Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Abu Yazid dan Hati Sufi di Bashrah

Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Secara langsung dan tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”.

Syaikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: “Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah”.
“Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya sang sufi.
“Cukup” jawab Syaikh Abu Yazid.
“Ada berapa?” sang sufi bertanya lagi.
“200 dirham” jawab Syaikh Abu Yazid.

Sang sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: “Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali”.

Ternyata Syaikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada sang sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya sang sufi itu mengungkapkan: “Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka’bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka’bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka’bah semenjak didirikannya, sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya”.

Syaikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan sang sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: “Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju ka’bah” perintahnya.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang wali super agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang wali besar (wafat tahun 645 H.) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada seorang wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).

July 11, 2011 Posted by | Abu Yazid Al Busthami | Leave a comment

Riwayat Sholawat Badar

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar.

Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai `Ali Manshur adalah anak saudara/keponakanKiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.

Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai `Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika itu, Kiyai `Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ.

Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai `Ali, yang memang mahir membuat syair `Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai `Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai `Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai `Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai `Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai `Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib `Ali bin `Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai `Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai `Ali menerima para tamu istimewanya tersebut. Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib `Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai `Ali tersebut. Tentu saja Kiyai `Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib `Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai `Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai `Ali, Habib `Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai `Ali tersebut.

Selanjutnya, Habib `Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yang diundang diantaranya ialah Kiyai `Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai `Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul “ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU” yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan. semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah…..

Sholawat badar merupakan , pernghormatan, pujian, pengakuan dan rasa syukur bagi para Syuhada perang Badar. Hal seperti ini dilakukan pula di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan iringan rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut

[47.76]/4750 Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari” karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan “katakanlah apa yang ingin kamu katakan”

Bermanfaat untuk amal sholeh (amal kebaikan) saja sekaligus memeriahkan sebuah keramaian / pertemuan.

Bisa sebagai pengganti sedekah ketika tidak punya harta yang bisa disedakahkan

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 3 Comments

Kita Menggugat Qur’an Menjawab

Ya Allah… ‎​KENAPA AKU DIUJI ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. Al-Ankabut : 2-3 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

KENAPA AKU TAK MENDAPAT APA YG AKU INGINKAN ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. Al-Baqarah : 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui

KENAPA UJIAN SEBERAT INI ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. Al-Baqarah : 286 “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

KENAPA FRUSTASI?

QURAN MENJAWAB :

Qs. Al-Imran : 139 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang2 yg beriman

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. Al-Baqarah : 45 “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata.

APA YANG AKU DAPATÂ ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. At-Taubah : 111 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mu’min, diri, harta mereka dengan memberikan jannah utk mereka”

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP ?

QURAN MENJAWAB :

Qs. At-Taubah : 129 “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal.

AKU TAK SANGGUP !!

QURAN MENJAWAB :

Qs. Yusuf : 12 “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

TOLONG, AKU BUTUH JALAN KELUAR!

Al Qur’an menjawab:

QS 65: 2 – 3.

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah akan dijadikan baginya jalan keluar Dan diberinya rizqi dari arah yang TIDAK DISANGKA-SANGKA.

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 3 Comments

Jemputlah Dia yang Menggumamkan Namamu!

Oleh : KH. Jalaluddin Rakhmat

Pada pertengahan tahun enam puluhan, saya membentuk keluarga sederhana di tengah tetangga-tetangga yang sederhana dan di perumahan sangat sederhana. Pendapat saya tentang agama juga sederhana. Pegangan saya Al-Quran dan hadis, titik. Saya tidak suka pada peringatan maulid, karena tidak diperintahkan dalam Al-Quran dan hadis. Saya tidak suka salawat yang bermacam-macam selain salawat yang memang tercantum dalam hadis-hadis sahih. Saya senang berdebat mempertahankan paham saya. Saya selalu menang, sampai saya bertemu dengan Mas Darwan.

Mas Darwan adalah orang yang jauh lebih sederhana dari saya. Mungkin pendidikannya tidak melebihi sekolah dasar. Ia pensiunan PJKA. Usianya boleh jadi sekitar enam puluhan. Tetapi penderitaan hidup membuatnya tampak lebih tua. Pendengarannya sudah rusak. Karena itu, ia sedikit bicara, banyak bekerja. Ia sering memperbaiki rumahku tanpa saya minta. Ia sangat menghormati saya, yang dianggapnya seorang kiyai muda di kampung itu. Padahal ia tahu bahwa saya selalu datang terlambat ke mesjid untuk salat subuh.

Untuk mengisi waktunya, ia mencangkul petak-petak kosong yang terletak di antara rel kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Ia menanaminya dengan ubi. Pada suatu hari, ketika ia asyik mencangkul, kereta api cepat dari Yogya menyenggol belakangnya. Ia jatuh terkapar berlumuran darah. Ketika saya mengunjunginya di kamar gawat darurat, saya mendapatkan tubuh Mas Darwan sudah dipenuhi dengan slang-slang transfusi. Saya melihat matanya mengedip padaku dan pada isterinya. Istrinya mendekatkan telinganya ke mulut Mas Darwan. Saya tidak mendengar apa-apa. Sesaat kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir.

Saya pulang dengan sedih dan rasa ingin tahu. Apa gerangan yang dibisikkan oleh Mas Darwan pada detik-detik terakhir kehidupannya? Pada hari berikutnya, isterinya mengantarkan nasi tumpeng ke rumahku. Saya hampir menolaknya, karena saya tidak suka selamatan kematian yang biasa disebut sebagai tahlilan. Isterinya bertutur, �Pak Kiyai ingat ketika Masku berbisik padaku? Ia berpesan: Bulan ini bulan maulid. Jangan lupa slametan buat Kanjeng Nabi saw.�

Pada saat-saat terakhir, Mas Darwan tidak ingat petak-petak ubinya. Ia lupa isteri dan anak-anaknya. Ia lupa dunia dan segala isinya. Yang diingatnya pada waktu itu hanyalah Rasulullah saw. Kepongahan saya sebagai orang yang mengerti agama runtuh. Mas Darwan tidak banyak membaca hadis atau tarikh Nabi saw. Ia memang buta huruf. Ia hanya mendengar tentang Nabi dari guru-gurunya. Ia tidak mengerti apa bedanya sunah dan bid�ah. Ia hanya tahu bahwa Kanjeng Nabi adalah sosok manusia suci yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Tak terasa airmata menghangatkan pipiku. Saya hanya bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Mas Darwan dengan dua patah kata: Cinta Nabi.

Mas Darwan memiliki kecintaan kepada Rasulullah saw yang jauh lebih tulus dariku. Kemampuanku berdebat habis dibakar oleh api cintanya. Pesan terakhir Mas Darwan adalah definisi cinta yang paling tepat. �Tidak mungkin cinta didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi. Definisi cinta dalah wujud cinta itu sendiri. Cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas daripada apa yang digambarkan oleh cinta lagi,� kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin.

Continue reading

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Keteladanan Yang Sangat Menakjubkan

Seorang pemuda hendak pergi ke kota makkah untuk menunaikan ibadah umrah, ia pun menyiapkan bekal dan kendaraan dan setelah semua siap maka berangkatlah ia menuju makkah, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, pemuda itu menemukan tempat yang teduh, rimbun ditubuhi oleh tanaman dan rerumputan, iapun berhenti sejenak untuk beristirahat, duduk dibawah sebuah pohon tak lama kemudian ia tertidur lelap.

Selama ia tertidur, ontanya mulai berjalan dari satu tempat ketempat yang lain dan akhirnya masuk kedalam sebuah kebun, ia memakan buah-buahan, tanaman dan merusak setiap tempat yang dilaluinya, adapun penjaga kebun itu adalah seorang kakek yang sudah tua, ia berusaha mengusir onta itu keluar dari kebunnya namun usahanya tidak berhasil, karena kuatir onta itu akan merusak semuanya maka ia pun membunuhnya.

Ketika pemuda itu bangun dari tidurnya, ia mencari ontanya yang hilang, tak lama kemudian ia menemukan ontanya sudah mati didalam kebun, tak lama kemudian datanglah kakek yang membunuh ontanya, pemuda itu bertanya :” siapa yang telah membunuh onta ini?”. Maka kakek itu menjelaskan apa yang telah dilakukan ontanya terhadap pepohonan yang ada di kebun itu dan menyebabkan ia membunuhnya. Mendengar cerita itu si pemuda sangat marah, iapun memukul orang tua itu sehingga ia meninggal dunia.

Pemuda itupun menyesali perbuatannya, ia berfikir untuk melarikan diri tapi keburu ditangkap oleh kedua anak penjaga kebun itu dan membawanya kehadapan amirul mu`minin umar ibnul khattab, agar pemuda yang membunuh ayahnya itu dijatuhi hukum qishash.

Khalifah bertanya kepada pemuda itu, dan ia membenarkan apa yang telah ia lakukan, dan ia menyakatan penyesalan yang mendalam atas apa perbuatan tersebut.

Kata khalifah umar :” tidak ada jalan lain bagimu selain hukum Allah”.

Pemuda itu minta kepada khalifah menunda hukuman untuk mengizinkannya pulang ke kampungnya selama 2 hari untuk menyelasikan urusan hutang piutang dan mengabarkan hal itu kepada keluarganya .Khalifah berkata :” datangkan orang yang bisa menjaminmu bahwa kamu akan kembali lagi kesini, jika kamu tidak kembali maka kami akan melaksanakan hukuman itu kepadanya sebagai penggantimu”.Pemuda itu berkata :” ya amiral mu`minin, saya adalah musafir di negri ini karena itu saya tidak sanggup mendatangkan orang yang akan menjaminku”.

Saat itu sahabat yang mulia, abu dzar al-ghifari sedang berada ditempat itu, lalu ia berkata kepada khalifah :” ya amiral mu`minin, kepalaku ini menjadi jaminannya jika pemuda ini tidak kembali dalam dua hari”.Dengan ta`jub khalifah berkata :” apakah anda yang akan menjadi jaminan bagi dirinya hai sahabat rasulillah?”Abu Dzar berkata :” na`am ya amiral mu`minin..”

Pada hari pelaksanaan eksekusi semua orang menunggu kedatangan pemuda itu, itulah saat-saat yang paling menegangkan.

Tiba-tiba orang-orang yang hadir ditempat itu melihat dari kejauhan seseorang berlari-lari hingga sampai ketempat pelaksanaan hukuman, semua orang melihatnya dengan wajah keheranan, ternyata ia adalah pemuda itu..

Khalifah bertanya :” wahai pemuda, mengapa engkau kembali lagi, padahal kamu bisa menghindari darimu dari kematian?”Pemuda itu menjawab :” ya amiral mu`minin, aku melakukan semua ini, agar manusia tidak beranggapan bahwa menepati janji dikalangan kaum muslimin sudah tidak ada lagi”.
Khalifah memandang kepada sahabatnya abu dzar lalu berkata :” dan kamu wahai abu dzar, mengapa kamu berani melakuakan ini, sementara kamu tidak mengenal pemuda ini?”Abu Dzar menjawab:” aku lakukan hal ini supaya manusia tidak beranggapan bahwa tanggung jawab dan sikap kesatria sudah tidak ada lagi detengah kaum muslimin”.

Ketika itulah kedua pemuda, anak dari kakek yang dibunuh tadi berkata :” giliran kami ya amiral mu`min, saksikanlah olehmu bahwa kami telah memaafkan pemuda ini dan kami batalkan tuntutan kami, jangan sampai orang mengatakan tidak ada lagi maaf dikalangan kaum muslimin, tidak ada hal yang lebih utama selain memafkan selagi bisa membalas”.

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 2 Comments

Keberkahan Seuntai Kalung Putri Rasul Yang Mulia

Kalung yang mengenyangkan orang lapar, menutupi yang telanjang dan mencukupi yang miskin serta membebaskan seorang budak.

Seusai shalat berjamaah, Rasulullah saw duduk dan para sahabat melingkari beliau tiba-tiba datang seorang tua yang hampir saja tak berdaya menopang tubuhnya karena lapar.

Orang tua itu berkata : ” Ya Rasulallah, aku kelaparan, berilah aku makan, aku tidak punya pakaian, beri aku pakaian dan aku miskin beri aku kecukupan “. Rasul yang dermawan itu berkata : ” Aku tak punya apapun untukmu, akan tetapi orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan ganjarannya sama dengan orang yang melakukannya, karena itu cobalah datang ke rumah orang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, tentu dia akan mendahului Allah ketimbang dirinya sendiri, pergilah ke rumah Fatimah, hai Bilal, tolong antarkan ia ke rumah Fatimah.

Maka berangkatlah mereka ke rumah putri Rasul yang mulia Fatimah, sesampainya didepan rumah Fatimah, ia memanggil dengan suara keras : assalamu`alaikum, wahai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dimana Jibril as menurunkan alqur`an dari Rab semesta alam “.

Setelah menjawab salam, Fatimah bertanya : ” siapakah bapak? ” Ia menjawab : ” aku orang tua dari suku arab baduy, aku telah bertemu ayahmu, pemimpin umat manusia, sementara aku wahai putri Rasul, adalah orang yang tidak berpakaian, lapar dan miskin, bantulah aku, semoga Allah memberkahimu “.

Saat itu, Rasulullah dan Keluarga beliau juga sedang mengalami kesulitan yang sama, sejak tiga hari lalu mereka belum makan, Rasul pun mengetahui kondisi mereka, maka Fatimah pun mengambil kulit domba yang biasa dipakai Hasan-Husain untuk alas tidur kedunya.

” Ambillah ini, semoga bapak mendapatkan sesuatu yang lebih baik darinya ” kata Fatimah sambil memberikan kulit itu. Orang tua itu berkata : ” Wahai putri Nabi, aku mengadukan keadaanku yang lapar, tapi engkau hanya memberi kulit domba ini ? apa yang bisa aku perbuat dengan kulit ini? “.

Mendengar ucapan orang tua itu, Fatimah mengambil kalung yang dikenakanya dan hanya itulah satu-satunya milik yang paling berharga, diserahkanya kalung tersebut sambil berkata : ” Ambillah ini dan juallah. Semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik “.

Orang itupun menerima kalung itu dengan gembira lalu pergi ke masjid untuk menjumpai Rasulullah, sesampainya di masjid ia menigatakan kepada Rasulullah : ” Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata : ” Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik “.

Mendengar itu, Rasulullah pun menangis. Ammar pun berdiri seraya berkata : “Ya Rasulallah apakah anda mengizinkanku untuk membeli kalung itu? “. Rasulullah menjawab : �Belilah wahai Ammar, sekiranya jin dan manusia ikut membelinya tentu Allah tidak akan menyiksa mereka dengan api neraka�. Ammar bertanya : �Dengan harga berapa engkau akan menjual kalung itu wahai saudaraku?�.

Orang itu menjawab :�Seharga roti dan daging yang akan menghilangkan rasa laparku, selembar kain yaman yang akan menutupi auratku agar aku dapat shalat menghadap Rabbku dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluargaku�.

Kemudian Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ia berkata kepada orang arab baduy itu : “Anda akan saya beri uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain yaman, kendaraanku untuk mengantarkanmu sampai ke rumahmu dan rasa kenyang dari roti dan daging�. Orang itu berkata : �Duhai, betapa pemurahnya tuan ini. Semoga Allah memberkahi anda wahai tuan yang mulia�.

Ammar mengajak orang itu ke rumahnya dan memberikan semua yang dijanjikan kepadanya. Kemudian orang itu menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang kemudian berkata : �Sudahkah anda kenyang dan berpakaian?� Orang itu berkata : “Sudah Ya Rasulallah, bahkan demi Allah, aku menjadi orang yang kaya saat ini�. Rasulullah bersabda :�Jika demikian, balaslah Fatimah atas perbuatannya�.

Orang itu berdoa :� Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan, kami tidak mengabdi melainkan hanya pada-Mu. Ya Allah berilah kepada Fatimah hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbayang oleh hati manusia�.

Rasulullah mengamini doa orang itu lalu menjumpai para sahabat seraya berkata : “Sesungguhnya Allah telah memberikan hal itu kepada Fatimah di dunia, demikian itu karena aku adalah ayahnya, tidak ada seorangpun yang semisal denganku, Ali adalah suaminya, tidak ada orang yang sebanding dengannya, Allah juga memberinya Hasan dan Husain tidak ada manusia yang semisal dengan keduanya di alam ini keduanya adalah pemimpin pemuda surga�.

Diantara sahabat mulia yang hadir saat itu adalah Miqdad ibn Amr, Ammar, dan Salman radhiyallahu anhum, Rasulullah bertanya : �Maukah aku tambah lagi?� �Mau Ya Rasulallah�. Jawab mereka singkat.

Rasulullah bersabda :�Baru saja malaikat Jibril datang padaku dan berkata : �Jika Fatimah telah dipanggil oleh Allah dan saat di kuburnya akan ditanya, siapa Tuhanmu? Maka ia menjawab : Tuhanku adalah Allah, kemudian ditanya: Siapakah Nabimu? Maka ia akan menjawab : Nabiku adalah ayahku. Siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku seolah dia mengunjungiku pada saat hidupku dan siapa yang berziarah kepada Fatimah, seakan ia berziarah kepadaku�.

Ammar pulang ke rumahnya mengambil kalung itu lalu meneteskan minyak misik dan membungkusnya dengan kain Yaman, ia memiliki seorang budak yang bernama Sahmun yang ia beli dari ghanimah yang didapatkannya saat perang kahibar. Kalung itu diserahkan kepada budaknya seraya berkata : �Berikan ini kepada Rasulullah dan engaku sendiri aku hadiahkan untuk beliau�.

Budak itupun mengambil bungkusan kalung tersebut dan membawanya kepada Rasulullah lalu menyampaikan apa yang dikatakan Ammar. Rasulullah bersabda : “Pergilah kepada Fatimah, berikan kalung itu kepadanya dan engkau menjadi miliknya�. Datanglah budak itu menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah kepada Fatimah, Fatimah lalu menerima kalung itu, kemudian membebaskan Sahmun dari statusnya sebagai budak. Sahmun pun tertawa.

Fatimah bertanya :� Apa yang membuatmu tertawa ya ghulam?� Sahmun berkata : “Betapa besarnya keberkahan kalung ini, inilah yang membuatku tertawa. Kalung ini telah mengenyangkan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menjadikan kaya orang yang miskin dan memerdekakan seorang budak, lalu kembali kepada pemiliknya�.

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 3 Comments

Detik-detik Kepergian Rasulullah SAW

Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada’].

Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang te…rkandung dalam ayat tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya.

Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS.

Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:

“Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya.Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan

mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.”

Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya.

Continue reading

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 6 Comments

Jatuhnya "Benteng Terakhir" Turki Utsmani

*Sultan Abdul Hamid II*

Beberapa referensi sejarah menyebutkan bahwa Sultan Abdul Hamid II pernah berteriak di depan wajah Bapak Zionisme Theodor Herzl, “Pergi dari hadapanku, hai manusia hina!” Ia pun berteriak kepada penjaga pintu yang mengizinkannya masuk, “Tidak tahukah kamu apa yang diinginkan babi ini dariku?” Setelah diusir, Herzl bersama rekannya bankir Yahudi Mizray Qrasow pergi ke Italia. Kemudian Qrasow mengirim telegram kepada Sultan, “Anda akan membayar pertemuan itu dengan nyawa dan kekuasaan Anda.”

Yahudi benar-benar bertekad menjatuhkan Abdul Hamid. Terbukti pada tahun 1904 mereka meledakkan sebuah truk di depan masjid tempat Sultan melaksanakan shalat Jumat, namun Allah menyelamatkannya dari kematian, padahal ketika itu banyak orang yang tewas.

Selanjutnya orang-orang Freemason berkonspirasi untuk menjatuhkan Sultan dari dalam. Mereka memiliki agen-agen yang menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, seperti Thal’at Pasha, Menteri Pertahanan Anwar Pasha, Menteri Pendayagunaan Arstidi Pasha, Gubernur Syam Jamal Pasha, Menteri Keuangan Jawid Pasha (David Pasha), dan Mushthafa Kamal Pasha (Komandan Perang Wilayah Timur Arab dalam Perang Dunia 1).

Lama-kelamaan Sultan merasa dirinya dikelililingi oleh orang-orang yang sudah dibeli oleh gerakan Freemasonry yang memiliki kover organisasi Ittihat we Terrakki (IWT) (Persatuan dan Kemajuan).

Genggaman kekuasaan Sultan sedikit demi sedikit mulai melemah, hingga akhirnya mereka berhasil memaksa Sultan untuk mengumumkan konstitusi baru. Akhirnya Sultan membentuk Majalis Mab’utsan (semisal Dewan Perwakilan Rakyat) yang di dalamnya bisa dimasuki orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Mizray Qrasow sendiri masuk dalam majelis tersebut.

Konstitusi tersebut diumumkan pada tahun 1908. Pengumuman konstitusi baru ini adalah dianggap sebagai kemenangan besar bagi orang-orang Kristen dan Yahudi di berbagai belahan dunia, sampai-sampai George Zaidan, tokoh Kristen pemilik Darul Hilal, menghadiahkan bukunya yang berjudul Al-lnqilab Al-‘Utsmani (Revolusi Utsmaniyah) kepada orang-orang yang dianggapnya pahlawan tersebut.

Kemudian Majalis Mab’utsan bersidang untuk mengeluarkan surat pernyataan dilengserkannya Sultan. Dalam momen ini hakhom Yahudi Konstantinopel yang bernama Nahum Haym memiliki peran sangat menonjol. Ada tiga orang, yang kemudian mengajukan surat pencopotan tersebut kepada Sultan, yaitu Mizray Qrasow, Arstidi Pasha, dan Arif Hikmat, perwira angkatan laut yang ibunya menjadi pelayan di istana Sultan. Untuk mengamankan revolusi, orang-orang Freemason berhasil menggerakkan tentara di bawah pimpinan Mahmud Syaukat, seorang komandan berdarah Arab.

Pelengseran Sultan Abdul Hamid dari tampuk khilafah terjadi pada April 1909. Ini adalah pukulan yang sangat telak bagi umat Islam. Pada malam ketika Sultan Abdul Hamid turun tahta, bisa dikatakan bahwa Islam secara nyata telah disingkirkan dari kehidupan bernegara dan masyarakat, dan pada dasarnya Palestina juga sudah jatuh ke tangan Yahudi.

Anwar Pasha—salah satu tokoh Freemason dan aktor di balik pemberontakan terhadap Sultan—pernah berkata dengan nada “penyesalan” kepada Jamal Pasha, “Wahai Jamal, tahukah kamu apa dosa kita? Kita tidak mengenal dengan baik siapa itu Sultan Abdul Hamid sehingga kita diperalat oleh Zionis. Orang-orang Freemason internasional telah membeli kita sehingga kita mengerahkan segala upaya demi kepentingan Zionis. Inilah dosa kita sebenarnya.”

Continue reading

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 6 Comments

Islambul, Bukan Istanbul

Kota Istanbul di Turki, memiliki sejarah yang panjang. Ketika mendengar nama kota ini disebut segera yang terbayang dibenak kita ialah gambaran kebesaran imperium Utsmani. Dan memang, di kota ini banyak terdapat situs peninggalan kekaisaran Turki Utsmani. Situs-situs bersejarah itu menginformasikan betapa besar dan kuatnya Turki Utsmani di bawah para khalifahnya untuk menembus wilayah-wilayah Eropa membawa agama Islam.

Kota ini didirikan pada abad ke-7 SM. Pada tahun 330 M, kota itu dijadikan sebagai ibu kota Romawi oleh Konstantin di tempat koloni Yunani kuno bernama Bizantium, dan dinamakan Konstantinopel untuk sang kaisar. Kota ini menjadi ibukota timur bagi Kekaisaran Romawi dan kemudian menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 395 M. Pada tahun 1453 M, Konstantinopel berhasil direbut oleh Kesultanan Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II.

Peristiwa bersejarah ini merupakan salah satu bukti kebenaran nubuwat Rasulullah *shalallahu alaihi wassalam*, Sebab, beliau pernah bersabda bahwa Konstantinopel akan dikuasai oleh umat Islam. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Abdullah bin Amru bin Ash ditanya, “Yang manakah di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu? Konstantinopel ataukah Roma?” Maka beliau memerintahkan seseorang untuk mengambil sebuah kotak yang ada padanya. Lalu, kotak itu diberikan kepadanya. Dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya secarik kertas. Lantas beliau berkata, “Ketika kami sedang menulis bersama Rasulullah *shalallahu alaihi wassalam*, beliau ditanya: yang mana di antara kedua kota ini yang ditaklukkan terlebih dahulu. Konstantinopel ataukah Roma. Beliau menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”

Rasulullah telah mengucapkan kata-kata itu sejak 850 tahun sebelum pembebasan Konstantinopel terjadi. Dan Konstantinopel memang benar-benar ditaklukkan. Rasulullah juga memberi kabar gembira bahwa pasukan yang menaklukannya adalah sebaik-baik pasukan, sedangkan panglimanya adalah sebaik-baik panglima.

*Menembus Eropa*

Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah *shalallahu alaihi wassalam* dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik yang mampu membebaskan Kontantinopel.

Sejak Rasulullah *shalallahu alaihi wassalam*, masih hidup, beliau sudah berupaya mengajak penguasa Konstatinopel agar mau memeluk Islam. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi t telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius Raja Romawi.

*Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda. Amma ba’du*,

*”Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam-lah, maka Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Namun jika Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”*

Continue reading

May 23, 2011 Posted by | Kisah Hikmah | 1 Comment