Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Mana Yang Kau Cari – Penampilan Atau Realitas?

Uwais al-Qarni berdiri sendirian di padang pasir, bersandar pada seorang pembantunya. Ia bertemu Nabi tidak dalam bentuk lahiriah; namun ia tahu rahasia para Sahabat. Dan tidak satu pun menolak bahwa dirinya adalah seorang Sufi; semoga Allah menyucikan kegaibannya!

Dzun-Nun al-Mishri bicara berbelit-belit, dan mengajar dengan tulisan Mesir kuno. Dan tidak satu pun menyangkal bahwa ia guru kita.

Al-Hallaj dan Suhrawardi, dibunuh atas keputusan pengadilan karena mengatakan hal-hal yang tidak populer di zaman kami; keduanya guru kami.

Guru kita Bahauddin dari Bukhara tanpa kata-kata berkomunikasi dengan hati kita. Namun ia bicara sejujur yang pernah dibicarakan orang.

Ahmad ar-Rifai yang didatangkan, untuk dirinya dan penerusnya, nama pembual, dan orang yang berperilaku yang bukan-bukan. Secara rahasia ia dipersatukan dengan kita.

Orang berpikir bahwa Jalaluddin dan Fariduddin Aththar hanyalah penyair.

Hafizh membicarakan Anggur, Ibnu al-Arabi tentang Perempuan, al-Ghazali tampaknya berbicara dengan kiasan.

Tidak satu pun menyangkal bahwa mereka adalah satu.

Semuanya ikut serta dalam tugas suci kita.

Syabistari berbicara tentang kemusyrikan; Maulana Chisyti mendengarkan musik; Khwaja Anshar seorang pemimpin religius. Khayyam, Abi al-Khair dan ar-Rumi menolak bentuk religius.

Tetapi tidak satu pun menolak diantara Orang-orang di Jalan bahwa semuanya adalah satu.

Yusuf Qalandar berkelana ke muka bumi.

Syeikh Syattar mengubah manusia dalam sekejap.

Ali al-Hujwiri dipandang hanya sebagai juru penerang.

Semuanya, sebagai satu, ikut serta pada tugas suci kita.

Abdul Qadir al-Jilani dari Persia, dan Salman serta Sa’di; Abu Bakr dari Arab, Nuri dan Ja’fari; Baba Farid, Ibnu Adham dari Afghan; Jami’ dari Khurasan, Bektash dari Turki, Nizamuddin dari India, Yusuf dari Andalusia.

Semuanya, sebagai satu, ikut serta pada kerja suci kita.

Pikiran-pikiran dangkal bertanya, bagaimana perilaku kaum Sufi, yang menandai mereka sebagai Guru kita? Apa bentuk Latihan yang mungkin kita banggakan? Jalan apa yang akan membuat Jalan sesuai untukku? Tempat apa yang melahirkan Guru? Kebiasaan dan jaminan apa yang membawa manusia menuju Kebenaran?

Hentikan, engkau bodoh! Sebelum terlambat — putuskan: apakah engkau ingin mempelajari penampilan, atau Realitas?

(Nawab Jan-Fishari Khan)

Advertisements

February 24, 2009 Posted by | Sufisme | 5 Comments

Jalan Kaum Sufi

Sufisme adalah ajaran sebaik persaudaraan kaum Sufi, orang-orang mistis yang berbagi keyakinan bahwa pengalaman batiniah bukanlah bagian dari kehidupan, tetapi kehidupan itu sendiri. Sufi berarti “cinta”.

Pada pencapaian lebih rendah, para anggota diorganisir ke suatu lingkaran dan pondok-pondok. Bentuk yang lebih tinggi — sakinah (kedamaian), mereka melambung bersama dengan barakah (berkah, kekuatan, kesucian) dan interaksi mereka dengan kekuatan ini berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sufisme adalah jalan hidup, diyakini oleh anggota sebagai esensi dan realitas semua ajaran religius dan filosofis. Ajaran ini membimbing ke penyelesaian kaum laki-laki dan kaum perempuan, melalui institusi murid, meditasi dan praktek. Berikutnya adalah “realitas hidup”.

Kebijakan atau penyelesaian, menurut kaum Sufi, dibedakan dari intelektualisme, keakademisan dan sebagainya, yang sekadar sebagai alat. Jalan, mengajarkan sampai tingkat mana alat ini dapat digunakan; dan juga bagaimana menggabungkan tindakan dengan takdir.

“Sufisme,” kata guru, “adalah jalan yang diambil kaum Sufi dalam kehidupan dan pekerjaan nyata mereka sesuai bentuk yang berbeda dengan bentuk lain; yang menuntun mereka ke perkembangan mental, fisik dan kekuatan metafisik yang penuh. Awalnya mereka diorganisir ke dalam kelompok di bawah bimbingan seorang Pembimbing (guru) sampai hubungan pengabadian diri ditegakkan.”

“Hubungan persahabatan disebut Persaudaraan, Aliran, dan Cara atau Jalan. Mungkin pula disebut Bangunan, sebagai analogi atas sesuatu yang dibangun oleh perkumpulan anggota. Guru disebut Syeikh, Orang Bijak,Yang Lebih Tahu, Pemimpin, Kuno atau Pengarah. Murid disebut Yang Diarahkan, Penggemar, Pecinta atau Calon.”

“Pondok disebut biara, kuil, pertapaan dan sebagainya, yang mungkin memiliki bentuk fisik, mungkin pula tidak.”

Tambahan pula sistem metafisikal saling dihubungkan dengan kehidupan biasa, Sufisme mempertahankan bahwa anggota-anggotanya akan unggul dalam pekerjaan terpilih mereka.

Sufisme adalah ajaran, tidak dengan metode membosankan seperti catatan buku atau ajaran “A sampai Z”. Akhirnya, ketika hubungan sudah cukup mantap, engkau melanjutkan pelajarannya sendiri, dan menjadi “Pribadi Sempurna”. (Al-Insan al-Kamil)

Sufisme tidak dikhotbahkan, dan bahkan diajarkan pada beberapa kasus dengan contoh dan bimbingan yang mungkin tidak diketahui oleh murid fakultas biasa.(Zhalim Abdurrahman)

February 24, 2009 Posted by | Sufisme | 16 Comments

Kaum Sufi

Ia mungkin seperti Khidr, Orang Berbaju Hijau, yang berkelana di muka bumi dalam berbagai samaran, yang sama sekali tidak engkau ketahui. Bila berada di “tempat”-nya ia akan ditemukan menggembalakan domba suatu hari, berikutnya minum dari piala emas bersama raja.

Bila ia gurumu, ia akan menguntungkanmu dari cahayanya, engkau ketahui pada saat itu maupun tidak.

Manakala engkau bertemu dengannya, ia akan bertindak terhadapmu, apakah engkau mengetahuinya atau tidak.

Apa yang ia katakan atau lakukan mungkin terlihat tidak konsisten atau bahkan tidak engkau mengerti. Tetapi memiliki makna. Ia tidak hidup sepenuhnya di duniamu.

Intuisinya adalah arahan yang sudah semestinya, ia selalu bekerja sesuai dengan jalan yang Benar.

Ia mungkin tidak menyenangkan dirimu. Tetapi itu yang akan diharapkan dan diperlukan.

Ia mungkin terlihat membalik kebaikan menjadi jahat, atau jahat menjadi baik. Tetapi apa yang sebenarnya ia lakukan hanya diketahui oleh Sebagian Kecil.

Engkau mungkin mendengar bahwa beberapa orang menentangnya. Akan engkau temukan, bahwa sebagian kecil orang memang demikian. Ia sederhana dan membiarkan dirimu menemukan apa yang harus engkau temukan dengan perlahan.

Ketika engkau pertama kali bertemu dengannya, ia mungkin tampak sangat berbeda dengan dirimu. Padahal tidak. Ia mungkin terlihat sangat sama seperti dirimu. Padahal tidak.

(Salik)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Ajaran Kaum Sufi

Banyak orang berbuat baik, atau berkumpul dengan orang-orang bijak dan mulia, percaya bahwa hal ini adalah pencarian pengembangan diri. Mereka tertipu. Dengan nama agama, beberapa orang biadab telah melakukan ini. Mencoba berbuat baik, manusia melakukan sebagian dari aktkitas buruknya.

Kekurangan datang dari asumsi yang absurd bahwa hanya berhubungan dengan sesuatu yang bernilai, akan membawa keberuntungan yang sama pada individu yang tidak berubah.

Banyak yang lebih penting. Manusia tidak harus berhubungan dengan orang baik: ia harus berhubungan dengan bentuk yang memungkinkan mengubah fungsinya dan membuatnya baik. Seekor keledai yang berkandang di perpustakaan, tidak akan menjadi terpelajar.

Argumentasi ini salah satu dari perbedaan diantara ajaran-ajaran Sufi dan mencoba mempraktekkan etika atau pengembangan diri di dalam usaha yang lain.

Secara umum, pokoknya disia-siakan oleh pembaca atau murid. Thalib Kamal berkata, “Benang tidak akan menjadi mulia karena menembus diantara permata.” Dan, “Kebaikanku tidak memajukan diriku, tidak lebih dari tempat sunyi yang disuburkan oleh adanya harta karun.”

Harta karun adalah harta karun. Tetapi bila diambil untuk menciptakan kerusuhan lagi, harta karun tersebut harus dimanfaatkan dengan cara tertentu.

Khotbah mungkin bagian dari sebuah proses. Sarana untuk mengubah manusia tetap diperlukan. Sarana inilah yang menjadi rahasia kaum Sufi. Sekolah-sekolah lain, sangat sering, tidak berada pada titik di mana mereka dapat melihat di atas tahap pertama; mereka dimabukkan dengan penemuan etika dan kebajikan, yang oleh karena itu mereka simpulkan merupakan obat untuk segala macam penyakit.

(Abdal Ali Haidar)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Betapa Anehnya Manusia

Coba bayangkan sejenak bahwa engkau adalah makhluk selain manusia. Tidak dirasakan oleh manusia, engkau memasuki salah satu tempat tinggalnya. Sebagai seorang peneliti, apakah menurutmu penyebab atau tujuan ia berbuat demikian? Asumsikan bahwa engkau tidak memiliki pengalaman tentang kemanusiaan.

Orang yang engkau teliti bermalas-malasan dan tidur. Engkau tidak tidur, karena engkau tidak dari alamnya. Bagaimana engkau dapat mengerti apa yang telah dilakukannya atau mengapa? Engkau akan terpaksa mengatakan, “Ia mati”; atau barangkali, “Ia gila”; atau lagi, “Ini pasti ketaatan religius.” Engkau terpaksa, karena kekurangan materi yang menunjuk perilaku manusia tersebut, untuk menghubungkan mereka dengan tindakan paling dekat yang engkau ketahui, di dalam duniamu.

Sekarang, sementara kita masih memperhatikan orang ini, kita temukan ia sudah bangun. Apa yang terjadi? Kita mungkin berpikir, “Ia dihidupkan kembali secara ajaib,” atau hal-hal serupa. Ia pergi ke sumber air dan mandi. Kita berkata, “Betapa anehnya.”

Sekarang orang itu memasak sesuatu dalam sebuah panci, dan perlu membasahi keningnya. “Sebuah peribadatan religius … atau barangkali ia adalah budak dari lompatan-lompatan aneh ini, benda bercahaya yang disebut api, dan harus melayaninya dengan cara demikian …”

Singkatnya, apa pun yang ia lakukan tampak gila, tidak lengkap atau didorong oleh sebab-sebab yang muncul dalam imajinasi kita — jika kita adalah pengunjung tersebut yang menggunakan skalanya sendiri, atau sama sekali tidak, untuk mengukur aktikitas manusia.

Begitu pula dengan kaum darwis. Ia tertawa, ia menangis. Ia baik, ia jahat. Ia bertobat, berbicara tentang anggur, menjauhkan diri dari manusia dan kemudian mengunjungi mereka. Ia melayani ummat manusia dan mengatakan bahwa ia melayani Allah. Engkau berbicara tentang Tuhan dan ia mungkin protes serta mengatakan kalau engkau tidak mengetahuinya. Apakah engkau mengubah orang seperti itu?

Ia manusia dari dunia lain. Engkau menghubungkan tindakannya dengan tindakan yang engkau ketahui; pengetahuannya adalah sesuatu yang engkau sebut pengetahuan; perasaannya engkau bandingkan dengan apa yang engkau rasakan. Asalnya, Jalannya, takdirnya; engkau melihat mereka keseluruhan hanya dari satu sudut pandang.

Betapa anehnya manusia!

Tetapi ada jalan untuk memahami mereka. Tanggalkan semua prasangka tentang kaum darwis. Ikuti penjelasannya atau simbol-simbolnya tentang jalan Sufi. Rendahkan dirimu, karena engkau adalah pelajar paling rendah dari semua pelajar; karena engkau harus tahu sesuatu yang dapat engkau pelajari. Tidak, aku tidak dapat mengajarimu jalan Qalandar. Aku harus memperingatkan dirimu. Pergilah, cari seorang Sufi dan pertama-tama mintalah maaf karena engkau tidak memperhatikan, karena engkau tidur sangat lama.

(Orasi Qalandar Puri)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Perkumpulan

Imam al-Ghazali mencatat, dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, bahwa diantara guru-guru Baghdad, kendati jumlahnya lusinan, hanya dua atau tiga orang yang memimpin sedikit pengunjung. Guru-guru agung ini adalah beberapa dari mereka yang ajarannya telah memiliki pengaruh terbesar.

Selain itu, ada banyak ahli yang mengajar tanpa dipahami dan banyak yang tahu ia memiliki murid yang tetap tidak paham.

Kumpulan pertemuan, sudah diamati dengan benar oleh seorang guru, selalu cenderung kepada apa yang kita sebut bentuk sebuah suku. Orang suka berkumpul. Membesarkan perkumpulan adalah berbahaya, kalau tidak secara eksplisit mencegah pengetahuan dari sekadar sebuah asosiasi, dan tidak menciptakan perkumpulan orang-orang yang tepat, yang dapat memindahkan jiwa.

(Abdul Majid Tanti)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Kepatuhan

Jika tidak dapat patuh, engkau tidak dapat belajar apa pun. Kepatuhan adalah bagian dari perhatian.

Engkau harus patuh kepada gurumu. Dari latihan patuh ini, engkau akan dapat belajar betapa tidak jujurnya pikiranmu.

Berkeluh-kesah dan mungkin menyesali kepatuhan, barangkali sesuatu yang dianggap pantas untuk dikerjakan. Pantas hanya untuk yang tidak pantas; mereka yang tidak dapat mencapai yang lebih tinggi.

Bila engkau diberi waktu, dan engkau tiba di tempat gurumu lebih awal, maka engkau tamak. Jika engkau terlambat, maka engkau tidak patuh.

Bila gurumu menyatakan bahwa untuk sementara engkau tidak perlu belajar, dan bahkan jika ia tampak meremehkan dirimu, tentunya untuk satu alasan. Ini sering dilakukan ketika belajar menjadi buruk bagi seseorang. Mencoba membuatnya berbuat yang lain kepadamu, adalah tindakan ketidakpatuhan.

Sholavi mengisahkan:

Pertama kali aku bertemu Pembimbingku saat aku berusia enambelas tahun. Ia setuju untuk mengajariku, dan memberiku tiga pelajaran. Aku tidak melihatnya, atau pernah mendengarnya, sampai usiaku empatpuluh satu. Kata pertamanya padaku pada peristiwa itu adalah: “Engkau dapat memulai pekerjaanmu sekarang.”

(Umm al-Hasan)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Membaca Filosofi Sufi

Membaca sesuatu dan segala sesuatu dalam Sufisme seperti membaca segala macam buku dengan subyek berbeda tanpa dasar yang penting. Suatu malapetaka, seperti halnya pengobatan secara serampangan, mungkin membuat manusia malah lebih buruk daripada sebelum membacanya.

Tulisan-tulisan Sufi senantiasa ditujukan untuk pengunjung khusus. Pengunjung ini tidak sama di Bukhara dengan di Basrah, di Spanyol dan di Afrika.

Namun nilai kumpulan pelajaran khusus dari bacaan-bacaan Sufi yang dibuat seorang Sufi tidak dapat dilebih-lebihkan.

Nilai-nilai tersebut termasuk:

Pilihan bagian-bagian yang akan membantu komunitas menemukan jalannya.

Persiapan murid, untuk pencerahan yang diberikan guru secara pribadi bila waktunya siap;

Suatu perbaikan terhadap pengulangan-pengulangan doktrin dan praktek biasa yang membosankan, yang pudar tanpa diketahui.

Suatu perbaikan terhadap kegembiraan yang kita alami setiap hari, dan yang memanipulasi kita tanpa kita ketahui.

Oleh karena itu, bacalah, apa yang sudah disiapkan untukmu, sehingga engkau memperoleh berkah dari kebahagiaan abadi.

(Hadrat Bahauddin Naqsyabandi)

February 24, 2009 Posted by | Kisah Hikmah, Syekh Muhammad Bahauddin An Naqsabandiy RA | 1 Comment