Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Oh, Syaikh, apa ini?

BismillahirRahmaanirRahiim

{In Bahasa Indonesia Translation & below IN ENGLISH}

Bahasa Indonesia: Hasan al-Basri (semoga Allah memberkatinya) adalah seorang imam yang terkenal dan di masanya, hidup Habib al-‘Ajami (semoga Allah mensucikan jiwanya). Beliau bukan seorang Arab, tapi dari Persia atau Bukhara, dan (beliau) buta huruf.

Suatu ketika Habib al-‘Ajami sedang duduk di depan khaniqahnya (pondokan untuk berdzikir), tiba-tiba Hasan al-Basri datang dengan tergopoh-gopoh. “Oh Habib, sembunyikan aku karena Hajjaj, wakil gubernur, mengutus tentaranya untuk menangkapku. Sembunyikan aku!” kata Hasan al Basri. Dan Habib membalas “Masuklah ke dalam dan bersembunyilah.” Hasan masuk ke dalam dan menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi. Beberapa saat kemudian, beberapa tentara menghampiri Habib, “Apakah anda melihat Hasan al-Basri?”

“Ya, Aku melihatnya di dalam. Dia ada di dalam.”

Continue reading

Advertisements

March 6, 2008 Posted by | Habib Al-'Ajami, Hasan Al-Basri, Kisah Sufi | 5 Comments

Hasan Al Bashri (30-110 H)

Hasan al-Basri (642728 atau 737); bahasa Arab:حسن البسری ; Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi-l-Hasan Yasar al-Basri) ialah ahil teologi Arab terkenal dan cendekiawan Islam.

Hassan al-Basri dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun 21 Hijrah (642 Masihi). Pernah menyusu pada Ummu Salmah, isteri Rasulullah S.A.W., ketika ibunya keluar melaksanakan suruhan beliau. al-Hassan al-Basri pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai ulamak terkemuka dalam peradapan Islam. al-Hassan al-Basri meninggal di Basrah, Iraq, pada 110 Hijrah (728 Masihi). Beliau pernah hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik b. Marwan.

Al-Hasan bin Yasar (30…???-110 H)

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di
rumahnya.

Continue reading

March 5, 2008 Posted by | Hasan Al-Basri, Kisah Sufi | 8 Comments

Umpatan

Seseorang datang menemui Syekh al-Hasan. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja diumpat oleh si Fulan. Syekh al-Hasan justru menyuruh orang tersebut untuk kembali menemui si Fulan.

“Ingat, kata ulama, orang yang suka mengumpat memasang senjata untuk melemparkan kebaikannya ke barat dan timur, serta ke kanan dan ke kiri,” kata Syekh al-Hasan.

Orang tadi lantas menuruti nasihat Syekh al-Hasan. Dia tak sekadar menemui tapi juga membawakan sebakul kurma rutab. Sembari menyerahkan sebakul kurma yang dibawanya, ia berkata dengan tenang: “Aku mendengar kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku. Maka terimalah kirimanku sebagai ucapan terimakasih.”

Apa lagi sebenarnya yang dikatakan Syekh al-Hasan hingga lelaki yang diumpat itu bisa sebaik demikian pada orang mengumpatnya? Ternyata, Syekh al-Hasan –seperti dikisahkan oleh al-Ghazali—mengutipkan satu nasehat yang pernah didengarnya dari Syekh Ibn Mubarak.

Bunyinya pendek sekali: “Jika aku suka mengumpat, tentu aku mengumpat ibuku, sebab ibuku berhak menerima kebaikanku.”

March 5, 2008 Posted by | Hasan Al-Basri, Kisah Hikmah, Kisah Sufi | Leave a comment

Imam Hasan Al Bashri dan Tetangga Nasrani

Imam Hasan Al Bashri adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di kota Basrah, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Beliau juga dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat kecil.

Imam Hasan Al Bashri memiliki seorang tetangga nasrani. Tetangganya ini memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan Al Bashri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Beliau menyuruh istrinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam Hasan Al Bashri tidak membicarakan atau memberitahukan hal itu kepada tetangganya sama sekali. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Suatu hari Imam Hasan Al Bashri sakit. Tetangganya yang nasrani itu datang ke rumahnya menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Tetangganya itu langsung mengerti bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Dan yang membuatnya bertambah heran kenapa Imam Hasan Al Bashri tidak bilang padanya.

“Imam, sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini ?” tanya si Tetangga.

Continue reading

March 5, 2008 Posted by | Hasan Al-Basri, Kisah Sufi | 7 Comments

Kunci Zuhud

Aku tahu , rizkiku tak mungkin diambil orang lain
Karenanya, hatiku tenang

Aku tahu,amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain
Maka aku sibukkan diriku untuk beramal

Aku tahu, Allah selalu melihatku
Karenanya, aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat

Aku tahu, kematian menantiku
Maka aku persiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku.

March 5, 2008 Posted by | Hasan Al-Basri, Kisah Sufi | 5 Comments

Tuhan Melihat Hatimu

Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar.

Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

March 3, 2008 Posted by | Hasan Al-Basri, Kisah Sufi | Leave a comment