Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Wasiat – wasiat akhir hayat dari Umar bin Khaththab RA

Saat – saat Kritis Umar

Disebutkan bahwa Umar ra ditikam setelah mengatakan, “Dirikanlah shaf – shaf kalian!” kepada orang – orang di masjid dan baru hendak melakukan takbhiratul-ihram.

Akibat tikaman itu Umar roboh. Umar pun digotong menuju rumahnya. Saat itu matahari hampir terbit. Abdurrahman langsung menggantikan Umar ra mengimami shalat subuh dengan membaca surat pendek pada kedua rakaatnya. Dalam waktu yang kritis itu, orang – orang segera memberikan nabiz kepada Umar. Namun, nabiz yang diminumkan itu keluar lewat luka – luka bekas tikaman. Mereka pun lalu meminumkan susu, tapi susu itu juga keluar dari lukanya. Melihat demikian orang – orang menenangkanya, “Tak ada yang perlu engkau khawatirkan.”

Umar pun berkata, “Tentu, sebab sekiranya ada yang pelu dikhawatirkan karena pembunuhan, pasti sekarang aku sudah mati terbunuh!”

“Demi Allah!” Umar melanjutkan perkataannya, “Aku ingin, ketika aku meninggalkan dunia ini, aku berada dalam keadaan dengan rezeki apa adanya. Tiada kewajiban yang harus aku bayar dan hak yang harus kuambil. Sungguh persahabatanku dengan Rasulullah saw, suci murni.”

Saat itu terdengar Ibnu Abbas ra memuji Umar.

Umar ra berkata, “Seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi ini, sungguh akan aku pergunakan untuk menebus diriku dari malapetaka hari kiamat. Adapun perkara kekhalifahan, aku serahkan pada permusyawaratan Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair ibnul Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. ” Umar ra pun memerintahkan Shuhaib untuk mengimami shalat.

Dalam saat – saat kritis itu, Umar juga mengatakan, “Segala puji bagi Allah, yang telah tidak mentukan kematianku di tangan orang yang mengaku dirinya muslim.”

Umar kemudian memanggil putranya, Abdullah dan berkata, “Wahai Abdullah, periksalah berapa jumlah hutangku semua!”

Setelah dihitung, ternyata jumlah hutang Umar sebanyak 86 ribu atau sekitar itu. Maka Umar berkata, ” Jika harta keluarga Umar cukup untuk menutupi utang – utang tersebut, bayarlah dengan harta mereka! Namun bila tidak cukup, tolong minta sisanya kepada Bani Addi. Dan bila masih tidak cukup juga, tolong minta kepada kaum Quraisy!”

Umar kemudian menyuruh Abdullah, “Dan sekarang, wahai Abdullah, pergilah kamu menjumpai Ummul Mukminin, Aisyah, dan katakan kepadanya bahwa Umar mohon diizinkan untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a).”

Abdullah segera menemui Aisyah r.a dan menyampaikan pesan ayahnya. Aisyah pun berkata, “Sebenarnya, tempat itu ingin kuperuntukkan untuk diriku sendiri, akan tetapi pada hari ini aku lebih mengutamakan Umar daripada diriku.”

Abdullah kemudian kembali kepada ayahnya untuk memberitahukan baahwa Ummul Mukminin memperkenankan permintaanya. Mendengar hal itu, Umar mengucapkan. “Alhamdulillah.”

Ketika itu ada salah seorang yang hadir di sana dan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, angkat dan wasiatkanlah bagi kami seorang khalifah penggantimu!”

Umar menjawab, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih pantas dalam masalah ini selain beberapa orang yang pada saat Rasulullah saw wafat, beliau ridha terhadap mereka.”

Umar ra lantas menyebutkan enam nama sahabat, yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair ibnul Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Ikut hadir bersama mereka Abdullah bin Umar, akan tetapi ia tidak menentukan apa – apa dalam perkara ini. Selain itu Umar ra juga mewasiatkan seperampat dari hartanya.

Wasiat Umar kepada Khalifah Sesudahnya

Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah swt. Yang tiada sekutu bagi-Nya.

Aku wasiatkan kepadamu agar memperlakukan kaum Muhajirin yang terdahulu dengan baik, yaitu dengan menghormati mereka karena hijrah mereka.

Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan kaum anshar dengan baik, sambutlah kebaikan mereka dan maafkanlah kesalahan mereka.

Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan penduduk setiap kota dengan baik karena mereka adalah penolong Islam, pemanas hati musuh, dan pemungut cukai. Janganlah engkau memungut pajak mereka jika kalau karena kebaikan mereka memberikannya.

Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan penduduk desa dengan baik karena mereka adalah asal bangsa Arab dan termasuk Maddatul Islam. Hendaklah engkau mengambil yang berlebih dari harta benda orang – orang kaya diantara mereka untuk kemudian engkau serahkan kepada fakir miskin diantara mereka.

Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan ahludz dzimmah (kafir zimmi) dengan baik, membela mereka dari serangan musuh mereka, dan jangan engkau membebani mereka dengan sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Lakukan hal itu bila mereka menunaikan kewajiban kepada kaum muslimin baik secara suka rela maupun terpaksa.

Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, berhati – hatilah dari -Nya dan takut akan murka – Nya.

Aku wasiatkan kepadamu agar takut kepada Allah dalam menjaga hak manusia dan jangan takut kepada manusia dalam menjaga hak Allah swt.

Aku wasiatkan kepadamu agar berlaku adil kepada rakyat. Curahkanlah pikiran, tenaga, dan waktumu untuk memenuhi kebutuhan mereka, serta janganlah engkau lebih mengutamakan si kaya daripada si miskin. Semua itu adalah pemberi ketentraman bagi hatimu dan penghapus dosamu. Kebaikan akan menjadi balasan perbuatanmu itu.

Aku perintahkan engkau untuk bertindak tegas dalam masalah yang menyangkut perintah, batasan – batasan, larangan – larangan Allah, baik kepada orang yang dekat maupun orang yang jauh denganmu. Jangan engkau kasihani seorangpun yang menyalahi perintah Allah karena bila itu terjadi, maka engkau telah ikut melanggar kehormatan Allah, sama sepertinya. Bersikaplah sama rata kepada semua orang, dan jangan sampai celaan orang yang mencela memalingkan engkau dari jalan Allah.

Janganlah sekali – sekali engkau menunjukan rasa suka dan bersikap lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri daripada orang lain pada harta rampasan yang diamanahkan Allah kepadamu untuk orang – orang mukmin. Hal itu akan membuatmu bertindak aniaya dan zalim dan dengan begitu engkau telah mengharamkan kepada dirimu sendiri dari apa yang telah Allah halalkan untukmu.

Sesungguhnya engkau telah berada di salah satu kedudukan dunia dan akhirat. Bila dalam kehidupan duniamu engkau berusaha berpaling dan zuhud dari hal – hal yang dihalalkan oleh Allah kepadamu, berarti engkau telah mengerjakan iman dan ridha di dunia. Namun jika hawa nafsu dapat mengalahkanmua, maka engau telah mengerjakan yang dimurkai Allah.

Aku wasiatkan kepadamu, jangan engkau izinkan dirimu, begitu pula selain dirimu untuk menzalimi ahludz dzimmah.

Aku wasiatkan kepadamu, menganjurkan, dan menasehatimu untuk mencari keridhaan Allah dan keberuntungan di akhirat. Akau pilih menunjukimu dengan hal – hal yang juga aku pakai untuk menunjuki dan juga anaku. Sekiranya engkau melaksanakan nasehatku dan menjalankan perintahku, maka engkau akan memperoleh bagian yang berlimpah dan keuntungan yang memadai. Namun jika engkau tidak menerima dan tidak peduli akan nasihatku, dan juga tidak bermusyawarah dengan orang lain untuk – masalah – masalah besar yang karenanya Allah akan ridha padamu, sesungguhnya yang demikian adalah suatu aib dirimu. Padahal pendapatmu sendiri belum tentu benar karena hawa nafsumu ikut serta di sana.

Peminpinn segala dosa adalah Iblis, ialah yang menyerukan kebinasaan. Iblislah yang telah menyesatkan dan menggiring generasi – generasi terdahulu ke dalam neraka. Akan menjadi yang paling buruk bila seseorang berlindung kepada musuh Allah, musuh yang menyeru untuk bermaksiat kepada-Nya.

Tunggangilah kebenaran dan ceburkan dirimu dalam kesusahpayahan menuju kebenaran. Jadilah engkau penasihat bagi dirimu sendiri. Demi Allah, aku berharap ketika engkau berdoa, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kaum muslimin, engkau juga menghormati yang tua, menyayangi anak kecil, serta memuliakan ulama – ulama mereka.

Janganlah engkau memukul mereka karena hal itu akan membuat mereka merasa rendah dan terhina. Jangan memonopoli kharaj karena jika itu dilakukan, sama saja engkau menyulut kemarahan mereka. Jangan menghalangi pemberian – pemberian diperuntukkan mereka karena hal itu akan menjatuhkanmu dalam kemiskinan. Jangan mengumpulkan mereka untuk tujuan – tujuan tertentu atau menghalangi mereka untuk kembali kepada keluarga mereka karena hal itu akan memutuskan keturunan mereka.

Janganlah engkau membiarkan harta kekayaan mereka berputar di antara orang – orang kaya saja. Buka pintu rumahmu untuk menerima pengaduan mereka, agar yang kuat di antara mereka tidak memakan yang lemah. Inilah wasiatku, dan aku persaksikan kepada Allah keselamatan bagimu.

Wasiat Umar r.a Sebelum Wafat

Ma’dan bin Abi Thalhah dan Juwairiyah bin Qudamah meriwayatkan, “Tidak lama setelah terkena tikam, Umar r.a. mengizinkan para sahabat – sahabat Rasulullah saw. dari kaum Muhajirin untuk menjenguknya, menyusul kemudian para Anshar, dan setelah mereka adalah penduduk Madinah, Syam dan Irak, sedangkan kami adalah orang terakhir yang menjenguk Umar r.a. Ketika kami masuk, kami melihat luka Umar telah dibalut dengan kain bergaris bewarna hitam yang biasa ia gunakan untuk membalut atau menyelimuti badan. Saat itu masih tampak darah yang mengalir di atasnya.

Dalam keadaan seperti itu, kami meminta agar ia mewariskan sesuatu kepada kami. Saat itu kebetulan baru kami yang memintakan hal tersebut kepadanya.

Umar r.a. berkata, “Aku wasiatkan kalian agar berpegang teguh pada Kitabullah. Percayalah, kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian mengikutinya. Jagalah baik – baik kaum Muhajirin karena ketika kaum lain bertambah banyak, mereka justru berkurang. Jagalah kaum Anshar karena mereka sesungguhnya adalah rakyat dimana Islam telah berlindung kepada mereka. Jagalah kaum badui Arab karena mereka adalah asal dan anasir kalian, saudara kalian, dan musuh bagi musuh kalian. Jagalah ahludz dzimmah karena mereka berada dalam perlindungan Nabi kalian, dan merupakan sumber rezeki untuk anak – anak kalian. Itulah wasiatku kepada kalian dan sekarang beranjaklah dari tempatku!”

Wasiat kepada Abdullah

Ketika ajal menghampiri Umar, ia berpesan kepada Abdullah, “Wahai anakku sayang, laksanakan perilaku – perilaku iman!”

“Apakah perilaku – perilaku iman itu, wahai ayah tercinta?” tanya Abdullah.

Umar menjawab, “Berpuasa di hari – hari yang sangat berat di musim panas, membunuh musuh – musuh Islam dengan pedang, sabar menghadapi musibah, menyempurnakan wudhu di hari yang bercuaca dingin, menyegerakan shalat di hari yang mendung, dan meninggalkan “lumpur maut.”

“Apa itu lumpur maut?’ tanya Abdullah.

“Meminum khamar,” jawab Umar menjelaskan.

Pesan Terakhir

Pada detik – detik terakhir hidupnya, Umar berpesan kepada Abdullah, “Wahai anakku! Manakala engkau melihat maut telah datang menjemputku, miringkanlah tubuhku, tempatkan kedua lututmu tepat di bawah tulang punggungku, serta letakkan tangan kananmu di atas sisi badanku dan tangan kirimu di daguku.

Sesudah nyawaku dicabut, pejamkanlah kedua mataku. Kafanilah aku dengan kain yang sederhana, karena jika bagiku kebaikan di sisi Allah, maka Ia pasti akan menukarkanya dengan yang lebih bagus, tapi bila sebaliknya, maka sungguh Ia akan mencabutnya dariku, dan Dia akan sangat cepat mencabutnya dariku.

Galilah liang kuburku dengan ukuran sedang, karena sekiranya bagiku kebaikan di sisi Allah, niscaya Dia akan melapangkannya sejauh jarak pandangku, namun bila tidak demikian, Dia pasti menyempitkannya sehingga tulang – tulang rusukku bersilangan.

Jangan ada seorang wanita pun yang mengantar jenazahku. Jangan memujiku dengan sesuatu yang tidak kumiliki karena Allah lebih mengetahui tentang diriku. Jika kalian nanti keluar mengantarku ke pemakaman, hendaknya kalian mempercepat langkah kalian karena jika bagiku kebaikan di sisi Allah, maka kalian sedang mengantarkanku kepada apa yang lebih baik bagi diriku, dan jika sebaliknya, maka aku adalah suatu keburukan yang kalian letakkan di atas pundak kalian.”

Wafatnya Umar r.a.

Umar bin Khaththab r.a. ditikam pada hari Rabu, 26 Zulhijjah, dan dimakamkan pada hari Ahad, 1 Muharram 23 H, setelah menjalani hidup selama 63 tahun. Ada pula yang mengatakan 66 tahun. Shalat jenazahnya diimami oleh Shuhaib di Masjid.

(Sumber : Mahmud al-Humawi, Zuhair. Washaaya wa ‘Izhaat Qiilat fi Aakhiril-Hayaat / Wasiat – wasiat akhir hayat dari Rasulullah, Abu Bakar dll, Jakarta : Gema Insani Press, 2003)

May 12, 2008 - Posted by | Kisah Hikmah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: