya Istri pertama dan anak2 syekh yusuf kami sangat senang apabila penulis mau melakukan klarifikasi dan menambahkan riwayat syekh yusuf yang sebenarnya kami merasa semua tulisan yang dibuat oleh para sejarawan indonesia seakan akan dipelintir dan melakukan pembenaran atas semua tulisan2nya namun tanpa di lengkapai dengan bukti dan data yang kuat kami dari pihak keluarga dan cucu dan cicitnya merasa tersingkirkan atas semua tulisan2 yang kami anggap sangat bertolak belakang dengan apa yg tertulis dan kami harap pemerintah derah sulawesi selatan dan khususnya pemerintah kabupaten sidenreng Rappang dapat melakukan klarifikasi tentang data2 tersebut agar sejarah tentang beliau dapat diluruskan dan menjadi benar,,,… terimaksih salam,

    Hormat kami,

    Cucu dan Cicit : Syekh Yusuf Ar – rappan – Al Makassari – Albantany Tuanta Salama Pahlawan Nasional,,,…( KELUARGA BESAR DAN KERABAT TUANTA RAPPANG )

    ANDI SYAMSUL RIZAL.MHD ( KETUA UMUM INDONESIAN CRISIS CENTER )
    Contact Persont : 082111418222 – 0812 8233 4884 (Puslitbang ICC)

    Comment by AS Rizal MHD | July 16, 2013 | Reply

  5. BUKU “ MENELUSURI JEJAK SYIAR ISLAM DAN AJARAN THARIQAT KHALAWATIYAH SYEKH YUSUF AR-RAPPAN AL-MAKASSARY AL-BANTANY – TUANTA SALAMA, PAHLAWAN NASIONAL “ MELALUI SAHABAT DAN MURIDNYA “TUANTA RAPANG” Di LALEBATA – PANCARIJANG RAPPANG SULAWESI SELATAN PHOTO TUANTA RAPPANG Diterbitkan oleh : MEDIA CRISIS CENTER (MCC & GROUP) Pusat Penelitian dan Pengembangan Data dan Informasi Indonesian Crisis Center Penulis : A.S. Rizal, MHD MEDIA CRISIS CENTER (MCC) PUSLITBANG ICC 003/DK-ICC/01/2013 Vol. I No. 3 Januari 2013 Penasehat : Antonius Sujata, SH.MH Letnan Jenderal TNI (P) Bambang Darmono Mayjend TNI (P) Is Santoso Pembina/Pakar : Irjen Pol (P) Prof. Dr. Farouk Muhammad Pof. DR. Ir. Soeprapto, MSc.FPE.APU Prof. Drs. Komaruddin, MA.APU DR. Awaluddin Tjalla DR. Muchlis Paini Dominikus Dalu, SH Marsma TNI Ahmad Yani Antariksa Pemimpin Umum : Andi Syamsul Rizal, MHD Sekretaris Redaksi : Risma Fatimah Rizal Ferdy Usman Lairung Dewan Redaksi : Ir. Rasma Yulianita Ramashanty, M.Pd Dra. Hilmi Jalaluddin Siti Hardiyanti Rizal M. Yunus Tata Usaha : M. Iqbal Taqwa Winny Mulya Jauhar Alamat Redaksi : Puslitbang ICC (Indonesian Crisis Center) Jl. Duta Graha V Blok E2/03 Perum Duta Harapan Kota Bekasi Utara Kodya Bekasi Propinsi Jawa Barat 17123 Telp/HP. 0812 8233 4884 DAFTAR ISI 1. Pendahuluan 2. Kronologi singkat Tuanta Rappang 3. Kronologi Desa Lalebata Rappang 4. Menelusuri jejak syiar Islam dan ajaran Thariqat Khlawatiyah Syekh Yusuf Ar-Rappan Al-Makassary Al-Bantany, Tuanta Salama, Pahlawan Nasional melalui sahabat dan muridnya “TUANTA RAPPANG” – Kronologi Syekh Yusuf Ar-Rappan – Silsilah Syekh Yusuf Ar-Rappan – Silsilah Arung/Raja Rappang – Gambar Syekh Yusuf 5. Kronologi Wilayah Ajattapparang – Struktur/Komposisi wilayah Ajattapparang – Lalebata Rappang sebagai sentral/pengajaran Islam dan konsep rancangan tradisi/budaya Islam suku Bugis – Lalebata Rappang sebagai tempat awal munculnya waliullah/wali pitue di Sulawesi Selatan 6. Ajaran Khalawatiyah Yusuf dalam rangka peningkatan keimanan dan keislaman di Lalebata Rappang – Mengenal ajaran Thariqat Khalawatiyah Yusuf dan Tuanta Rappang sebagai pemegang mahkota Khalawatiyah Yusuf – Penjelasan tentang lahirnya wali pitu’e/7 wali di Ajattapparang – Photo-photo walipitu’e/wali pitu’e terakhir 7. Syekh Samauna (Maulana), Syekh Bunyamin (Benna), Syekh Ahmad (Lammade), Iccuning/H. Bukhari Daeng Parani sebagai….. pelanjut Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang 8. Peranan ulama/waliullah dalam kerajaan Ajattapparang pada abad XVIII – Era Syekh Samauna (Maulana) dan Syekh Bunyamin (Bonna) – Era Syekh Ahmad (Lammade) – Era Syekh Usman Lairung – Era Syekh Muhammad Husain 9. Peran raja-raja Rappang dalam penyiaran agama Islam pada abad ke XVII – XVIII – Puang Battoa sebagai Kadhi Pertama untuk wilayah kerajaan Arung Rappang – Syekh Muhammad Padaelo/Syekh Badaruddin Puang Kali Cori – Puang Baji Tahun 1811 – 1941 – Syekh Jamal Padaelo/Syekh Rappang Tahun 1876 – 1958 10. Peranan KH. Muin Yusuf sebagai generasi pelanjut Syekh Jamal Padaelo dalam syiar Islam di Rappang – Sulawesi Selatan “ MENELUSURI JEJAK SYIAR ISLAM DAN AJARAN THARIQAT KHALAWATIYAH SYEKH YUSUF AR-RAPPAN AL-MAKASSARY AL-BANTANY – TUANTA SALAMA, PAHLAWAN NASIONAL “ MELALUI SAHABAT DAN MURIDNYA “TUANTA RAPANG” Di LALEBATA – PANCARIJANG RAPPANG SULAWESI SELATAN PENDAHULUAN Buku ini merupakan kronologis perjalanan hidup religius Syekh Yusuf Ar-Rappan dan sahabatnya Tuan Rappang Syekh Abdul Bashir, Syekh Sahabuddin atau Syekh Bodd, Putta Syekh’e dan jejak peta siar Islam di Lalebata Rappang Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Dalam buku ini akan diungkap sekembalinya Syekh Yusuf Ar-Rappan menuntut ilmu di Mekkah yang diungkap oleh sahabat dan muridnya. Tuanta Rappang dengan pengetahuannya, keberadaannya, ajarannya berdasarkan persi orang-orang Bugis Makassar tentang Thariqad Khalawatiyah Yusuf secara turun temurun dan diarahkan akan menjadi buku sejarah Islam keagamaan dan sejarah perjuangannya. Buku ini sangat tepat untuk dibaca bagi yang ingin mengetahui dan memperdalam pengetahuan Islamnya melalui pemahaman tentang ilmu Haqiqah, Ilmu Syariah, dan ilmu Thariqad Khalawatiyah Yusuf, khususnya dalam menuntut ilmu agama Islam. Menggali menelusuri sejarah Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang (Syekh Abdul Bashir, Syekh Badaruddin, Syekh Boddi, Putta Syekh’e) yang berawal dari kami cicit dan keluarga besarnya yang telah berusaha keras untuk mengumpulkan data-data dan informasi yang telah kami miliki mulai sejak tahun 1950. Sebagaimana yang diamanahkan oleh Syekh Jamal Padayilo/Padaelo binti Aisyah binti Syekh Ahmad bin Syekh Yusuf Ar-Rappan atau yang dikenal sebagai Syekh Rappang. Dalam buku Stambon tahun 1907 dan silsilah Syekh Yusuf Ar-Rappan yang dibuatnya pada tahun 1941 sebagai pedoman untuk menelusuri jejak peta siar Islam Syekh Yusuf Ar-Rappan dan sahabatnya/muridnya Tuanta Rappang (Syekh Abdul Bashir, Syekh Badaruddin, Syekh Boddi, Putta Syekh’e). Oleh karena itu pada dasarnya buku ini akan mengungkap jejak awal dari sejarah kemasyhurannya, sebagai seorang penyiar agama Islam dan pembawa Tajul Khalawatiyah ke Sulawesi Selatan dan sekitarnya dalam membina persatuan, kesatuan ummat dan bangsanya. Berkenaan dengan diterbitkannya buku ini perlu kita memiliki pemikiran yang sehat dan renungan saat membacanya, sehingga dapat menumbuhkan keyakinan atas kejayaan masa lalu suku Bugis Makassar atau Sulawesi Selatan khususnya dalam perkembangan syiar Islam melalui thariqat Khalawatiyah Yusuf pada pertengahan abad XVII kemudian dilanjutkan oleh sahabatnya dan anak cucu dan cicitnya serta murid-muridnya yang dapat berkembang menjadi pendidikan dan pengajaran terbuka untuk menghayatinya sesuai dengan kelima rukun Islam. Adapun materi dan data informasi bahasan terbatas pada kemampuan penulis buku ini dalam memperoleh referensi dan menemukan identifikasi subyek Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang dengan Tajul Khalawatynya. Semoga naskah ini merupakan sumbangan buat negara dan bangsa terutama bagi pakar/ahli sejarah kita untuk menggali keberadaan ulama/wali nusantara kita berdasarkan abad dan tujuannya mengangkat sejarah untuk menelusuri dan menemukan jejak awal Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang sebagai leluhur kita semua. Akhir kata saran dan kritik dapat kami terima demi terciptanya sejarah yang benar dalam menelusuri sejarah dan perjuangannya, maka tak lupa kami haturkan banyak terima kasih. Wassalam Penulis KRONOLOGIS SINGKAT “ TUANTA RAPPANG “ (Syekh Syahabuddin/Syekh Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e) Tuanta Rappang adalah generasi pelanjut pertama thariqat Khalawatiyah Yusuf dan pemegang mahkota ta’jul Khalawatiyah sepeninggal Syekh Yusuf Ar-Rappan ke Banten (Mekkah). Tuanta Rappang meninggal pada tanggal 5 Mei 1723 menurut sejarah dikebumikan di Desa Boddi Mario Rappang (dalam area kebon karet di Boddi) bersama pengikut dan muridnya, kemudian dipindahkan ke Gowa pada tanggal 25 Juli 1723. Kuburannya berada dalam kubah (ko’bang) dalam bahasa Makassarnya bersama dengan Syekh Yusuf Ar-Rappan (Al-Makassary) dan istri Syekh Yusuf yaitu Fatimah binti H. Muhammad Ali Al-Fakiah (Syekh Bojo/Pekkie Bojo) dan Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Tuanta Rappang meninggalkan karya tulisnya tentang ajarannya yaitu Tawajjuh, Muraqabah, Musyahadah, Muhadarah, dan Mu’ayanah. Selain itu ia menulis kitab yang berjudul Bahjat al-Tanwir Fi Bayan Fawaid Al-Lugat Allati Tazhar min Zauq Al-Arifin bi Allah pada tahun 1126 H/1714 M (sumber lektur keagamaan). Tuanta Rappang/Syekh Boddi, Syekh Syahabuddin, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e mempunyai peranan yang lebih besar dibanding pendahulu-pendahulunya, jangkauan luas, karena beliau inilah yang mengembangkan dan menyempurnakan ajaran Thariqat Khalawatiyah Yusuf yang menjadi suatu aqidah yang sempurna. Dalam melaksanakan amalan-amalan dan ibadah yang kita anut sekarang ini (Ahlu Sunnah wal Jamaah). Tuanta Rappang seorang tuna netra (buta) tetapi dapat melihat/ mengetahui keadaan sekelilingnya hanya dengan mata hatinya. Syarat dengan ilmu agama dan tasawuf serta mempunyai kharisma yang kuat dengan gelar Putta Syekhe’e Tuanta Rappang. Konon cerita legenda orang tua di Rappang mengatakan Tuanta Rappang/Syekh Boddi mempunyai rumah/tempat tinggal di atas air di Desa Boddi Mario Rappang (Teppo Boddi). Dalam menyempurnakan ajaran thariqat “Dua Temmassarang Tellu Temmallaiseng/Dua Temmalleiseng Tellu Temmassarang” yaitu pemahaman tentang ibadah shalat yang sesungguhnya ialah: 1. Bacaan 2. Gerakan 3. Niat (baca, kedo-kedo dan niat) Niat inilah yang dikatakan sempurna sembahyang kita, banyak lagi doa-doa dan zikir serta shalawat yang diajarkan/diletakkannya, dan menjadi referensi/ pegangan dan panutan dari anak cucu, cicit-cicitnya dan murid serta pengikutnya hingga saat ini, yang juga merupakan suatu identitas pengenalan diri sebagai cucu dan cicit beliau. Kemudian putra-putri, istri dan cucu-cicit Syekh Yusuf Ar-Rappan adalah murid/ keluarga yang kemudian melanjutkan ajaran-ajarannya sepeninggal Tuanta Rappang/Syekh Boddi di Rappang. 1. Putra Syekh Bunyamin bin Syekh Yusuf Ar-Rappan yaitu Syekh Samauna (Maulana) yang tetap melanjutkan dan kemurnian Thariqat Khalawatiyah Yusuf di Johor Malaysia dan di Singapore 2. Syekh Ahmad (Lammade) Putra Syekh Yusuf Ar-Rappan bermukim di Mekkah dan sering bolak balik tanah Bugis (Ogi) di Wajo padaelo kampung halaman istrinya Raja Lija tinggal dan meninggal di Mekkah. 3. Haji Bukhari Daeng Parani mantu Syekh Yusuf Ar-Rappan yang kawin dengan I Cenning putri bungsu Syekh Yusuf Ar-Rappan yang berasal dari keturunan Raja Gowa (Makassar) menyebarkan ajaran Thariqat Khalawatiyah Yusuf, pada mulanya bermukim di Malaysia dan Singapura kemudian ke Sulawesi (tanah Bugis) bersama istrinya I Cenning dan tinggal kemudian meninggal di Rappang. 4. H. Muhammad Arsyad bin Syekh Bunyamin bin Syekh Yusuf Ar-Rappan bersama dengan keluarganya yaitu H. Ambodalle dan H. Daki sebagai pelanjut thariqat Khalawatiyah Yusuf di Sulawesi, Pontianak, Sondakan (Malaysia) serta Brunai Darussalam di sinilah akhir masa kejayaan/ kepopuleran Thariqat Khalawatiyah Yusuf, karena kemurniannya tidak lagi dapat dipertanggungjawabkan pada abad ke XIX. 5. Syekh Husain Padaelo cucu-mantu Syekh Yusuf Ar-Rappan yang kawin dengan Mu’minah binti Syekh Ahmad bin Syekh Yusuf Ar-Rappan yang lahir di Mekkah dan bermukim serta mengembangkan ajaran dan syiar agama Islam di Donggala (Sulawesi Tengah) di kerajaan Kutai (Kalimantan Timur), di Buton (Sulawesi Tenggara), Lombok (Tambora, Sumbawa, NTB) sampai ke Tidore (Maluku Utara). Nama lengkap beliau Syekh Husain bin Abdullah Ahmad Sultan Sumbawa (cucu Tuan Guru Raja Tambora NTB) dan juga keturunan dari Sunan Giri/ Raden Paku (Semarang) yang dikaruniai 2 orang anak, yaitu: I. Syekh Usman Padaelo yang bermukim di Mekkah kemudian ke tanah Bugis (Ogi) di Belawa Kabupaten Wajo dan diberi gelar masyarakat Wajo dengan nama (Puan Kalicori) II. Syekh Muhammad Husain Padaelo/Syekh Badaruddin, Puang Baji, Puang Kalicori yang mulanya dari Mekkah kemudian menyusul Ayahandanya ke Donggala (Sulawesi Tengah) dan pada usia senja pindah ke Rappang untuk bergabung dengan keluarga keturunannya kemudian menjadi penduduk asli di Donggala Sulawesi Tengah. 6. Syekh Usman Lairung Padaelo cucu mantu Syekh Yusuf Ar-Rappan yang kawin dengan Aisyah binti Syekh Ahmad (Lammade) bin Syekh Yusuf Ar-Rappan saudara kandung Syekh Husain Padaelo bin Abdullah bin Syekh Ahmad (Sultan Sumbawa) dan keturunan Sunan Giri/Raden Paku (Semarang) yang awalnya bermukim di Mekkah kemudian ke tanah Bugis di Tosora/Pammana Kabupaten Wajo/Sengkang di era inilah pada awal abad XIX kepopuleran Thariqat Khalawatiyah Yusuf mulai tergeser, nilai-nilai tinggi yang didapatkan dari thariqat kemudian dikembangkan menjadi suatu ajaran/pelajaran secara terbuka dan menyeluruh. Pengenalan haqiqat dalam memantapkan aqidah diajarkannya untuk menjalankan iqamah, mulai mengajarkan kitab-kitab, Qur’an, hadits Nabi, ilmu fiqih, yang berdasarkan kitab Uhlusunnah Wal Jamaah, tanpa meninggalkan amalan-amalan, doa dan zikir serta shalawat yang didapatkan dari thariqat Khalawatiyah Yusuf. 7. Terlampir silsilah keluarga Syekh Yusuf Ar-Rappan dan silsilah Arung/Raja Rappang ke II agar memudahkan pengenalan kita terhadap keluarga besarnya yang asal usulnya dari tanah Bugis (Ajattapparang) dan masih banyak lagi yang penulis tidak sebutkan dan memohon maaf yang sebesar-besarnya karena naskah/tulisan ini hanya terbatas dari keturunan yang berhubungan dengan penulisan ini. Dengan senang hati penulis bersedia menerima kritikan-kritikan atau masukan-masukan yang dapat menambah perbendaharaan penulis dan tiada lain tujuannya ialah menjalin, dan mencari serta menelusuri jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Sekian. Wassalam Penulis SYEKH YUSUF AR-RAPPAN TAJUL KHALAWATIYAH PAHLAWAN NASIONAL 1626 – 1699 MENELUSURI JEJAK SYIAR ISLAM SYEKH YUSUF AR-RAPPAN MELALUI SAHABAT DAN MURIDNYA “ TUANTA RAPPANG “ (SYEKH SYAHABUDDIN/SYEKH ABDUL BASHIR, SYEKH BODDI, PUTTA SYEKHE’E) DI LALEBATA RAPPANG SULAWESI SELATAN Makna dan arti kata Rappang adalah tradisi-tradisi dan budaya Islam yang dianut masing-masing suku di Sulawesi Selatan kemudian mulai dibakukan dalam suatu sistem sebagai pendapat dari penulisan naskah ini sangat berhubungan dengan arti dan makna Rapang yang kemudian disebut Rappang yang kami jelaskan tersebut di atas ialah sebagai berikut: 1. Rapang adalah pola, contoh, teladan tentang tradisi dan budaya Islam yang mulai dibakukan pada waktu itu, kemudian disebut Rappang, karena dulunya kata Rappang identik dengan kedatangan agama Islam di pedalaman Sulawesi Selatan. 2. Nama Rapang itu kata dasarnya adalah Rappe dalam bahasa Bugis, yaitu bongkahan-bongkahan tanah yang hanyut dalam sungai kemudian menjadi suatu daratan/kampung itulah Rappang. Sejarah Rappang sangat erat hubungannya dengan keberadaan/ kedatangan para penyiar agama Islam ke Rappang, dimana Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Syekh Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e) waktu itu bermukim di Boddi Mario Rappang dan kalau diartikan ke dalam bahasa Bugis tentang Mario Rappang yang mempunyai arti harapan senang atau diartikan bahwa dengan kedatangan waliullah ini akan membawa harapan dalam kesenangan dan kemakmuran pada zaman itu. Hubungan Mario-Rappang belum ada kecuali melalui air atau telaga/danau yang sumber airnya datang dari Lasipeppa Mario sebuah telaga hingga sekarang ini sudah dijadikan sebuah bendungan (Teppo) yang diberi nama Teppo Boddi yang identik dengan nama Tuanta Rappang yaitu Syekh Boddi. Nama Lasipeppa dan Teppo Boddi ini adalah dulunya merupakan jalur transportasi air antara Mario-Rappang melalui kampung Bulo dan Rijang Baking kemudian ke Salo Tengugae awal mula namanya kampung Rappang yang sungainya bermuara ke pesisir pantai Pare-pare dan Barru (Lumpue dan Bojo). Dan apabila dihubungkan dengan alur sejarah peta syiar agama Islam sebelum masuknya Syekh Yusuf ke Rappang pada abad ke XVI – XVII. Kami terangkan bahwa sebelum Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang kembali dari Mekkah sudah ada ulama dari Mekkah yang terlebih dahulu berada di Barru atau pinggiran laut Lumpue dan Bojo yaitu mertuanya yang kita kenal dengan nama H. Muhammad bin Ali Al-Fakiyah Bojo atau dikenal dengan Syekh Bojo/Pekkie Bojo, dan mempunyai hubungan keluarga dekat dengan Syekh Keramat Lumpue Pare-pare yang mempunyai keturunan bertebaran di Kabupaten Wajo, Gilireng, Belawa dan Tosora (Padaelo). Dan apabila kita menelusuri alur kronologis Syekh Yusuf Ar-Rappan selama masih di Mekkah menuntut ilmu di Masjidil Haram bahwa guru Syekh Yusuf adalah salah satunya yaitu Syekh Ali Al Fakiah yang dikenal sebagai Imam Masjidil Haram Mekkah yang mempunyai anak yang bernama Syekh Muhammad bin Ali Al Fakiah. Sebagai guru Syekh Yusuf sewaktu beajar menuntut ilmu di Mekkah pada jamannya ini hubungan tanah Bugis dan Mekkah sudah ada sejak abad ke XVI secara turun temurun berhubungan dalam hal pelaksanaan urusan haji di Mekkah. Kedatangan Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang sangat memberi arti tentang asal usul dan nama Rappang yang mungkin diambil sebagai referensi tentang awal mula kemasyhuran kedua waliullah ini dalam menelusuri sejarahnya. Maka pandangan/dasar tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa makna dari Rappang adalah pola dan Rappe yang menjadi capita selecta pokok-pokok pilihan yang terbuang dari tradisi dan budaya Bugis-Makassar menjadi suatu tradisi dan budaya Islam yang tertinggalkan, dalam bahasa Bugisnya Maliki Sipakainge, Mali Siparappe yang artinya kalau lupa kita saling mengingatkan/ saling menasehati dan saling mengangkat bila hanyut/jatuh. Kesimpulannya: mengangkat dan menjaga harkat dan martabat sesama Bugis-Makassar setelah menganut agama dan budaya Islam. Tidak ada salahnya kita memberi makna dan arti Rappang yang asal katanya dari Rapang, pola, Rappe pada zaman Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Syekh Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e) sudah merupakan sental ajaran Islam dan konsep rancangan tradisi dan budaya Islam yang diajarkan beliau (waliullah ini) melalui Thariqat Khalawatiyah sebagai awal mula sistem dan pembakuan ajaran Islam dan tradisi budaya Islam khususnya di Sulawesi Selatan. Desa Lalebata Rappang terletak 188 km arah utara ibukota propinsi Sulawesi Selatan yaitu Makassar dan 33 km arah timur Kotamadya Pare-pare jurusan pedalaman Sulawesi Selatan dan Barat. Sejarah (khususnya daerah Bugis) yang dimaksud adalah Desa Lalebata Rappang sejak abad ke XVI penduduknya sudah memeluk agama Islam yang sering dikunjungi oleh penyiar-penyiar agama Islam sejak adanya kerajaan arung Rappang yaitu Puang Laiccu dengan gelar Nenenatau Rappengge (Raja Rappang pertama) yaitu Latenrilawa Bongkang (Raja Rappang ke-1) (sesuai silsilah Raja Rappang). Adapun jejak syiar Islam dan tentang sejarah orang Bugis Rappang atau era kerajaan Bugis atau era kerajaan Bugis Ajatampareng/Ajatappareng di Sulawesi Selatan Desa Lalebata Rappang dari sejak adanya Arung Rappang penduduknya telah memeluk agama Islam dan kemudian munculnya waliullah/wali pertama-tama di Sulawesi Selatan yaitu Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang yang mempunyai keturunan serta murid-muridnya yang setia, secara turun temurun hingga saat ini banyak bertebaran di pelosok Nusantara, utamanya yang bermukim di Rappang (lihat sisilah dan kronologisnya) yang diterangkan pada alinea berikut dalam buku ini secara terperinci menurut data yang dimiliki oleh penulis buku ini. Silsilah Arung Rappang Silsilah Syekh Yusuf Ar-Rappan Setelah memperhatikan komposisi dan personalia dari silsilah Arung Rappang/Raja Rappang yaitu Puang Laiccu sebagai neneknya orang Rappang (Nenena Taurappangnge) kemudian digantikan oleh Latenrilawa Bongkang sejak abad XVI yang kemudian digantikan oleh ponakannya Laparenrengi (Raja Rappang ke II) Arung Rappang/Raja Rappang yaitu Puang Laiccu mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Puang Cambolong yang kemudian kawin dengan seorang penyiar agama Islam asal tanah Arab Hadramaut yaitu Tuan Ja’far Shadiq atau dikenal di tanah Jawa sebagai Sunan Kudus bin Usman Haji Sunan Ngudung bin Ali Murtadha bin Ibrahim Asmoro/Zainul Akbar bin Husain Jamaluddin Bugis sebelum ke tanah Bugis, beliau bermukim di Brunei Darussalam sehingga terjalinnya kerjasama antara raja dan ulama dalam komposisi kerajaannya. Di samping itu sudah pernah datang sebelumnya/pendahulunya ialah Lapakalongi dari kerajaan Gowa yaitu kakek dari Sultan Hasanuddin, kemudian meninggal di Desa Benteng-Baranti Rappang dan makamnya terawat baik oleh keluarga yang terletak di halaman pesantren Al Urwatul Wustqa Benteng milik keluarga penulis buku ini. Lalebata Rappang sebagai sentral pengajaran Islam dan konsep rancangan tradisi/budaya Islam yang diletakkan oleh Syekh Yusuf Ar-Rappan bersama Tuanta Rappang/Syekh Abdul Bashir, Syekh Sahabuddin, Syekh Boddi, Putta Syekh’e. Di Lalebata Rappang Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi Selatan merupakan sentral yang menjadi tempat bermukimnya waliullah/wali pertama yang muncul khususnya di Sulawesi Selatan. Hal ini dapat dimengerti sekarang bahwa letak geografis Lalebata Rappang pada waktu itu sulit dijangkau oleh armada penjajah Belanda, karena Belanda hanya dapat menguasai pesisir pantai Makassar/Sulawesi Selatan saja, dengan leluasa para penyiar agama Islam dengan mudah untuk berhubungan ke daerah-daerah di pedalaman Bugis-Makassar. Dengan diawali munculnya waliullah/wali pertama yaitu Syekh Yusuf Ar-Rappan dan dibantu murid/sahabatnya Tuanta Rappang (Syekh Abdul Bashir, Syekh Sahabuddin, Syekh Bodi) memberi arti yang sangat besar atas pengembangan syiar Islam dan semakin meningkat terutama dalam meningkatkan keimanan dan keislaman para pengikut/jemaahnya dengan melalui Tabligh dan pengajian-pengajian khusus secara sederhana di surai atau di langgar-langgar (mengaji kitab) serta mengajarkan Qur’an dan hadits, tasawuf, thariqat tentang hakikat, syariat dan ma’rifat kemudian murid-muridnya mulai berdatangan dari seluruh pelosok Sulawesi Selatan bahkan ada dari luar daerah Sulawesi Selatan. Maka Lalebata Rappang pada waktu itu berubah menjadi sentral pengajaran tentang Islam dan konsep rancangan tradisi/budaya Islam yang diajarkan oleh Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang. Peran penting para kedua waliullah/wali ini kita dapat temui sejak abad XVII sebagai langkah perjuangan untuk menjalin persatuan dan kesatuan ummat, mendamaikan dan merujuk kembali antara suku-suku kerajaan Makassar dan suku kerajaan Bugis (Ajatappareng) yang sudah mempunyai persamaan dalam aqidah. Kemudian menyusul lahirnya persatuan Bugis Ajattaparang di pesisir barat Sulawesi Selatan dalam Lontarana Ajattapareng tersusun secara rapi mengenai status sosial dan budaya dari setiap suku kerajaan yang sudah menjadi basis waliullah/wali pitue yang merupakan konsep dan rancangan tradisi Islam yang dicita-citakannya pada Eppae Massumpang Minanga dan Limae Ajattappareng serta Pitue Massenreng Pulu. Hal ini sungguh sangat tepat dan dapat kita pahami bahwa Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang dalam menyusun dan menjaga kelangsungan dan kelanggengan hidupnya persatuan dan kesatuan yang ditanamkan dalam Aqidah Islam yang sama, dan agar syiar Islam berjalan seiring dengan harapan dari suku kerajaan Bugis dan suku kerajaan Makassar untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, serta keutuhan wilayah Ajattappareng khususnya dalam melawan penjajah. Dengan melalui pengajaran dan pelaksanaan ajaran Thariqat Khalawatiyah yang membawa sukses Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang dalam menyebarkan agama Islam dan menciptkan persatuan dan kesatuan dalam wilayah teritorial ke seluruh pesolok Sulawesi Selatan bahkan keluar Sulawesi Selatan (lihat komposisi) kerajaan Ajattappareng sebagai hasil evaluasi dan aktualisasi dari ajaran-ajarannya berdasarkan (LontaranaAjattappareng). Susunan komposisi syiar Islam Syekh Yusuf Ar-Rappan dan Tuanta Rappang melalui wilayah Ajattappareng sebagai berikut: 1. Pajungnge Ri Luwu 2. Mangkaue Ri Bone 3. Sombaya Ri Gowa 4. Datui Ri Soppeng 5. Addituangngi Sidenreng 6. Arung Matoai Wajo 7. Bakka Loloi Sawitto 8. Oring Koringngi Pabbiringnge (Barru Pare-pare, Pangkep, Bojo) 9. Maraddiai Tana Menre 10. Tommakakai Mamuju 11. Matasei Sanggala 12. Lemo Cempanai Enrekang 13. Amma Towai Kajang 14. Sampa Rajai Tana Kaili 15. Sulewatangngi Ributon Strategi pengembangan syiar Islam di pedalaman Sulawesi Selatan pada zaman penjajahan Belanda, khususnya daerah Bugis yang kemudian disebut Ajattappareng, dapat dimengerti bahwa kelanjutan dan kesinambungan pengembangan syiar Islam lancar tanpa mendapat gangguan dari penjajah Belanda, karena penganjur-penganjur agama Islam itu datangnya dari luar/dari pusatnya Mekkah atau Singapore/Malaysia yang dijajah oleh Inggris yang perlu mendapatkan perlindungan di wilayah jajahan Belanda dan demikian pula sebaliknya. Hal tersebut dapat ditemui pada generasi penerus syiar Islam sepeninggal para pendahulunya yaitu Syekh Yusuf dan Tuanta Rappang yang dimana anak-anak dan cucu-cucunya bermukim di luar Indonesia yang dijajah Belanda sehingga dengan leluasa masuk keluar Indonesia tanpa mendapat gangguan dan kesulitan dari penjajah Belanda. Hubungan antara Syekh Yusuf Ar-Rappan dengan Tuanta Rappang (Syekh Abdul Bashir, Syekh Syahabuddin) ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya karena diibaratkan pinang dibelah dua, secara bathiniyah dimana ada Syekh Yusuf disitu ada Tuanta Rappang, Syekh Yusuf Ar-Rappan sebagai jasad atau tubuh kasarnya maka Tuanta Rappang sebagai rohnya, murid-muridnya sudah berbekal ilmu bathin sebagai senjata ampuh dalam menghadapi situasi bagaimanapun juga terutama dalam membela kebenaran dengan aqidah Islam yang kuat secara turun temurun tetap terpelihara dengan baik. Mari kita lihat kelanjutannya para pejuang-pejuang Bugis dari Ajattapareng sampai tercapainya kemerdekaan Republik Indonesia. Ilmu bathin yang kami maksudkan disini diantaranya Wuju Riobala yang berartikan bahwa setiap murid/ orang yang mengamalkan ilmu ini dan doanya, insya Allah tidak akan/belum akan meninggal atau belum menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sampai di rumahnya atau kampung halamannya yang dimana keselamatannya dijamin oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan masih banyak lagi doa-doanya dan amalan yang diajarkan yang tak ternilai harganya. Di samping itu adat istiadat/budaya Islam yang sudah ditanamkan kepada anak cucunya yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Seperti upacara keagamaan hari-hari besar Islam : 1 Muharram, tahun baru Islam, 10 Muharram (Yaumu Asyura), mandi Safar, maulid Nabi, Isra Mi’raj, puasa Senin-Kamis, puasa 3 bulan sejak bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan, di samping banyak lagi amalan dan doa-doa ibadah sunnah yang diajarkan dan sudah membudaya hingga sekarang secara turun temurun sebagai warisan budaya leluhur, yang tidak bertentangan dengan syariat Islam dan sunnah Rasul, seperti doa selamat, tambalahodja dan doa dzikir yang diberikan dalam amalam Thariqat Khalawatiyah. Lalebata Rappang sebagai tempat berpijak awal dalam memperkenalkan diri sebagai seorang yang mulia dan luhur budi dan kharismanya sebagai ciri khasnya dalam menjalankan misinya sebagai penyiar agama yang tulen dan tidak diraguka oleh jamaahnya, dapat menunjukkan keanehan-keanehannya (kesaktiannya) manakala di depan murid-muridnya dan pengikut-pengikutnya sebagaimana lazimnya seorang waliullah. Gelar Tuanta Salamaka yang diberikan oleh orang Bugis-Makassar adalah bentuk doa pengiring buat beliau atas kepergiannya meninggalkan murid-muridnya, anak-anak dan istrinya beserta keluarga besarnya setelah amanahnya diserahkan kepada Tuanta Rappang (Syekh Abdul Bashir, Syekh Syahabuddin, Syekh Boddi, Putta Syekh’e) sebagai sahabat dan muridnya untuk melanjutkan syiar Islamnya dan perjuangannya melawan penjajah, gelar tersebut diberikan Tuanta Salamaka agar semoga selamat sampai tujuan dan dapat kembali ke kampung halaman dengan selamat pula dengan membawa kemenangan. Kemudian Syekh Yusuf Ar-Rappan hijrah ke Banten yang merupakan suatu keteladanan atas pengertian dan kebijaksanaannya dalam menghadapi situasi perang saudara antara Aru Palakka dengan Sultan Hasanuddin yang dikenal (perang Paraikatte) kemudian lahirlah perjanjian Bongaya. Sebagai seorang ulama pejuang dan pejuang ulama dapat memilih jalannya sendiri yang lebih bermanfaat dan mulia. “Lebih baik mati melawan penjajah Belanda daripada mati di tangan saudara kandung sendiri” yang saat itu dilanda permusuhan yang tak henti-hentinya, tiada lain karena nafsu masing-masing ingin menunjukkan keberaniannya. Disini kita dapat mengerti bahwa kedua raja yang berseteru antara Aru Palakka dengan Sultan Hasanuddin ini mempunyai ilmu dan kemampuan yang sama, yang tidak lain didapatkan dari gurunya yaitu Syekh Yusuf Ar-Rappan – Tuanta Salamaka. Sebagai ulama pejuang dan pejuang ulama yang jarang tandingannya, karena disamping beliau sebagai seorang waliullah juga sebagai seorang pemberani, tangguh dan terpercaya. Hal ini dapat kita buktikan sewaktu beliau sudah menginjakkan kakinya di kerajaan Banten (Jawa Barat) yang dapat membawa nama harum Bugis-Makassar ke seluruh dunia, beliau dapat menghasut peperangan melawan penjajah walau dari jauh, sebagai pengembara, pelaut gagah berani mengarungi samudera lautan luas untuk memperluas wawasannya dalam membina persaudaraan, ukhuwah Islamiyah, silaturrahmi (Inninnawa mi kusappa) dalam menjalin persatuan dan kesatuan ummat untuk melawan kezaliman dan penjajah. Demikian kronologis singkat Syekh Yusuf Ar-Rappan – Tuanta Salama yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Syekh Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekh’e) dalam menelusuri jejak peta syiar Islam dan perjuangannya melawan penjajah yang pertama kali bermukim di Rappang (Boddi Mario Rappang) Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi Selatan. Kronologis Syekh Yusuf Ar-Rappan ini terbatas pada versi Bugis yang dimiliki anak cucu dan cicitnya dari daerah Bugis disebutlah Syekh Yusuf Ar-Rappan (Al-Bubisiyah) sebagai tempat awal mula kemasyurannya dengan Thariqat Khalawatiyah Yusuf, kita kenal juga gelar Al-Makassary versi Makassar asal-usul keturunannya, kemudian kita kenal Al-Bantany, ini dikenal sebagai panglima perang kerajaan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) kemudian diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan sebagai tempat pengasingan terakhir yang kemudan kita kenal tentang The Great Son of Africa (sebagai peletak dasar Islam di benua selatan itu). Maka dengan beberapa gelar inilah yang memudahkan kita mengenalinya dan memahaminya dari identitas diri yang ditinggalkannya sebagai leluhur. PHOTO WALI PITUE / EPPAE MASSUMPANG MINANGA 1. SYEKH YUSUF AR-RAPPAN 2. TUANTA RAPPANG / SYEKH BODDI 3. SOMBA OPU (RAJA GOWA) 4. SYEKH BOJO / H. MUHAMMAD ALI AL-FAKIYAH (PEKKI’E BOJO) LALEBATA RAPPANG SEBAGAI SENTRAL PENGAJARAN ISLAM DAN KONSEP RANCANGAN TRADISI/BUDAYA ISLAM DAN SEBAGAI TEMPAT MUNCULNYA WALIULLAH/WALI PITUE (WALI TUJUH DI SULAWESI SELATAN) Tuanta Rappang, Syekh Syahabuddin/Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekh’e sebagai generasi pelanjut perjuangan Syekh Yusuf Ar-Rappan penerima mahkota Khalawatiyah Yusuf sebagai murid/sahabat yang setia mendampinginya. Dalam menjalankan syiar Islam dan perjuangannya melawan penjajah (VOC) ditinggal pergi di Rappang tidak dapat dipisahkan dengan peranan Syekh Yusuf Ar-Rappan di perantauan, Tuanta Rappang dapat melanjutkan peranan Syekh Yusuf sebagai ulama pejuang dan pejuang ulama, melanjutkan syiar Islam dengan memberi pelajaran kepada murid-muridnya, menanamkan aqidah dan tauhid diantara pengikutnya di samping pelajaran ilmu lain-lainnya, seperti Thariqat, ilmu falak, serta ilmu bathin yang diberikan sebagai bekal untuk ilmu beladiri dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan, sehingga dengan cara ini telah melahirkan calon-calon waliullah/wali sebagai pelanjut nantinya, dan dapat melahirkan pejuang tangguh dalam menghadapi penjajah Belanda (VOC). Hubungannya dengan Syekh Yusuf di Banten tetap lancar, begitu pula dengan anak-anak dan istri Syekh Yusuf yaitu Fatimah binti H. Muhammad bin Ali Al Fakiyah (dari Bajo Kab. Barru) atau yang dikenal di kalangan orang Bugis yaitu Pakkie Bojo beliau dapat bertemu ayahandanya di Johor (Malaca) atau di Mekkah pada waktu musim haji. Tuanta Rappang (Syekh Boddi) sebagai pemegang mahkota Khalawatiyah Yusuf mempunyai ilmu yang tinggi sebagai waliullah/wali beliau mempunyai beberapa nama yang diberikan oleh murid-murid dan pengikutnya sebagai akal untuk mengelabui penjajah Belanda agar tidak dapat terdeteksi dalam melaksanakan perjuangannya oleh penjajah Belanda (VOC) beliau disebut juga dengan nama sebagai berikut: 1. Syekh Boddi (Wody) 2. Putta Syekh’e 3. Syekh Syahabuddin 4. Syekh Abdul Bashir 5. Tuanta Rappang Tuanta Rappang adalah murid dan sahabat Syekh Yusuf Ar-Rappan (Tuanta Salama) pengganti/ pemegang mahkota Tajul Khalawatiyah, sepeninggal Syekh Yusuf ke Banten beliau pencetus legenda Ajatamparangi kemudian yang melahirkan wilayah teritorial Ajattapparang ( Ajatamparangi ) maksudnya jangan ditegur atau jangan bicara bila melihat sesuatu atau mengalami sesuatu yang aneh-aneh (disebut sekarang mitos). Apabila beliau menunjukkan kharismanya/akhlakul karimah di depan murid-muridnya yang berdatangan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan (pedalaman Sulsel) kemudian disebut Ajattamparang. Dengan melihat kondisi budaya dan status sosial dari suku Bugis-Makassar sebelum kedatangan waliullah/wali ini, bisa kita bayangkan kehidupan masyarakatnya seperti pada zaman jahiliah. Hal ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya, sehingga masih sangat sulit untuk berubah, ialah budaya adat istiadat dan perilaku dari suku kerajaan yang ada, mudah-mudahan kita dapat menyadari keberadaannya (Lele Bulu Tellele Abiasang) yang artinya gunung bisa berpindah tempat tapi tabiat atau adat istiadat sulit berubah. Setelah Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekh’e) sudah menetap di Boddi Mario Rappang kemudian beliau membangun rumah serta penghuninya sebuah rumah di atas air, yang kemasyurannya sudah dikenal ke seluruh pelosok Sulawesi Selatan maka mulailah berdatangan murid-muridnya yang mau belajar menuntut ilmu kepada beliau, utamanya raja-raja dan keluarganya. Beliau mengajarkan ilmu Thariqat Khalawatiyah tentang haqiqat, syariat dan ma’rifat tentang keesaan Tuhan, hikmah dan rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa agar menjadi mudah melakukan dan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, kemudian berusaha keras untuk memahaminya, dalam kesemuanya ini dapat memanfaatkan seluruh anggota tubuhnya untuk berbuat kebajikan dan amal saleh. Kalau semua ini sudah didapatkan, kemudian dikembangkan melalui cara berzikir dan shalawat secara tertib Insya Allah akhirnya akan mengingat dan mengetahui rahasia makhluk Tuhan sampai kepada sekecil apapun dapat menampakkan/melihat alam ghaib dengan mata hatinya yang dapat menimbulkan qaramah (makkualli) sifat wali yang disebut Nur Muhammad kemudian dapat mengetahui sifat sosial dan budaya dari setiap raja yang mengunjunginya. Dengan ajaran yang diberikan seperti tersebut di atas Thariqat Khalawatiyah, agar dapat merubah status sosial, dan budaya buruknya menjadi baik, menjalin ukhuwah Islamiyah dan silaturrahmi kepada setiap muridnya sebagai baiat/sumpah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan secara terbuka dan menyeluruh hubungan antar sesama murid dalam satu aqidah (Islam dan iman). AJARAN KHALAWATIYAH YUSUF DALAM RANGKA PENINGKATAN KEIMANAN DAN KEISLAMAN DI LALEBATA RAPPANG Kita berawal dari pelantikan Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekh’e sebagai pengganti Syekh Yusuf Ar-Rappan yang melalui cara unik (mitos) bahwa calon pengganti Syekh Yusuf ini dapat ditentukan dengan melalui syarat, ialah dimanapun nantinya Sorban putih kepunyaan Syekh Yusuf Tajul Khalawatiyah akan berpindah ke kepala diantara murid-muridnya yang hadir dalam pelantikan tersebut, maka dialah yang akan memegang mahkota Tajul Khalawatiyah sepeninggal Syekh Yusuf ke Banten. Maka diantara sekian banyak muridnya yang hadir sorban putih tersebut berpindah ke kepala Tuanta Rappang/Syekh Syahabuddin (Boddi), Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e, maka resmilah Tuanta Rappang sebagai pemegang mahkota Khalawatiyah Yusuf sebagai pengganti Syekh Yusuf Ar-Rappan dan bertugas sebagai penguasa rumah tangga atas keluarga yang ditinggalkan pergi ke Banten. Setelah usai pelantikan Tuanta Rappang maka Syekh Yusuf meninggalkan Rappang dan murid-muridnya dengan Syekh Yusuf Ar-Rappan – Tuanta Salama, sedangkan Syekh Syahabuddin (Boddi)/Syekh Abdul Bashir/Putta Syekhe’e mendapat gelar Tuanta Rappang. Dan selanjutnya Syekh Yusuf Ar-Rappan Tuanta Salama menuju Mekkah dan selanjutnya ke Banten untuk meneruskan cita-citanya dan perjuangannya sebagai ulama pejuang dan pejuang ulama. Sepeninggal Syekh Yusuf Ar-Rappan di Sulawesi Selatan hubungan dengan Tuanta Rappang dan murid-muridnya tetap lancar begitu pula dengan anak-anak dan keluarganya yang ditinggalkan di Rappang ( SaloTenggae ) hal ini sudah dijelaskan terlebih dahulu, sehingga akhirnya diberi tanda pada suatu tempat/ makam Baqi di Rappang untuk tempat ziarah bagi murid-muridnya dan anak-anak serta keluarganya. Apabila nanti suatu saat mempunyai nazar, pesan beliau cukup di tempat itu saja. Karena beliau tidak menyetujui perjanjian Bongaya antara penjajah Belanda (VOC). MENGENAL AJARAN THARIQAT KHALAWATIYAH SYEKH YUSUF DAN TUANTA RAPPANG SEBAGAI PEMEGANG MAHKOTA KHALAWATIYAH Kita memulai tentang asal mula pemujaan Syekh Yusuf Ar-Rappan, kita harus mencari di sekitar pengikutnya yang mula-mula tiada lain adalah Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin/Boddi, Syekh Abdul Bashir, Putta Syekhe’e). Kemasyhuran Syekh Yusuf pada mulanya dikenal dimana beliau menginjakkan kakinya dan disegani dimanapun beliau berada, karena akhlakul karimahnya yang berakhlak mulia yang selalu ditunjukkannya mempunyai kharisma yang kuat sangat memberi pengaruh pada ajaran-ajarannya tentang Thariqat Khalawatiyah terutama kepada raja-raja sebagai pemberani. Thariqat Khalawatiyah yang didapatkan oleh Syekh Yusuf Ar-Rappan yang terurai secara sistematis dan terperinci baik cara-cara maupun amalannya (cara-cara pelaksanaan zikir dan etikanya) dalam mencapai tujuan rokhaniyah untuk berhubungan langsung dengan Tuhan yang Maha Kuasa tanpa pembatas, kemudian dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagiaan haqiqi itulah yang dinamakan khalawah. Ajaran Thariqat ini oleh orang Barat/orientalis barat dan komunis dianggap sebagai candu bagi masyarakat yang perlu dimusnahkan karena dapat mengganggu kehidupan masyarakat untuk selalu bekerja keras bukan untuk bersenang-senang, berdiam diri, bersemedi seperti apa yang dilakukan oleh pengikut thariqat tersebut. Hal ini dapat dimengerti sebagai suatu cara kaum non Islam/orientalis barat untuk membendung laju dan pesatnya perkembangan Islam, sebaliknya kita sesama umat Islam yang melaksanakan thariqat ini jangan sampai menyimpang dari tujuannya, tetap memelihara kemurniannya agar tidak menimbulkan perbedaan konsepsi yang dapat memecah belah persatuan ummat Islam, penyalahgunaan aliran thariqat untuk kepentingan pribadi dan golongan serta politik. Hal ini dikhawatirkan demi menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan ummat Islam dan bangsa Indonesia harus tetap bersatu padu, sebagai kewajiban kita semua untuk memeliharanya. Sebagai sumber thariqat Khalawatiyah Yusuf yang murni adalah dari cucu dan cicit keluarga besarnya masih tetap melaksanakannya secara individu saja karena sudah dibekali doa-doa dan zikir oleh leluhur kita yang tetap dirawat dan dilaksanakan hingga saat ini secara ratib/tertib bukan dengan cara rate atau maddate, ratib atau tertib yang dimaksud disini adalah sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Imamul Gazali : 1. waktu yang mulia 2. memilih keadaan/situasi 3. menghadap qiblat yang lebih etisnya 4. suara kecil/lembut 5. tidak bersikap sombong 6. khusyu, tadharru dan tawadhu 7. meluruskan maksud dengan yakin doa diterima (menjazamkan doa) 8. doa awalnya dengan membaca bismillah zikrullah) 9. tahu diri (menyesuaikan diri dengan kondisi) yang pantas Dalam pelaksanaan Thariqat Khalawatiyah Yusuf tidak dibenarkan ada perempuan (wanita) yang ikut berjamaah, kecuali tetap dilaksanakannya secara individu dan berjamaah sejenisnya dengan doa dan zikir menurut keyakinan dan kebutuhannya, ini salah satu cara dalam melestarikan dan menjaga kemurnian Thariqat Khalawatiyah Yusuf. Tuanta Rappang (Syekh Syahabuddin, Syekh Abdul Bashir/Syekh Boddi, Putta Syekhe’e) sebagai pelanjut Thariqat Khalawatiyah Yusuf yang kemudian berkembang semakin pesat, karena dapat menarik simpati raja-raja dan rakyatnya terutama dalam wilayah Ajattappareng sampai ke pedalaman dan pesisir Sulawesi. Peranan Tuanta Rappang lebih besar dan luas jangkauannya dibandingkan dengan pendahulunya, karena beliau inilah yang mengembangkan dan menyempurnakan ajaran Thariqat Khalawatiyah Yusuf menjadi suatu aqidah yang sempurna dalam melaksanakan amalan-amalan dan ibadah seperti yang kita anut sekarang ini (Ahlu sunnah wal jamaah), Tuanta Rappang adalah seorang tuna netra (buta) tetapi dapat melihat/mengetahui keadaan sekelilingnya hanya dengan mata hatinya, syarat dengan ilmu agama dan tasawuf serta mempunyai kharisma kuat dengan gelar Putta Syekhe’e Tuanta Rappang, yang menyempurnakan ajaran Thariqat (Dua Temmassarang Tellu Temmal Laiseng) atau Dua Temmal Laiseng Tellu Temmassarang. Pemahaman tentang ibadah shalat yang sesungguhnya ialah: 1. Bacaan 2. Gerakan 3. Niat (baca kedo-kedo dan niat) Niat inilah yang dikatakan sempurna sembahyangnya. Banyak lagi doa-doa dan zikir dan shalawat yang diajarkan/diletakkan oleh Tuanta Rappang yang menjadi pegangan dan panutan dari cucu dan cicitnya serta murid-muridnya hingga saat ini, yang juga merupakan suatu identitas pengenalan diri sebagai cucu dan cicit beliau. Maka dalam peningkatan pengetahuan kita tentang Thariqat yang diajarkan dalam Thariqat Khalawatiyah Yusuf tidak terbatas dalam masalah zikir dan gerakan saja dalam mencapai kepuasan dan kebahagiaan serta kenikmatan Thariqat tetapi peranan akal sehat kita jangan dikesampingkan dalam menjalani thariqat harus ditambah pengetahuan kita. Akal harus menjadi pedoman dalam mempertajam tauhid/nurul iman dan inilah yang dinamakan oleh awan sebagai Nur Muhammad yang dicarinya melalui Thariqat, karena hanya dengan tauhid, nurul iman dan nur Muhammad yang dapat menerobos keesaan Tuhan Yang Maha Kuasa serta seluruh rahmatnya di alam fana ini sampai ke dalam baqa yang kekal. Pedoman yang paling utama dan memegang peranan penting dalam hidup ini ialah amal karena dapat mempertajam Tauhid/iman dalam pengenalan diri dan Tuhan kita dan pengenalan terhadap nilai-nilai dan etika moral dari hamba kepada Tuhan kita Allah SWT sebagai berikut: 1. Allahu Rabbi (Allah Tuhanku) tiada sekutu bagiNya 2. Muhammad Nabiku, Nabi yang terakhir, tidak ada nabi sesudahnya 3. Islam agamaku 4. Ka’bah kiblatku 5. Al Qur’an imanku, bukan bentuk manusia dan lain-lainnya 6. Muslimin dan muslimat adalah saudaraku Kesemuanya itu telah didapati pada awal melalui (Thariqat), sufi/tasawuf yang kemudian berkembang menjadi suatu tatanan yang praktis dalam mengenal haqiqat, syariat dan ma’rifat yang bersumber dari diri kita untuk mengenal Tuhan (man arafa nafsahu faqad arrafa rabbahu) yang berarti barang siapa yang mengenal dirinya sendiri berarti dia pula mengenal Tuhannya, tiada lain tujuannya ialah untuk menyelamatkan ummat yang akan menjadi pengikut atau menjadi khalifah. Kongkritnya dalam perkembangan Islam sekarang ini dengan melalui tatanan yang praktis ialah pendidikan/sekolah agama atau pesantren dan perguruan tinggi Islam lainnya diajarkan ajaran agama Islam bukan tujuan utamanya untuk mencetak ulama atau kyai, akan tetapi mengutamakan buat pribadinya sebagai duta Islam dan kebenaran dalam bermasyarakat secara terbuka dan menyeluruhi, bukan terbatas pada lingkungannya saja, tetapi masuk secara Islam keseluruhan/sempurna. (Udhuluu Bissilmi Kaaffah) MENGENAI PELANTIKAN SYECH SYAHABUDDIN , ATAU YANG DIKENAL JUGA SEBAGAI SYECH BODDI, SYECH ABDUL BASYIR, TUANTA RAPPANG, PUTTA SYEKHE’E Dalam Rangka mencari Pengganti Syech Yusuf Ar- Rappan sebagai Pemegang MAHKOTA KHALAWATIYAH YUSUF (Tajul Khalawatiyah). Pengganti Syech Yusuf Ar – Rappan ini dapat ditentukan dengan melalui syarat ialah dimanapun nantinya SORBAN PUTIH kepunyaan Syech Yusuf Ar – Rappan akan berpindah ke Kepala Calon Penggantinya, Maka dialah yang akan menggatikan Syech Yusuf Ar Rapan sebagai Pemegang MAHKOTA KHALAWATIYAH YUSUF dan ternyata sorban putih tersebut pindah ke Kepala SYECH BODDI dengan cara yang unik sekali yaitu Terbang (mitos) maka resmilah Syech Syahabuddin / Syech Boddi sebagai MURSYIT , sebagai pemegang kuasa, dalam mengasuh rumah tangga atas keluarga yang ditinggalkan pergi ke Banten dalam rangka membantu perjuangan Sultan Agung Tirtayasa di Banten melawan penjajahan Belanda.Karena Banten waktu itu dalam perkembangan Ekonominya sudah sangat pesat karena sudah banyak mengunjungi Banten seperti pedagang Gujarat (Arab) dari luar Negeri termasuk Portugis dalam perdagangan rempah-rempah. Sehingga muncul perusuh-perusuh menganggu keamanan dan ketertiban Rakyat dalam Kerajaan Banten yang harus disingkirkan Peran Syech Yusuf Ar – Rappan pada saat itu sangat dibutuhkan. Sehingga Sultan AgungTirtayasa (Sultan Banten) menjadikan menantunya dan mengangkatnya sebagai panglima perang dan merupakan awal kejayaan dan keharuman nama suku Bugis – Makassar di luar daerah Sulawesi sampai beliau tertangkap Belanda di Banten dan dipenjarakan di Batavia kemudian dipindahkan ke Saylon (Colombo) karena Belanda mengkhawatirkan pengaruhnya yang sangat besar dan dapat menghasut perang walaupun dari jarak jauh untuk memutus mata rantai perjuangannya akhirnya di Asingkan ke CAFÉ TWON Afrika Selatan bersama dengan istrinya Syarifah ( Putri Sultan Ageng Tirtayasa )dan Pengikut-pengikutnya sampai akhir hayatnya dan wafat disana. Sepeninggalnya Syech Yusuf Ar-Rappan di Sulawesi Selatan, hubungan dengan sahabatnya Syech Boddi (Syech Syahabuddin, Putta Syekhe’e) tetap lancar begitu pula dengan anak-anaknya yang ditinggal di Rappang (Salo Tengngae) sampai akhir di Asingkan ke Café Twon Afrika Selatan. Hal ini sudah kami jelaskan terlebih dahulu sehingga akhirnya diberi TANDA pada suatu tempat di MAKAM BAQI RAPPANG untuk ziarah bagi murid-muridnya dan anak-anaknya bila mempunyai NAZAR, cukup di tempat itu saja (Makam BAQI). Sebagai sumber Thariqat Khalawatiyah Yusuf yang murni adalah dari cucu dan cici dan keluarga besarnya masih tetap melaksanakannya secara individu saja karena sudah dibekali doa-doa dan zikir oleh leluhur kita yang tetap dirawat dan dilaksanakan hingga saat ini secara RATIB/TERTIB bukan cara RATE atau MADDATE, RATIB atau TERTIB yang dimaksud di sini adalah seperti apa yang dijelaskan oleh IMAMUL GAZALI : 1. Waktu yang mulia 2. Memilih keadaan / situasi 3. Menghadap qiblat ang lebih etisnya 4. Suara kecil / lembut 5. Tidak bersikap sombong 6. Khusyu, tawadhu (rendah hati) 7. Meluruskan maksud dengan yakin doa diterima (menjazamkan doa) 8. Doa awalnya dengan membaca bismillah zikrullahy 9. Tahu diri (menyesuaikan diri dengan kondisi) yang pantas dan posisi yang sempurna. Dalam Thariqat Khalawatiyah Yusuf tidak dibenarkan ada perempuan yang ikut berjamaah, kecuali tetap dilaksanakannya secara individu dan berjamaah dengan sejenisnya dengan doa dan zikir menurut keyakinan dan kebutuhannya. Ini adalah salah satu cara dalam melestarikan dan menjaga kemurnian thariqat Khalawatiyah Yusuf. Dengan melalui pengajaran dan pelaksanaan Thariqat Khawalatiyah inilah ang membawa sukses Syech Yusuf Ar – Rappan dalam menyebarkan Agama Islam dan menciptakan persatuan dan kesatuan dalam wilayah teritorial dan pelosok Sulawesi Selatan dan sekitarnya. (Lihat Lontarana Ajattappareng ) Sebagai hasil evaluasi dan aktualisasi dari ajaran-ajarannya. Dalam Lontarana Ajattapareng tersusun secara Rapi mengenai Status Sosial dan Budaya dari setiap Suku Kerajaan Yang sudah menjadi Basisi Waliullah dalam Konsep Rancangan Tradisi Islam Yang di Cita citakan pada PITUE MASSENRENG PULU DAN EPPAE MASSUMPANG MINANGA 1. Pajungnge Riluwu 2. Matase’I Sanggala 3. Mangkau Ribone 4. Sombae ri Gowa 5. Datui Soppeng 6. Arung Matoai Wajo 7. Addituangngi Sidenreng 8. Bakkaloloi Sawitto 9. Oring-Koringngi Pabbiring (Pesisir Pantai) Barru – Parepare) 10. Maraddiai Tana Menre 11. Tomakakai Mamuju 1 2. Lemo Cempa Enrekang 13. Emma Towai Kajang 14 Sulewatangngi Ri Buton 15. Sampa Rajai Tana Kaili Dengan melihat bagaimana strategi pengembangan syiar Islam di pedalaman Sulawesi Selatan pada zaman penjajahan Belanda, khususnya Daerah Bugis yang kemudian disebut AJATTAPPARENG dapat dimengerti bahwa kelanjutan dan kesinambungan pengembangan syiar Islam ini lancar tanpa mendapat gangguan dari penjajah Belanda, karena penganjur-penganjur Agama Islam itu datangnya dari luar/dari pusatnya Mekkah atau Singapore, Malaysia yang dijajah oleh Inggris yang perlu mendapat perlindungan di wilayah jajahan Belanda demikian pula sebaliknya. Hal ini dapat ditemui pada generasi penerus dari syiar Islam, sepeninggal pada pendahulunya yaitu Syech Yusuf Ar – Rappan dan Syech Boddi (Syech Syahabuddin) Syech Bojo ( Pekkie Bojo ) dan SOMBA OPU ( Gowa ) anak-anak dan cucu Syech Yusuf Ar – Rappan bermukim di luar Indoinesia yang dijajah oleh Belanda, sehingga dapat leluasa masuk keluar Indonesia tanpa mendapat halangan / gangguan dan kesulitan dari penjajah Belanda. dengan kondisi Budaya dan Status Sosial dari Suku Bugis – Makassar sebelum kedatangan Waliullah ini bisa dibayangkan masyarakatnya pada waktu itu seperti pada zaman jahiliah saja. Hal ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya, sehingga yang masih sangat sulit untuk berubah ialah budaya adat istiadat dan perilaku dari suku kerajaan yang ada, mudah-mudahan dapat disadari keberadaannya ( Lele Bulu Tellele Abiasang ) artinya gunung bisa berpindah tetapi tabiat atau adat istiadat sulit berubah. Syech Yusuf Ar Rappan berasal dari Gowa Makassar sejak kecil sampai dewasa menuntut ilmu agama Islam di Mekkah bersama-sama dengan gurunya Imam Masjidil Haram yang kawin dengan orang bugis dari Bojo Kabupaten Barru dan mempunyai Putra bernama H. Muhammad Ali Al-Fakiyah yang tinggal di Bojo Barru atau sering disebut Syech Bojo ( Pekki’e Bojo ) Syech Yusuf Ar – Rappan meninggalkan tanah haram Mekkah menuju JEDDAH dan kembali ke Gowa Makassar). Melalui pulau Saylon Colombo Syech Yusuf Ar – Rappan meninggalkan tanah yang penuh arti bagi kehidupannya di masa depan menjadi Sufi besar di Mekkah, Syech Yusuf Ar – Rappan kembali ke tanah kelahirannya Gowa dan bertemu sanak keluarganya di lingkungan Kerajaan Gowa. Setelah bertemu dengan sanak keluarganya di Gowa sejalan dengan berjalannya waktu beliau menemui sahabatnya dan anak dari gurunya di Mekkah yaitu Syech Bojo (Pekki’E Bojo) dan sahabatnya Syech Boddi (Syech Syahabuddin, Tuanta Rappang, Putta Syekhe’e ), kemudian Syech Yusuf Ar – Rappan menikahi Sitti Fatimah Binti H. Muhammad Ali Binti Ali Al-Fakiyah putrinya Syech Bojo / Pekki’e Bojo dan kemudian dikaruniai 3 orang putera dan 1 orang puteri yaitu : 1. Syech Samauna 2. Syech Bunyamin (Bonna) 3. Syech Lammade (Ahmad) 4. I Cenning Lihat Silsilah Syech Yusuf Ar-Rappan yang dimiliki keturunannya di Rappang yang ditulis dalam Stambon / Lontara yang ditulis oleh cucunya yaitu Syech Jamal Padaelo Binti Aisyah Binti Syech Lammade ( Ahmad ) Bin Syech Yusuf Ar-Rappan ) Setelah melakukan Syiar Islam Syech Yusuf Ar – Rappan dan putra putrinya menetap di Rappang bersama sahabatnya Syech Boddi / Syech Syahabuddin, Syech Abdul Basyir, Tuanta Rappang, Putta Syekhe’e dan berhubungan pula dengan mertuanya yaitu: SYECH BOJO / PEKKI’E BOJO ( H. MUHAMMAD ALI AL-FAKIYAH ). ( lihat : SILSILAH KETURUNAN / KELUARGA SYECH YUSUF AR – RAPPAN ) Dalam rangka mengatur siasat dan strategi penyiaran agama Islam melalui ajaran Syech Yusuf dengan ajaran Thariqat Khalawatiyah Yusuf secara bersama-sama atas kemunculan Waliullah yang pertama ini sungguh sangat unik pada suatu hari Jum’at subuh menjelang sholat subuh, menurut cerita leluhur kami secara turun temurun dari asal muasal datangnya nenek moyang kami di Rappang (Syech Yusuf Red). Pada saat jemaah sholat subuh menjelang sholat subuh di sebuah langgar milik Syech Boddi (Syech Syahabuddin) beliau menunjukkan kharismanya yang kuat disertai Akhlakul Kharimah sehingga beliau ini dianggap orang yang datang timbul/muncul (Tau’Tompo) sebuah kejadian yang dialami oleh beliau yang aneh-aneh atau tidak dialami oleh beliau yang aneh-aneh atau tidak masuk akal yang beliau tunjukkan jati dirinya sebagai Waliullah/Wali, tidak seperti lazimnya manusia biasa, penulis tidak terangkan satu persatu secara mendetail karena dikhawatirkan kita bisa berdosa (tahayul menurut orang di masa sekarang). Akhirnya kejadian ini dilaporkan oleh masyarakat kepada Raja / Arung Rappang yaitu Puang Laiccu Nene’na Tau Rappangnge dan Latenrilawa Bongkang Raja Rappang yang pertama dan akhirnya Syech Yusuf dan Syech Boddi menghadap raja dan bertabliq di depan raja dan rakyatnya maksud dan tujuan kedatangannya yang pertama ke Lalebata Rappang dengan selesainya bertabliq Raja / Arung Rappang bertanya kepada Syech Boddi Raja menanyakan tentang perkenalan Syech Boddi dengan Syech Yusuf dan Syech Boddi menjawab pertanyaan Raja bahwa Syech Boddi mengenal Syech Yusuf seperti yang dicontohkannya bahwa Syech Boddi mengenal Syech Yusuf Ar – Rappan seperti ada 2 orang anak yang sedang mengambil air di luar benteng Kerajaan Arung Rappang ini dan seumur seperti itulah Syech Boddi mengenal Syech Yusuf dan Rajapun terheran-heran atas pengetahuan Syech Boddi di luar Benteng Raja Rappang Sedangkan kondisi fisik Syech Boddi dalam keadaan Buta kedua matanya. Namun dapat melihat dengan mata bhatinnya yang dapat menembus benteng kerajaan di luar sana.Dengan kharisma yang sangat kuat dan akhlakul kharimahnya yang ditunjukkan di depan raja dan rakyatnya, maka raja dan rakyatnyapun langsung bersujud di depan kedua Waliullah / Wali ini sebagai penghormatan untuk kedua Waliullah ini dimana kedatangannya di Lalebata Rappang tiada lain ialah hanya membawa amanah dari Allah SWT semata. Untuk mempererat hubungan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah dalam memperkokoh persatuan antar Ummat Islam dan suku Bugis dan Makassar sekaligus mengembangkan syiar Islam dan meningkatkan keimanan dan keislaman dan menghilangkan rasa saling bermusuhan antara sesama ummat, kemudian beliau mengakhiri tabliqhnya dan berencana kembali ke asal kedatangannya (Mekkah) dan akan shalat Jum’at ari ini juga di Mekkah yang membuat Raja dan Rakyatnya semakin terheran-heran dan disini ada kejadian yang sangat sarat dengan mitos yaitu : Atas perintah raja kepada Syech Yusuf Ar – Rappan, Sebagai bentuk pengujian diri atas Akhlakul Kharimahnya sebagai bentuk pengujian kharismanya, maka Raja berpesan kepada beliau sebelum berangkat ke Mekkah untuk sholat Jum’at di Mekkah untuk pembuktian kepada Raja dan Rakyatnya. Agar Syech Yusuf membawakan kelambu KA’BAH untuk dibuktikan di depan Raja karena menurut mitos kelambu ka’bah itu tidak termakan (terbakar) oleh api dan kejadian itupun dipenuhi oleh Syech Yusuf setelah sembahyang Jum’at di Mekkah, Maka Syech Yusuf menghadap raja kembali dan menunjukkan kharismanya dan akhirnya kelambu Ka’bah tersebut dibakar api dan ternyata sedikitpun cacat dan tergores atau hangus di makan api tidak terjadi dan akhirnya raja dan rakyatnyapun bersujud di depan kedua Waliullah / Wali ini (Syech Yusuf dan Syech Boddi) yang membuat raja dan rakyatnya semakin heran bahwa beliau ini bukanlah orang sembarangan melainkan seorang wali yang patut diberi tempat di hati Raja dan Rakyat (Kedudukan yang Mulia).Setelah Syech Yusuf akhirnya meninggalkan tanah Bugis – Makassar kemudian Syiar Islam dan perjuangannya di Rappang dilanjutkan oleh sahabatnya dan pengikut-pengikutnya Syech Boddi/Syech Syahabuddin (Syech Abdul Basyir, Tuanta Rappang, Putta Syekhe’e) dan bersama mertuanya Syech Yusuf yaitu Syech Bojo (Pekki’E Bojo) sejalan dengan berjalannya waktu dan Syech Boddilah yang dipercayakan untuk mengajar dan mengasuh anak-anak Syech Yusuf Al Bugisiyah-Ar Rapan sepeninggal Syech Yusuf di Rappang untuk kembali ke Mekkah yang kedua kalinya dan setelah putra-putri Syech Yusuf beranjak dewasa dan telah menikah maka putra-putri Syech Yusuf ini berangkat ke Mekkah menyusul Ayahandanya. Untuk menuntut / memperdalami ilmu Islamnya di sana sekaligus mengurusi Jemaah Haji di sana yang datang dari penjuru dunia putra Syech Yusuf Ar – Rappan yaitu Syech Lammade (Ahmad) kemudian menetap di Mekkah bersama istrinya Rajalija ( Putri Raja dari Kabupaten Wajo ) sedangkan Syech Bunyamin ( Bonna ) kembali ke tanah Bugis ( Toddang ) melanjutkan Thariqat Tajul Khalawatiyah Yusuf di tanah Bugis – Makassar. Setelah Syech Boddi / Syech Syahabuddin ditinggalkan oleh Syech Yusuf Ar-Rappan dan menetap di Desa Boddi – Mario Rappang dan membuat rumah di atas air. Syech Boddi dan Syech Bojo selanjutnya membuat strategi dan posisi untuk mengembangkan syiar Islam dalam menciptakan dan menjaga persatuan antar ummat dan pada saat itu pulalah awal mula munculnya Wali di Rappang Sulawesi Selatan (Lihat Lontarana Ajattapareng ) Pada Pitue Massenrengpulu dan Eppae Massumpang Minanga untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan sebagai berkat dari pancaran sinar Aqidah Islam yang ditanamkannya. Setelah rencana dan strategi Syiar Islam telah berjalan dan Strategi syiar Islam telah berjalan dengan baik, maka anak-anak dan istrinya sudah mulai dikembalikan/dibawah kembali dari Mekkah menuju tanah bugis (toddang) di sini nampak strategi Syech Yusuf Ar-Rappan dalam penempatan/tempat bermukim istrinya dan anak-anaknya sebagai berikut : 1. Syech Samauna bermukim di Johor dan Singapore yang mempunyai bukti sejarah berupa peninggalan kebon karet dan masjid Samauna yang terletak di Java Road Singapore Wafat di Rappang. 2. Syech Bunyamin (Bonna) bermukim di Singapore kemudian ke Rappang dan Wafat Rappang. 3. Syech Lammade (Ahmad) langsung menetap di Rappang bersama Syech Boddi kemudian kembali ke Mekkah dan menetrap di Mekkah kemudian wafat di Mekkah. 4. I Cenning putrinya bermukim di Singapore bersama ibunya setelah Fatimah mengantarkan anak-anaknya ke Mekkah setelah dewasa untuk menuntut ilmu di Mekkah. Kemudian Fatimah bermukim di Singapore bersama-sama putra-putrinya. Kemudian Ke Rappang bergabung kembali dengan Syech Boddi Dan I Cenning kawin dengan H. BUKHARI DG. PARANI dari Gowa Makassar kemudian kembali ke Singaporemenjelang akhir hayatnya kembali ke Rappang dan anak-anak dan cucu dan cicitnya, bertebaran di Johor dan Singapore kemudian wafat di Rappang. Kita melihat bahwa Singapore adalah tempat transitnya keluarga dan keturunan Syech Yusuf sebelum masuk kembali ke Tanah Bugis ( Toddang ) Setelah Syech Yusuf Ar Rappan mengatur siasat dan strategi syiar Islam dan perjuangannya melawan penjajahan Belanda jilid kedua (sekembalinya Syech Yusuf dari Mekkah yang kedua kalinya ) Hijrah ke Banten membantu Sultan Agung Tirtayasa ( Sultan Banten ) berjuang melawan Belanda namun hubungan dengan anak-anaknya yang pertama dan kedua dari Siti Fatimah ialah Syech Samauna dan Syech Bunyamin yang lebih dahulu bermukim di Johor dan Singapura tetap lancar dengan pertemuannya dan sering dilakukan di Mekkah pada musim Haji. Untuk mengevaluasi tentang perkembangan yang terjadi dan kondisi Thariqat Khalawatiyahnya dan setelah diangkat menjadi panglima perang di Kerajaan Banten ( Sultan Agung Tirtayasa ) dan hanya sampai disinilah waktu beliau bermukim di Banten dapat keluarga dan anak-anaknya serta murid-muridnya / pengikutnya yang tinggal di Rappang dapat memonitor keberadaannya. Adapun sewaktu beliau ditangkap oleh Belanda / Penjajah hanya diketahui dari sejarah oleh keluarga besarnya di Rappang dianggap telah hilang entah kemana dengan penuh keyakinan dari para pengikut dan murid-muridnya beserta anak-anaknya bahwa Syech Yusuf Ar Rappan tidak akan menghembuskan napasnya diperantauan orang, kecuali sampai ke kampung halamannya / negerinya sendiri (Wuju Ribola) seperti ilmu yang diajarkan oleh beliau semuanya itu adalah kehendak dan rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian thariqat Khalawityah Yusuf dilanjutkan oleh anaknya di Johor dan Singapura serta Ceylon / Colombo yang kondisinya masih tetap utuh dan murni, karena belum di jamah oleh orang luar dan keluarga serta murid-muridnya yang setia Adapun kemurnian dari thariqat Khalawatiyah Yusuf nilai dari beberapa faktor dan ketentuan-ketentuannya sebagai berikut 1. Secara terbuka dan menyeluruh untuk menciptakan ketertiban dan kedisiplinan dalam diri masing-masing, dapat dilaksanakan secara individu dan berjamaah. 3. Dilaksanakan dengan suara yang agak lembut bukan dengan suara keras-keras karena yang dituntut dari thariqat ini ialah kesucian lahir dan bhatin/pengetahuan dan amalan yang sempurna untuk Allah SWT (Tellu Temmallaiseng dua temmassarang). Dalam Theologi Syariah disebut Sembahyang yaitu, Niat, Gerakan dan Bacaan (niat, kedo, sibawa baca) niat itulah yang dikatakan sembah yang / sholat yang diiringi dengan syariatnya bacaan dan gerakan maka sempurnalah namanya sembahyang) Pedoman yang paling utama dan memegang peranan penting dalam hidup ini ialah amal karena dapat mempertajam Tauhid / Iman dalam pengenalan terhadap nilai-nilai dan etika dari hamba kepada Tuhannya sebagai berikut: 1. Allahu Rabbi ( Allah Tuhanku tiada sekutu baginya ) 2. Muhammad Nabiku, nabi yang terakhir tidak ada Nabi sesudahnya lagi. 3. Islam agamaku 4. Ka’bah kiblatku 5. Al-Qur’an Imanku bukan bentuk manusia dan lain-lainnya. 6. Muslim dan Muslimat adalah saudaraku. Kesemuanya itu telah didapati pada awalnya. Melalui thariqat, tasauf / Sufi, yang kemudian berkembang menjadi suatu tatanan yang praktis dalam mengenal thariqat, syariat dan ma’rifat yang bersumber dari diri sendiri, seseorang untuk mengenal Tuhan (MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD ARRAFA RABBAHU ) barang siapa yang mengenal dirinya sendiri berarti pula mengenal Tuhannya, tiada lain tujuannya adalah untuk menyelamatkan ummat di dunia dan akhirat bukan untuk mencetak ummat yang akan menjadi pengikut atau menjadi khafilah. Maka peningkatan pengetahuan kita tentang thariqat yang diajarkan dalam thariqat Khalawatiyah Yusuf tidak terbatas dalam masalah zikir dan gerakan saja dalam mencapai kepuasan dan kebahagiaan serta kenikmatan thariqat, tetapi peranan akal sehat itu jangan dikesampingkan dalam menjalani thariqat harus ditambah pengetahuan kita, akal menjadi pedoman dalam mempertajam tauhid (Nurul iman dan inilah yang dinamakan oleh awam sebagai Nur Muhammad yang dicarinya melalui thariqat karena hanya dengan tauhid nurul iman dan nurul muhammadlah yang dapat menerobos ke Esaan Tuhan Yang Maha Kuasa serta seluruh Rahmatnya di alam fana ini sampai ke alam Baqa yang kekal. Konkritnya dalam perkembangan Islam sekarang dengan melalui tatanan yang praktis ialah pendidikan / sekolah agama atau pesantren dan perguruan Tinggi Islam lainnya, dalam ajaran Islam bukan tujuan utamanya bukan untuk mencetak ulama / kyai, akan tetapi mengutamakan buat dirinya secara pribadi sebagai duta Islam dan kebenaran dalam bermasyarakat secara terbuka dan menyeluruh dan terbatas pada lingkungannya saja. Masuk dalam Islam secara keseluruhan / sempurna ( Udhuluu Bissilmi Kaaf PEMAHAMAN ISLAM DAN KEIMANAN BAGAIMANA SYECH YUSUF AR-RAPPAN MENGANTARKAN KITA UNTUK MENDAPATKAN RIDHA ALLAH Syech Yusuf Ar-Rappan dengan gelar Tuanta Salama, Al Makassari, Al-Bantani Sufi,Cendekiawan dan Pahlawan Nasional. Dengan ilmu Haqiqah, Ilmu Syariah,dan Ilmu Thariqah Syech Yusuf bersama Syech Boddi, Syech Bojo yang meletakkan ilmu yang mengajarkan / membimbing kita tentang perilaku kebaikan, sifat-sifat kebaikan sebagai awal membuang sifat yang jelek seperti, syirik, dengki, hasut, sombong, angkuh dan lain-lain dengan mengisinya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji kemudian diletakkan pula ilmu syariah, ( sholat, ibadah ) sebagai ilmu yang mengajarkan kita tentang tata cara berkenaan dengan sholat dan rukun Islam sebagai dasar / fundamental dan ilmu thariqah/thariqat dimana ilmu ini yang mengajarkan kita tentang Ma’rifatullah sebagai suatu syarat untuk mendapatkan suatu ke khususan (konsentrasi) dalam pelaksanaan sholat dan memperdalam AQIDAH atau ilmu TAUHID tentang iman dan Islam. Dalam pelaksanaan Thariqat ini harus dipenuhi melalui syarat harus mempunyai ilmu HAQIQAH dan ilmu Syariat untuk menjaga / menjamin jangan sampai kita

    Comment by AS Rizal MHD | July 16, 2013 | Reply

    • salam melihat dari kejelasan di atas bahwa anak 2 syekh yusuf dg fatimah putri syekh bojo yg kawin di jeddah…menjadi jelas..tetapi istri2 syekh yusuf semuanya ada 7 yang sempat kami liat.salah satunya di makassar,org bugis di jeddah,putri imam syafei imam tanah haram masa itu,putri raja jawa,putri imam banten,putri sultan tirtayasa,…berhubung saya masih kturunan syekh yusuf al makkassari …st.habibah bin syekh muhammad maulana petta pabbicara butta gowa dgn istri datu rappeng BIN syekh yusuf al makkassari dg istri Menurut lontara katanya anak dari sultan ageng tirtayasa ..wallahu alam sedangkan st habibah adalah istri dari arung pone LA TOMASSONGEN…mohon pencerahannya ..sy orang barru dan istri orang rappang dan bermikin di jl a.p.pettarani belakang smp 2 rappang.

      Comment by saifuddin | January 30, 2014 | Reply

      • Alhamdulillah..Al-Fatihah untuk Alayarham SYEIKH YUSUF AL-MAQASSARI…Saya juga keturunan SYEIKH YUSUF yang sangat Merindui Alayarham.Saya pernah Ke Ferue atau bahasa Bugis Kota Pare-Pare. Saya terlalu bangga kerana asal keturunan Ilmuan Islam yg menegakkan Agama Islam.Kalau boleh suatu hari nanti bolehla kita menetapkan waktu untuk menziarahi Makam

        Comment by Maslan Sah | February 4, 2014

  6. Dimana makamnya sheh sahabuddin,,apakahmyang di dea aro di gowa?

    Comment by Sudar ta | August 14, 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: