Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Sayyid Amir Al-Kulal

Sayyid Amir al-Kulal dilahirkan di desa Sukhar, dua mil dari Bukhara (sekarang di wilayah Negara Uzbeskistan, peny.). Keluarganya adalah Sayyid, keturunan dari Rasul Allah Muhammad SallAllahu’alayhi wasallam. Ibunya berkata, “Ketika Aku mengandungnya, setiap kali tanganku ingin mengambil makanan yang meragukan, Aku tidak bisa memasukkannya ke dalam mulutku. Hal ini sering kali terjadi. Aku tahu bahwa bayi yang berada di rahimku adalah seseorang yang istimewa. Oleh sebab itu, Aku sangat berhati-hati dan memilih makananku dari makanan yang terbaik dan halal.”

Di masa kanak-kanaknya, beliau adalah seorang pegulat. Beliau sangat suka mempelajari berbagai macam aliran gulat, sehingga beliau menjadi pegulat yang terkenal di masanya. Pegulat-pegulat akan berkerumun dan belajar darinya. Suatu hari, ada seseorang yang menyaksikannya bergulat. Terbersit dalam benaknya, “Bagaimana mungkin seseorang yang merupakan keturunan Rasulullah yang sangat menguasai syari’at dan thariqat, melakukan latihan seperti ini?” Tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi kalau dia berada di Hari Pembalasan. Dia merasa dirinya berada dalam kesulitan dan akan tenggelam. Kemudian Syaikh Sayyid Amir al-Kulal muncul di hadapannya dan menyelamatkannya keluar dari air. Ketika terbangun, dia mendapati Sayyid Amir al-Kulal di dekatnya dan berkata, “Apakah kamu telah menyaksikan kekuatanku dalam bergulat dan kekuatanku dalam memberi perantaraan?”

Suatu ketika seseorang yang akan menjadi Syaikhnya, yaitu Syaikh Muhammad Baba as-Samasi , melewati arena gulat bersama para pengikutnya. Beliau berhenti dan berdiri di sana. Bisikan setan masuk kepada salah satu pengikutnya dan membisik, “Bagaimana seorang Syaikh berdiri di arena gulat seperti ini?” Dengan segera Syaikh melihat muridnya itu dan berkata, “Aku berdiri di sini demi seseorang. Dia akan menjadi seorang ‘Arif (Ahli Makrifat) yang besar.  Orang-orang akan mendatanginya untuk meminta bimbingan dan melalui dia orang bisa meraih posisi tertinggi dari Kecintaan Allah dan dalam Kehadirat Ilahi. Aku bermaksud untuk membawa orang ini di bawah pengawasanku.” Pada saat itu Sayyid Amir menoleh kepadanya, dia merasa tertarik (secara spiritual) dan meninggalkan gulatnya. Beliau mengikuti Syaikh Muhammad Baba as-Samasi ke rumahnya. Syaikh Samasi mengajarinya dzikir dan prinsip-prinsip thariqat, dan berkata kepadanya, “Sekarang engkau adalah anakku.”

Sayyid Amir al-Kulal mengikuti Syaikh Samasi selama 20 tahun, menghabiskan waktunya dengan berdzikir, khalwat, ibadah, dan melakukan penyangkalan diri sendiri. Tidak ada yang melihatnya dalam kurun waktu 20 tahun itu kecuali dalam bimbingan Syaikhnya. Beliau akan mendatangi Syaikhnya di daerah Samas setiap hari Senin dan Kamis, meskipun jaraknya 5 mil dan perjalanannya sangat berat, sampai beliau mencapai keadaan tidak terhijab (mukashafa). Pada saat itu ketenarannya mulai tersebar ke mana-mana sampai beliau wafat. Dia menjadi Guru dan Pembimbing dari Kepala Suku Berlas bernama Turghai (wafat 1356 M) dan putranya Amir Timur (wafat 807H/1405M). Salahsatu dari muridnya yang paling terkenal adalah Muhammad putra Muhammad Baha’ud-Din al ‘Uwaysi al-Bukhari.

Beliau mempunyai empat orang anak, as-Sayyid al-Amir Burhanuddin , as-Sayyid al-Amir Hamza , as-Sayyid al-Amir Syah , and as-Sayyid al-Amir ‘Umar . Syaikh Sayyid Amir al-Kulal wafat di desa yang sama dengan tempat beliau dilahirkan, Sukhar, pada 8 Jumadil Awwal, 772 H/1370M dan dikuburkan di Syahrisabz (Kesh).

May 12, 2008 - Posted by | Kisah Sufi, Sayyid Amir Al-Kulal

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: