Siapakah Tuhan?
“Para pelautku dan sahabat-sahabatku, akan lebih bijak jika kita bicara sedikit saja tentang Tuhan — yang kita tidak mengerti siapa Dia — dan bicara lebih banyak tentang diri kita sendiri, yang mungkin lebih kita mengerti.”
Pada hari pertama minggu itu, ketika suara lonceng kuil menerpa telinga mereka, seseorang bersuara dan berkata: “Guru, kami banyak mendengar tentang Tuhan di sini. Katakanlah apa itu Tuhan, dan siapakah Dia sebenarnya?”
Dan dia yang dipanggil guru itu berdiri tegak di depan mereka laksana sebatang pohon muda, yang tak gentar dengan angin dan prahara. Dia menjawab: “Pikirlah sekarang, sahabatku dan cintaku, sebuah hati yang memuat semua hati kalian, sebuah cinta yang meliputi seluruh cinta kalian, sebuah jiwa yang merengkuh semua jiwa kalian, sebuah suara yang membungkus semua suara kalian, dan sebuah kesunyian yang lebih dalam daripada semua kesunyian kalian, dan abadi.”
“Carilah sekarang, untuk kaubayangkan dalam kesadaranmu, sebuah keindahan yang lebih menarik daripada semua yang indah, sebuah nyanyian yang lebih membahana dari nyanyian laut dan hutan belantara, sebuah singgasana megah sehingga Orion hanyalah sebuah bantal kaki, memegang sebuah tongkat kekuasaan di mana Pleiades tak lebih dari cahaya redup tetes embun pagi.
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor.
Dongeng Tukang Cukur: “Apakah Tuhan itu ada?”
Cerita anonim ini sudah cukup banyak diceritakan, namun tetap menarik karena mengetuk dan meyakinkan kembali hati kita. BTW cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan tukang cukur lhoo!
Seorang pelanggan datang ke tempat tukang cukur untuk merapikan rambut dan mencukur kumisnya.
Si tukang cukur mulai bekerja dan seperti biasa memulai pembicaraan hingga suasananya menghangat.
Mereka berbicara berbagai topik pembicaraan hingga sampailah diskusi tentang Tuhan
Si tukang cukur bilang: “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa anda bilang begitu??” balas si pelanggan
“Begini Pak, coba anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan padaku, jika Tuhan itu memang ada, adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah kemelaratan??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.
Si pelanggan tidak merespon, karena fikirnya tidak ada gunanya berdebat bila tidak ada argumen dan bukti yang kuat, hanya akan jadi debat kusir saja.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si pelanggan itu pun pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Di tengah jalan dia melihat seseorang dengan rambut panjang acak-acakan, kotor dan brewok yang tidak terawat. Orang itu terlihat kotor dan jorok
Mana Yang Kau Cari – Penampilan Atau Realitas?
Uwais al-Qarni berdiri sendirian di padang pasir, bersandar pada seorang pembantunya. Ia bertemu Nabi tidak dalam bentuk lahiriah; namun ia tahu rahasia para Sahabat. Dan tidak satu pun menolak bahwa dirinya adalah seorang Sufi; semoga Allah menyucikan kegaibannya!
Dzun-Nun al-Mishri bicara berbelit-belit, dan mengajar dengan tulisan Mesir kuno. Dan tidak satu pun menyangkal bahwa ia guru kita.
Al-Hallaj dan Suhrawardi, dibunuh atas keputusan pengadilan karena mengatakan hal-hal yang tidak populer di zaman kami; keduanya guru kami.
Guru kita Bahauddin dari Bukhara tanpa kata-kata berkomunikasi dengan hati kita. Namun ia bicara sejujur yang pernah dibicarakan orang.
Ahmad ar-Rifai yang didatangkan, untuk dirinya dan penerusnya, nama pembual, dan orang yang berperilaku yang bukan-bukan. Secara rahasia ia dipersatukan dengan kita.
Orang berpikir bahwa Jalaluddin dan Fariduddin Aththar hanyalah penyair.
Hafizh membicarakan Anggur, Ibnu al-Arabi tentang Perempuan, al-Ghazali tampaknya berbicara dengan kiasan.
Tidak satu pun menyangkal bahwa mereka adalah satu.
Semuanya ikut serta dalam tugas suci kita.
Syabistari berbicara tentang kemusyrikan; Maulana Chisyti mendengarkan musik; Khwaja Anshar seorang pemimpin religius. Khayyam, Abi al-Khair dan ar-Rumi menolak bentuk religius.
Tetapi tidak satu pun menolak diantara Orang-orang di Jalan bahwa semuanya adalah satu.
Yusuf Qalandar berkelana ke muka bumi.
Syeikh Syattar mengubah manusia dalam sekejap.
Ali al-Hujwiri dipandang hanya sebagai juru penerang.
Semuanya, sebagai satu, ikut serta pada tugas suci kita.
Abdul Qadir al-Jilani dari Persia, dan Salman serta Sa’di; Abu Bakr dari Arab, Nuri dan Ja’fari; Baba Farid, Ibnu Adham dari Afghan; Jami’ dari Khurasan, Bektash dari Turki, Nizamuddin dari India, Yusuf dari Andalusia.
Semuanya, sebagai satu, ikut serta pada kerja suci kita.
Pikiran-pikiran dangkal bertanya, bagaimana perilaku kaum Sufi, yang menandai mereka sebagai Guru kita? Apa bentuk Latihan yang mungkin kita banggakan? Jalan apa yang akan membuat Jalan sesuai untukku? Tempat apa yang melahirkan Guru? Kebiasaan dan jaminan apa yang membawa manusia menuju Kebenaran?
Hentikan, engkau bodoh! Sebelum terlambat — putuskan: apakah engkau ingin mempelajari penampilan, atau Realitas?
(Nawab Jan-Fishari Khan)
Jalan Kaum Sufi
Sufisme adalah ajaran sebaik persaudaraan kaum Sufi, orang-orang mistis yang berbagi keyakinan bahwa pengalaman batiniah bukanlah bagian dari kehidupan, tetapi kehidupan itu sendiri. Sufi berarti “cinta”.
Pada pencapaian lebih rendah, para anggota diorganisir ke suatu lingkaran dan pondok-pondok. Bentuk yang lebih tinggi — sakinah (kedamaian), mereka melambung bersama dengan barakah (berkah, kekuatan, kesucian) dan interaksi mereka dengan kekuatan ini berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Sufisme adalah jalan hidup, diyakini oleh anggota sebagai esensi dan realitas semua ajaran religius dan filosofis. Ajaran ini membimbing ke penyelesaian kaum laki-laki dan kaum perempuan, melalui institusi murid, meditasi dan praktek. Berikutnya adalah “realitas hidup”.
Kebijakan atau penyelesaian, menurut kaum Sufi, dibedakan dari intelektualisme, keakademisan dan sebagainya, yang sekadar sebagai alat. Jalan, mengajarkan sampai tingkat mana alat ini dapat digunakan; dan juga bagaimana menggabungkan tindakan dengan takdir.
“Sufisme,” kata guru, “adalah jalan yang diambil kaum Sufi dalam kehidupan dan pekerjaan nyata mereka sesuai bentuk yang berbeda dengan bentuk lain; yang menuntun mereka ke perkembangan mental, fisik dan kekuatan metafisik yang penuh. Awalnya mereka diorganisir ke dalam kelompok di bawah bimbingan seorang Pembimbing (guru) sampai hubungan pengabadian diri ditegakkan.”
“Hubungan persahabatan disebut Persaudaraan, Aliran, dan Cara atau Jalan. Mungkin pula disebut Bangunan, sebagai analogi atas sesuatu yang dibangun oleh perkumpulan anggota. Guru disebut Syeikh, Orang Bijak,Yang Lebih Tahu, Pemimpin, Kuno atau Pengarah. Murid disebut Yang Diarahkan, Penggemar, Pecinta atau Calon.”
“Pondok disebut biara, kuil, pertapaan dan sebagainya, yang mungkin memiliki bentuk fisik, mungkin pula tidak.”
Tambahan pula sistem metafisikal saling dihubungkan dengan kehidupan biasa, Sufisme mempertahankan bahwa anggota-anggotanya akan unggul dalam pekerjaan terpilih mereka.
Sufisme adalah ajaran, tidak dengan metode membosankan seperti catatan buku atau ajaran “A sampai Z”. Akhirnya, ketika hubungan sudah cukup mantap, engkau melanjutkan pelajarannya sendiri, dan menjadi “Pribadi Sempurna”. (Al-Insan al-Kamil)
Sufisme tidak dikhotbahkan, dan bahkan diajarkan pada beberapa kasus dengan contoh dan bimbingan yang mungkin tidak diketahui oleh murid fakultas biasa.(Zhalim Abdurrahman)
Kaum Sufi
Ia mungkin seperti Khidr, Orang Berbaju Hijau, yang berkelana di muka bumi dalam berbagai samaran, yang sama sekali tidak engkau ketahui. Bila berada di “tempat”-nya ia akan ditemukan menggembalakan domba suatu hari, berikutnya minum dari piala emas bersama raja.
Bila ia gurumu, ia akan menguntungkanmu dari cahayanya, engkau ketahui pada saat itu maupun tidak.
Manakala engkau bertemu dengannya, ia akan bertindak terhadapmu, apakah engkau mengetahuinya atau tidak.
Apa yang ia katakan atau lakukan mungkin terlihat tidak konsisten atau bahkan tidak engkau mengerti. Tetapi memiliki makna. Ia tidak hidup sepenuhnya di duniamu.
Intuisinya adalah arahan yang sudah semestinya, ia selalu bekerja sesuai dengan jalan yang Benar.
Ia mungkin tidak menyenangkan dirimu. Tetapi itu yang akan diharapkan dan diperlukan.
Ia mungkin terlihat membalik kebaikan menjadi jahat, atau jahat menjadi baik. Tetapi apa yang sebenarnya ia lakukan hanya diketahui oleh Sebagian Kecil.
Engkau mungkin mendengar bahwa beberapa orang menentangnya. Akan engkau temukan, bahwa sebagian kecil orang memang demikian. Ia sederhana dan membiarkan dirimu menemukan apa yang harus engkau temukan dengan perlahan.
Ketika engkau pertama kali bertemu dengannya, ia mungkin tampak sangat berbeda dengan dirimu. Padahal tidak. Ia mungkin terlihat sangat sama seperti dirimu. Padahal tidak.
(Salik)
Ajaran Kaum Sufi
Banyak orang berbuat baik, atau berkumpul dengan orang-orang bijak dan mulia, percaya bahwa hal ini adalah pencarian pengembangan diri. Mereka tertipu. Dengan nama agama, beberapa orang biadab telah melakukan ini. Mencoba berbuat baik, manusia melakukan sebagian dari aktkitas buruknya.
Kekurangan datang dari asumsi yang absurd bahwa hanya berhubungan dengan sesuatu yang bernilai, akan membawa keberuntungan yang sama pada individu yang tidak berubah.
Banyak yang lebih penting. Manusia tidak harus berhubungan dengan orang baik: ia harus berhubungan dengan bentuk yang memungkinkan mengubah fungsinya dan membuatnya baik. Seekor keledai yang berkandang di perpustakaan, tidak akan menjadi terpelajar.
Argumentasi ini salah satu dari perbedaan diantara ajaran-ajaran Sufi dan mencoba mempraktekkan etika atau pengembangan diri di dalam usaha yang lain.
Secara umum, pokoknya disia-siakan oleh pembaca atau murid. Thalib Kamal berkata, “Benang tidak akan menjadi mulia karena menembus diantara permata.” Dan, “Kebaikanku tidak memajukan diriku, tidak lebih dari tempat sunyi yang disuburkan oleh adanya harta karun.”
Harta karun adalah harta karun. Tetapi bila diambil untuk menciptakan kerusuhan lagi, harta karun tersebut harus dimanfaatkan dengan cara tertentu.
Khotbah mungkin bagian dari sebuah proses. Sarana untuk mengubah manusia tetap diperlukan. Sarana inilah yang menjadi rahasia kaum Sufi. Sekolah-sekolah lain, sangat sering, tidak berada pada titik di mana mereka dapat melihat di atas tahap pertama; mereka dimabukkan dengan penemuan etika dan kebajikan, yang oleh karena itu mereka simpulkan merupakan obat untuk segala macam penyakit.
(Abdal Ali Haidar)
Betapa Anehnya Manusia
Coba bayangkan sejenak bahwa engkau adalah makhluk selain manusia. Tidak dirasakan oleh manusia, engkau memasuki salah satu tempat tinggalnya. Sebagai seorang peneliti, apakah menurutmu penyebab atau tujuan ia berbuat demikian? Asumsikan bahwa engkau tidak memiliki pengalaman tentang kemanusiaan.
Orang yang engkau teliti bermalas-malasan dan tidur. Engkau tidak tidur, karena engkau tidak dari alamnya. Bagaimana engkau dapat mengerti apa yang telah dilakukannya atau mengapa? Engkau akan terpaksa mengatakan, “Ia mati”; atau barangkali, “Ia gila”; atau lagi, “Ini pasti ketaatan religius.” Engkau terpaksa, karena kekurangan materi yang menunjuk perilaku manusia tersebut, untuk menghubungkan mereka dengan tindakan paling dekat yang engkau ketahui, di dalam duniamu.
Sekarang, sementara kita masih memperhatikan orang ini, kita temukan ia sudah bangun. Apa yang terjadi? Kita mungkin berpikir, “Ia dihidupkan kembali secara ajaib,” atau hal-hal serupa. Ia pergi ke sumber air dan mandi. Kita berkata, “Betapa anehnya.”
Sekarang orang itu memasak sesuatu dalam sebuah panci, dan perlu membasahi keningnya. “Sebuah peribadatan religius … atau barangkali ia adalah budak dari lompatan-lompatan aneh ini, benda bercahaya yang disebut api, dan harus melayaninya dengan cara demikian …”
Singkatnya, apa pun yang ia lakukan tampak gila, tidak lengkap atau didorong oleh sebab-sebab yang muncul dalam imajinasi kita — jika kita adalah pengunjung tersebut yang menggunakan skalanya sendiri, atau sama sekali tidak, untuk mengukur aktikitas manusia.
Begitu pula dengan kaum darwis. Ia tertawa, ia menangis. Ia baik, ia jahat. Ia bertobat, berbicara tentang anggur, menjauhkan diri dari manusia dan kemudian mengunjungi mereka. Ia melayani ummat manusia dan mengatakan bahwa ia melayani Allah. Engkau berbicara tentang Tuhan dan ia mungkin protes serta mengatakan kalau engkau tidak mengetahuinya. Apakah engkau mengubah orang seperti itu?
Ia manusia dari dunia lain. Engkau menghubungkan tindakannya dengan tindakan yang engkau ketahui; pengetahuannya adalah sesuatu yang engkau sebut pengetahuan; perasaannya engkau bandingkan dengan apa yang engkau rasakan. Asalnya, Jalannya, takdirnya; engkau melihat mereka keseluruhan hanya dari satu sudut pandang.
Betapa anehnya manusia!
Tetapi ada jalan untuk memahami mereka. Tanggalkan semua prasangka tentang kaum darwis. Ikuti penjelasannya atau simbol-simbolnya tentang jalan Sufi. Rendahkan dirimu, karena engkau adalah pelajar paling rendah dari semua pelajar; karena engkau harus tahu sesuatu yang dapat engkau pelajari. Tidak, aku tidak dapat mengajarimu jalan Qalandar. Aku harus memperingatkan dirimu. Pergilah, cari seorang Sufi dan pertama-tama mintalah maaf karena engkau tidak memperhatikan, karena engkau tidur sangat lama.
(Orasi Qalandar Puri)
Perkumpulan
Imam al-Ghazali mencatat, dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, bahwa diantara guru-guru Baghdad, kendati jumlahnya lusinan, hanya dua atau tiga orang yang memimpin sedikit pengunjung. Guru-guru agung ini adalah beberapa dari mereka yang ajarannya telah memiliki pengaruh terbesar.
Selain itu, ada banyak ahli yang mengajar tanpa dipahami dan banyak yang tahu ia memiliki murid yang tetap tidak paham.
Kumpulan pertemuan, sudah diamati dengan benar oleh seorang guru, selalu cenderung kepada apa yang kita sebut bentuk sebuah suku. Orang suka berkumpul. Membesarkan perkumpulan adalah berbahaya, kalau tidak secara eksplisit mencegah pengetahuan dari sekadar sebuah asosiasi, dan tidak menciptakan perkumpulan orang-orang yang tepat, yang dapat memindahkan jiwa.
(Abdul Majid Tanti)
