Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Imam Hasan al Banna Ajarkan cara membantah

Sebuah artikel yang dimuat di harian umum Al-Ahraam telah membuat Hasan al Banna dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir.

Tak pelak, umat Islam di Mesir marah. Mereka pun langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang muslim bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Hasan al Banna.

Ya, Ustad. Bagaimana pendapat Anda? tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.

Saudaraku, artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu.

Tapi kata Sang Imam.

Tapi apa ya, Ustad? tanya Mahmoud heran. Wajah ulama yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangannya.

Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika jadi dimuat, ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud. Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian Al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Rata-rata mereka tidak membacanya dengan serius, jelas Hasan Al Banna.

Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu. Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, akan timbul beberapa titik rawan. Di antaranya, justru akan mengekspose artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudarat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya, tutur Sang Imam pelan.

Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

Saudaraku, bantahan adalah salah satu bentuk tantangan yang akan memancing sikap keras bagi yang dibantah. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi bantahan itu akan membuatnya bersikukuh kepada kesalahannya. Ketahuilah saudaraku, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, tujuannya menulis artikel itu bukanlah untuk mengungkapkan apa yang menjadi keyakinannya. Melainkan sekadar mencari perhatian dengan cara menghalalkan segala cara.

Saudaraku, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu tobat baginya. Si Fulan itu masih muda. Membukakan pintu kebenaran baginya jauh lebih baik daripada melemparkannya jauh-jauh dari kebenaran yang sebenarnya menjadi hak dia. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi? Sang Imam menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah SWT telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi budunnazar (pandangan yang jauh ke depan), sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. Anda benar sekali ya, Ustad. Saya setuju dengan pendapat Anda, ujar Mahmoud.

***

Waktu terus berlalu, artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah.

Ia telah mempersembahkan kepada ummat, tafsir Alquran yang sangat luar biasa Fi Zilalil Quran, yang ia tulis selama di dalam penjara. Dialah Sayyid Quthub!

January 3, 2011 - Posted by | Kisah Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: