Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

IBN SINA

A. Sejarah hidup

Abu ‘Ali al-Husayn Ibn Abd-Allah Ibn Sîna–yang digelari al-Syaikh al-Ra´îs dan dikenal dengan Ibn Sîna atau Avicenna saja –adalah seorang Persia. Ia dilahirkan pada Safar tahun 370 H/ Agustus 980 M di Afsyanat, salah satu desa di Bukhara di dekat Kharmaitsan. Ayahnya, bernama Abdullah yang menikah dengan wanita setempat bernama Sitârah, berasal dari Balkh dan pindah ke propinsi Bukhara pada saat Ibn Sîna berusia lima tahun di Masa Nûh Ibn Mansûr (366-387 H.) . Ibn Sîna mempunyai dua saudara bernama ‘Alî dan Mahmûd.

Ibn Sîna tumbuh di dalam keluarga kaya dan terpandang karena ayahnya menjadi wali di Afsyanat sebelum kemudian hijrah ke Bukhara. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga penganut aliran Syiah Isma’iliyah. Ayah dan saudara-saudaranya adalah penganut sekte ini. Namun demikian Ibn Sîna tidak menganut paham ini. Karena –sungguhpun ia diajari doktrin-doktrin sekte ini– ia kemudian menemukan kekurangan intelektual ajaran dan doktrin sekte tersebut. Ia juga hidup di dalam sebuah lingkungan bilingual (dua bahasa). ‘Bahasa ibu’-nya adalah bahasa Persia sedang bahasa pendidikannya adalah bahasa Arab.

Di Bukhara, Ibn Sîna mulai menerima pendidikan. Oleh ayahnya, ia diberi pelajaran privat dengan memanggil seorang tutor ke rumahnya. Tampaknya pendidikan yang disediakan untuk Ibn Sîna oleh ayahnya berskala sangat luas, mencakup kajian kegagamaan Islam dan mata kajian sekuler dari Arab, Yunani, dan tradisi India. Ia memulai pendidikannya dengan belajar menghafal al-Qur’an dan sastra dan bahasa Arab, termasuk dasar-dasar keagamaan lainnya seperti fiqh. Ia mempelajari fiqh kepada Abu Muhammad Isma’îl ibn al-Husainî al-zâhid. Diperkirakan, Ibn Sîna telah merampungkan pelajaran bahasa, sastra dan dasar-dasar keagamaan sebelum usia sepuluh tahun.

Continue reading

Advertisements

February 27, 2008 Posted by | Ibn Sina, Kisah Sufi | Leave a comment