Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Minta Pelajaaran Dari Pembantu Guru

Imam Hambali dengan segera menemui Imam Syafei begitu beliau mendengar Gurunya tsb berkunjung ke Bagdad kota tempat beliau tinggal. Lalu beliau mohon kepada Imam Syafei agar sudi memberikan waktu untuk beliau bisa menambah ilmu dari Sang Guru (Hal ini merupakan tradisi jaman dulu yg sangat elegan, meskipun sdh begitu tingginya ilmu Sang Murid, tetapi masih selalu menghormati gurunya dan tetap minta diberi pelajaran).

Imam Syafei berkata: “Hai Hambali, sebaiknya kamu minta pelajaran dulu dari pembantuku ini (seorang penggembala kambing) sebelum minta pelajaran kepadaku”. Beliau mencoba menawar agar dapat belajar langsung dari Sang Guru, namun Sang Guru mengulangi perkataannya. Sebagai seorang murid yg taat pada gurunya dia menuruti perintah Sang Guru meskipun ada yg mengganjal dihatinya. Apa sih hebatnya pembantu yg tukang angon ini, shg aku disuruh belajar dari dia??

Untuk mengetahui kedalaman ilmu Pembantu ini, Imam Hambalipun bertanya: “Wahai sdr, apa pendapatmu tentang seseorang yg lupa pada saat shalat sehingga meninggalkan satu rakaat dan terus salam?” Sang Pembantu menjawab: “Apakah aku akan menjawab menurut pendapatmu atau pendapatku?”

Imam Hambali terkejut mendengar jawaban ini, bagamana mungkin seorang Pembantu bisa menawarkan pilihan jawaban, yg biasanya hanya dimiliki oleh org yg berilmu tinggi.. Lalu beliau berkata: “Jawablah menurut pendapatku dan pendapatmu”.

Sang Pembantupun menjawab: “Baiklah, kalau menurut pendapatmu (maksudnya Imam Hambali), apabila lupanya belum lama (kira-kira selama 2 rakaat), maka org itu hanya perlu menambahkan satu rakaat yg ketinggalan tsb lalu sujud syahwi, tetapi kalau sdh cukup lama baru teringat, maka org tsb wajib mengulang shalatnya lalu sujut syahwi”

Imam Hambali terkejut koq orang ini tahu pendapatku..yang ternyata betul sekali karena tuntunannya memang demikian kata beliau dalam hati….

“Nah kalau menurut pendapatku… apabila aku yg melakukan kesalahan tadi, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti pendapatmu itu, tapi aku juga akan melakukan puasa satu tahun lamanya sebagai tebusan atas kesalahanku pada Tuhanku, karena aku merasa sangat takut dan malu telah lupa pada Nya  dan memikirkan hal lain di dalam shalatku”

Imam Hambali terperanjat dan terpana mendengar jawaban Sang Pembantu tadi.. Sekarang aku baru tahu betapa tingginya derajat orang ini, betapa luar biasa kuatnya rasa takut dan rasa malu orang ini kepada Tuhannya…meskipun dia hanya seorang pembantu dan penggembala kambing, yang dimata orang lain mungkin dianggap rendah..pantas Sang Guru menyuruh aku untuk menimba ilmu darinya…kata Imam Hambali dalam hati…

Advertisements

July 11, 2011 Posted by | Imam Al-Shafi’i, Imam Hambali | 4 Comments

Keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal

Semua ulama telah mengambil rukhshah. Menghadapi fitnah dan siksaan yang ditimpakan oleh khalifah di antara para ulama ada yang memilih menyembunyikan keyakinannya dan menampakkan kekafiran secara terang-terangan. Ada juga yang menampakkan kekafiran secara tawriyah, tidak terang-terangan. Saat ditanya apakah al-Qur`an itu makhluk ataukah kalamullah mereka menjawab, “Allah menurunkan empat kitab suci. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud.” Mereka menjawab ini sambil menunjuk jari telunjuk. “Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.” Lanjut mereka sambil menambahkan jari tengah atas jari telunjuk memberi isyarat dua. “Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa.” Mereka pun menambahkan jari manis mengisyaratkan jumlah tiga. “Dan al-Qur`an diturunkan kepada Nabi Muhammad.” Mereka menambahkan jari kelingking memberi isyarat empat. Lalu mereka berkata,”Satu, dua, tiga, empat ini adalah makhluk.” Jawab mereka sambil menunjukkan keempat jarinya. Mereka memaksudkan yang makhluk adalah keempat jarinya, meskipun yang mendengamya mengira mereka mengakui bahwa al-Qur`an dan kitab-kitab Allah yang lain adalah makhluk. Itulah tawriyah.

Tinggal Imam Ahmad bin Hanbal yang bertahan. Tak ayal lagi beliau diseret dan dimasukkan ke dalam penjara sambil menunggu persidangan. Di dalam penjara Imam Ahmad didatangi oleh sahabat-sahabat dan murid-muridnya. Mereka semua mengharap supaya Imam Ahmad mengambil rukhshah sehingga bisa meneruskan kajian di masjid seperti biasanya. Mereka membawakan ayat dan hadits-hadits yang membolehkan seorang muslim mengambil rukhshah, boleh mengucapkan kata-kata kufur asalkan hatinya tetap berada di dalam iman di saat nyawanya terancam.

Setelah semua orang menyajikan argumen masing-masing, giliran Imam Ahmad menjawab. “Bagaimana dengan hadits Khabbab? ” Semua terdiam membisu. Sebab semua tahu yang dimaksud oleh sang Imam. Hadits Khabbab itu berbunyi: Dari Khabbab bin al-Arat ia berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam saat beliau menjadikan kain selimut beliau sebagai bantal di sisi ka’bah. Kami katakan kepada beliau, ‘Mengapa engkau tidak memintakan pertolongan (kepada Allah) bagi kami? Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?’ Beliau menjawab, ‘Di antara umat sebelum kalian ada seseorang yang digalikan lubang untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalamnya, diambillah sebilah gergaji, dan kepalanya pun digergaji di bagian tengahnya. Namun hal itu tidak menyurutkannya dari memegang agamanya kuat-kuat. Lalu diambillah sisir dari besi dan disisirkan pada kepalanya sehingga kulitnya terkelupas dan tampaklah tengkorak kepalanya. Namun hal itu pun tidak membuatnya bergeser dari agamanya. Demi Allah, bersabarlah, kalian, karena Allah akan menyempurnakan agama ini sampai ada orang yang berjalan dari Shan’a menuju Hadramaut, ia tidak takut akan sesuatu pun selain Allah atau serigala yang hendak menerkam kambing-kambingnya. Sungguh, kalian tertalu tergesa-gesa.”‘

Hadits Khabbab yang dimaksud memuat kisah keteguhan segelintir orang yang disiksa karena mempertahankan agamanya. Dan tampaknya sang Imam hendak meneladani orang yang dikisahkan oleh Rasulullah dalam hadits itu. Maka, orang-orang pun pulang dengan tangan kosong. Mereka tinggal menunggu hari eksekusi yang relah ditetapkan.

Hari itu datang. Khalifah telah mengumpulkan orang-orang di halaman istananya. Untuk ‘acara’ eksekusi itu disiapkan tempat khusus sehingga khalayak yang hadir dapat menyaksikan apa yang akan terjadi pada sang Imam.

Di dalam istana, Imam Ahmad yang dibawa menuju tempat khusus yang telah disediakan sempat ditemui oleh salah seorang murid beliau, Imam al-Marwaziy. “Wahai Ustadz, Allah telah berfirrnan, ‘Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri!'(QS. an-Nisa’: 29)

“Wahai Marwaziy, tengoklah keluar! Apa yang kamu lihat?” jawab Imam Ahmad.

Imam al-Marwaziy menuturkan, ‘Aku lihat lautan manusia. Hanya Allah yang tahu jumlahnya. Mereka semua membawa lembaran kertas dan pena. Mereka siap menulis apa saja yang akan didengar keluar dari lisan sang Imam.”

“Bagaimana menurutmu Marwaziy, haruskan aku menyesatkan mereka semua? Atau tidak mengapa satu nyawa melayang hari ini asalkan mereka semua tidak tersesat? Bagaimana?” tanya sang Imam retoris.

Imam al-Marwaziy memandang dari kejauhan saat Imam Ahmad ditanya pendapatnya tentang al-Qur’an: apakah ia makhluk ataukah kalamullah.

Semua yang hadir terdiam membisu menunggu jawaban sang imam. Mereka telah siap dengan kertas dan pena masing-masing. Dan mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendengar jawaban sang Imam. Dengan tegas dan lantang Imam Ahmad menjawab, “Al-Qur’ an adalah kalamullah!”

Ribuan pena menggores kertas mencatat fatwa sang Imam yang teguh berpijak di atas sunnah seiring cambukan pertama yang dilakukan oleh algojo khalifah mendera tubuh Imam Ahmad yang lemah. Dalam pandangan Imam Ahmad siksa yang menderanya belum ada apa-apanya dibandingkan siksaan yang dialami oleh lelaki yang disebut Nabi dalam hadits Khabbab. Imam al-Marwaziy hanya bisa diam dan berdoa kepada Allah saat menyaksikan tubuh lemah sang Imam dicambuk tak kurang dari 40 kali oleh para algojo yang bergantian melakukannya. Sampai tubuh lemah itu terkulai pingsan tanpa daya.

April 20, 2011 Posted by | Imam Hambali | 3 Comments

Imam Hambali & Tukang Roti

Pada salah satu perjalanan Imam Hambali, di sebuah kota. Saking lelahnya, sang Imam beristirahat di masjid. Belum juga beristirahat, tiba-tiba sang merbot masjid itu mengusir Imam Hambali. Sang Imam hanya terdiam dan berjalan keluar masjid. Beliau lalu duduk di teras masjid, namun lagi-lagi sang merbot, yang tidak mengenal sang Imam, datang dan mengusirnya, bahkan menarik kaki sang Imam hingga ke seberang masjid. Sang Imam hanya menangis, dan persis di depannya, seorang tukang roti yang sedang sibuk membuat adonan rotinya mempersilakan sang Imam beristirahat di tokonya.

Selanjutnya, Imam Hambali memperhatikan si tukang roti itu. Hal yang berkesan darinya adalah setiap kali menggiling setiap kali itu pula tukang roti itu berdzikir mengucap asma ALLOH SWT “..SUBHANALLOH.. WALHAMDULILLAH.. ALLOHU AKBAR..”

Terbit tanya dari sang Imam kepada si tukang roti, “berapa lama engkau melakukan itu?”

“sudah 10 tahun saya melakukan ini, hei orang asing” jawabnya.

“lalu apa yang kau dapatkan dari hal itu?” lanjut sang Imam.

Kemudian tukang roti ini menjelaskan bahwa selama 10 tahun itulah semua keinginannya selalu dipenuhi oleh ALLOH SWT, namun ada satu keinginannya yang sampai saat ini belum terpenuhi.

“apakah itu?” tanya Imam Hambali.

“hingga saat ini, saya berkeinginan dipanjangkan umur saya supaya bisa bertemu dengan Imam Hambali..” jawabnya.

SUBHANALLOH.. ternyata ALLOH sungguh memuliakan tukang roti tersebut, tidak hanya sekedar bertemu, ALLOH SWT menarik kaki sang Imam untuk singgah di tokonya.. SUBHANALLOH..

Pesan kisah ini adalah untuk selalu mengingat dan memuja ALLOH SWT, dan barangsiapa tidak pernah melepas dzikirnya, Insya ALLOH, kemuliaan selalu didapatnya, amin

January 3, 2011 Posted by | Imam Hambali | 5 Comments

Imam Hambali Dengan Cubaan Dunia

Setelah bertahun-tahun duduk di dalam penjara, akhirnya Imam Hambali dibebaskan ketika usianya sudah tua. Beliau di penjara semenjak zaman Khalifah Al-Makmum sampai pada masa Khalifah Al-Mu’tashim dan di teruskan pula pada masa Khalifah Al-Wathiq kerana mempertahankan pendiriannya bahawa Al-Quran itu bukan makhluk. Hanya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, kerajaan dengan rasminya menyokong kebenaran yang dipertahankan oleh Imam Hambali. Dengan demikian Imam Hambali dibebaskan dari penjara dengan penuh penghormatan.

Sebaik saja dibebaskan dari hukuman penjara, beliau berasa dirinya dihadapkan pada ujian dan cubaan yang kedua. Hal ini bermula apabila beliau dibawa ke istana untuk diberi penghormatan sempena pembebasnya. Khalifah sangat suka dan hormat kepada Imam. Khalifah memberinya hadiah sebuah baju yang sangat bagus dan dipakaikannya sekali oleh baginda. Maka mulalah beliau berasa bahawa hadiah dan penghormatan pada dirinya itu sebagai cubaan dan fitnah secara halus.

Kata beliau:” Saya telah selamat dari bahaya mereka selama ini, tetapi apabila ajal saya sudah hampir datang seperti sekarang ini, saya diuji oleh mereka dengan harta benda dan dunia mereka.”

 

Continue reading

March 10, 2008 Posted by | Imam Hambali, Kisah Sufi | 2 Comments