Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Seperti Akhwari Yang Tetap Berlari Untuk Bangsa & Negara

……..Siapapun yang memandang kehormatan sebagai sesuatu yang penting, maka dia pasti akan bekerja keras, gigih dan bertekad kuat untuk melakukan yang terbaik. Karena itu, kehormatan sesungguhnya adala hal yang sangat layak kita pertaruhkan.

Event Olimpiade di Meksiko tahun 1968, menyisakan sebuah cerita kegigihan yang menarik untuk kita simak. Ketika itu, peraih medali lomba marathon telah usai diumumkan. Para penonton pun sudah mulai beranjak meninggalkan stadion. Namun sesaat kemudian, mereka dikejutkan dengan pengumuman bahwa masih ada pelari yang akan segera memasuki stadion. Penonton pun kaget, mereka mengira perlombaan telah selesai. Tak lama, dari kejauhan terlihat seorang pelari masuk stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, tapi hanya bisa berlari-lari kecil karena kaki kanannya terlukan dan berbalut perban.

Serentak seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali bergemuruh memberikan penghormatan. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan diteriakkan untuknya. Dan ini membuat pelari tersebut terus bersemangat hingga kemudian menyentuh garis finish. Dia berhasil, di saat tidak ada lagi pelari lain yang tersisa. Dia adalah pelarih terakhir dalam perlombaan itu. Dia finish saat hari telah malam.

Dialah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mewakili negaranya di event itu. Dia cedera karena di tengah perlombaan sempat terjatuh, sehingga lutut dan betisnya terluka. Akan tetapi, keadaan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mengakhiri lomba berjarak sepanjang puluhan mil itu. Ketika ditanya oleh wartawan mengapa ia tidak mengundurkan diri saja, dia menjawab sederhana tapi penuh makna.

“My country did not send me to Mexico City to start the race. But They sent me to finish!”.(negara saya tidak mengirim saya hanya untuk memulai perlombaan, tetapi mengirim saya untuk menyelesaikan perlombaan).

Akhwari memang tidak merebut medali perunggu, perak, apalagi emas. Tapi dia juga pemenang. Bahkan pemenang yang luar biasa. Dia telah membuktikan kepada dunia apa yang dinamakan kehormatan. Dia adalah contoh bagaimana menyelesaikan sesuatu yang telah dimulainya. Dia adalah teladan dalam memperjuangkan kehormatannya.

Dia adalah cermin kesungguhan dan kejujuran dalam berbuat, bagi kita yang sering kalah setelah memulai, hanya oleh hambatan-hambatan kecil. Dia adalah contoh pejuang kehormatan untuk bangsanya dan keluarga besarnya. Jika kita jauh dari keluarga karena menuntut ilmu, maka pelihara kehormatan mereka dengan belajar yang rajin. Jika kita meninggalkan mereka untuk urusan nafkah, jaga kehormatan mereka dengan mencari pekerjaan-pekerkaann yang halal dan legal. Bekerjalah dengan gigih dan jangan mudah menyerah.

dikutip dari Rubrik Dirosat (Kajian Utama) Majalah Tarbawi Edisi 236, Th. 12…sedikit disunting/edit.

January 3, 2011 - Posted by | Kisah Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: