Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Betapa Anehnya Manusia

Coba bayangkan sejenak bahwa engkau adalah makhluk selain manusia. Tidak dirasakan oleh manusia, engkau memasuki salah satu tempat tinggalnya. Sebagai seorang peneliti, apakah menurutmu penyebab atau tujuan ia berbuat demikian? Asumsikan bahwa engkau tidak memiliki pengalaman tentang kemanusiaan.

Orang yang engkau teliti bermalas-malasan dan tidur. Engkau tidak tidur, karena engkau tidak dari alamnya. Bagaimana engkau dapat mengerti apa yang telah dilakukannya atau mengapa? Engkau akan terpaksa mengatakan, “Ia mati”; atau barangkali, “Ia gila”; atau lagi, “Ini pasti ketaatan religius.” Engkau terpaksa, karena kekurangan materi yang menunjuk perilaku manusia tersebut, untuk menghubungkan mereka dengan tindakan paling dekat yang engkau ketahui, di dalam duniamu.

Sekarang, sementara kita masih memperhatikan orang ini, kita temukan ia sudah bangun. Apa yang terjadi? Kita mungkin berpikir, “Ia dihidupkan kembali secara ajaib,” atau hal-hal serupa. Ia pergi ke sumber air dan mandi. Kita berkata, “Betapa anehnya.”

Sekarang orang itu memasak sesuatu dalam sebuah panci, dan perlu membasahi keningnya. “Sebuah peribadatan religius … atau barangkali ia adalah budak dari lompatan-lompatan aneh ini, benda bercahaya yang disebut api, dan harus melayaninya dengan cara demikian …”

Singkatnya, apa pun yang ia lakukan tampak gila, tidak lengkap atau didorong oleh sebab-sebab yang muncul dalam imajinasi kita — jika kita adalah pengunjung tersebut yang menggunakan skalanya sendiri, atau sama sekali tidak, untuk mengukur aktikitas manusia.

Begitu pula dengan kaum darwis. Ia tertawa, ia menangis. Ia baik, ia jahat. Ia bertobat, berbicara tentang anggur, menjauhkan diri dari manusia dan kemudian mengunjungi mereka. Ia melayani ummat manusia dan mengatakan bahwa ia melayani Allah. Engkau berbicara tentang Tuhan dan ia mungkin protes serta mengatakan kalau engkau tidak mengetahuinya. Apakah engkau mengubah orang seperti itu?

Ia manusia dari dunia lain. Engkau menghubungkan tindakannya dengan tindakan yang engkau ketahui; pengetahuannya adalah sesuatu yang engkau sebut pengetahuan; perasaannya engkau bandingkan dengan apa yang engkau rasakan. Asalnya, Jalannya, takdirnya; engkau melihat mereka keseluruhan hanya dari satu sudut pandang.

Betapa anehnya manusia!

Tetapi ada jalan untuk memahami mereka. Tanggalkan semua prasangka tentang kaum darwis. Ikuti penjelasannya atau simbol-simbolnya tentang jalan Sufi. Rendahkan dirimu, karena engkau adalah pelajar paling rendah dari semua pelajar; karena engkau harus tahu sesuatu yang dapat engkau pelajari. Tidak, aku tidak dapat mengajarimu jalan Qalandar. Aku harus memperingatkan dirimu. Pergilah, cari seorang Sufi dan pertama-tama mintalah maaf karena engkau tidak memperhatikan, karena engkau tidur sangat lama.

(Orasi Qalandar Puri)

February 24, 2009 - Posted by | Kisah Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: