Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Malaikat Pun Menangisinya

Di Negara teluk ada seorang gadis yang belajar di salah satu perguruan tinggi dengan mengambil jurusan agama, dia di anugerahi oleh Allah suara yang sangat merdu. Setiap malam ia membaca Al-Qur’an di dalam kamarnya. Bacaannya indah sekali.. Setiap dia membaca Al-Qur’an diam-diam ibunya setiap malam mendengarkan dari balik pintu kamarnya, terhanyut dengan suaranya yang begitu indah membaca Al-Quran, dan itu berjalan berhari-hari setiap kali akan beranjak tidur.

Pada suatu hari gadis itu jatuh sakit, lalu keluarganya membawanya ke rumah sakit dan dirawat beberapa lama di sana sampai ajal menjemputnya. Keluarga tersebut betul-betul sok begitu mendengar berita kematian putrinya dari petugas rumah sakit. Terutama bagi sang Ibu, kepergiannya telah meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam. Satu hari pertama setelah kematian putrinya terasa satu tahun.

Setelah kesedihannya berangsur-angsur pulih, pada suatu malam sang ibu mendekati kamar anaknya sekitar jam 01.00 malam, setelah mendekati pintunya ia terhenti karena mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam kamarnya tetapi dengan suara samar. Sang Ibu terkejut dan tidak jadi masuk kamar. Keesokan harinya ia memberitahu anggota keluarganya tentang yang ia dengar semalam dalam kamar anaknya. Lalu anggota keluarga tersebut pergi ke kamar sang “putri” yang telah meninggal tetapi tidak mendapatkan siapa-siapa.

Continue reading

Advertisements

April 10, 2008 Posted by | Kisah Hikmah | 1 Comment

Panrita yang Menembus Semua Zaman

Gurutta dilahirkan dari keluarga bangsawan yang masih kental, sekitar tahun 1900 M, di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, sekitar 7 km sebelah utara Sengkang? Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi.

Kedua orang tua beliau memberi nama Ambo Dale? Ambo berati bapak dan Dalle berarti rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an. (Majalah Amanah No. 61 hal. 2)

Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo itu, Gurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Awalnya, Ambo Dalle belia diserahkan pada seorang bibinya untuk belajar mengaji selama 15 hari dan setelah itu ibunya mengambil alih untuk menggemblengnya setiap hari. Kasih sayang ibu yang sangat dalam kepada anaknya tidak lain karena kekhawatiran yang amat sangat kalau sang putra semata wayang ini mendapat pengaruh yang buruk dari anak sebayanya.

Latar BelakangPendidikan

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | KH Abd. Rahman Ambo Dalle, Kisah Sufi | 15 Comments

Pemuda Yang Berjalan Diatas Air

Diantara cerita yang diriwayatkan mengenai para kekasih Allah atau wali Allah adalah cerita yang diberitakan oleh Zin-Nun rahimahullah, katanya :

Sekali peristiwa, saya bercadang untuk pergi keseberang laut untuk mencari sustu barang yang saya perlukannya dari sana. Saya   pun menempah suatu tempat disebuah kapal. Bila tiba waktu itu aka berangkat , saya lihat penumpang penumpangnya yang menaikki terlalu banyak sekali bilanggannya, yang kebanyakannya dating dari tempat yang jauh , sehingga kapal itu penuh sesak dengan penumpang.

Saya terus mengamati amati wajah wajah penumpang itu, dan saya lihat diantaranya ada seorang pemuda yang sangat kacak rupanya , wajahnya bersinar cahaya, dan dia duduk ditempatnya dalam keadaan tenang sekali,tidk seperti penumpang penumpang lain, terus mundar mandir diatas kapal itu. Udara atas kapal itu agak panas, meski pun angina laut bertiupan, sekali panasnya dating dari sebab terlalu banyak penumpang yang berhimpit hempit diantara satu dengan yang lain.

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Dzunnun Al-Mishri, Kisah Sufi | 5 Comments

Putri Yang Memendam Rindu

Diceritakan lagi dari syaikh Ikbrahim A-khawwas rahimahullah, bahawanya dia berkata:
Pada suatu ketika, rasa hati ku tergetar untuk pergi ke kota rom, seolah olah ada orang yang memanggil manggil nama ku supaya aku berangkat segera kesana. Kemudian aku terfikir ,buat aku kesana. Rom itu adalah tempat kediaman orang orang nasrani yang sangat membenci orang orang islam. Namun begitu hati ku tetap kesitu seperti ada besi berani yang menariknya , maka aku bersiap siap akan berangkat menuja ke kota Rom itu.

Setelah berjaalan beberapa hari, tibalah aku di kota Rom itu. Aku lihat banggunan banggunan nya tinggi tinggi dan teratur. Aku pun lihat rumah rumah orang nasrani itu, dan memerhatikan kawasan kawasan mereka. Dan sukurlah pertolonggan Allah sentiasa menyertai diri ku, dan inayah Nya selalu mengiringi aku. Tidak ada suatu kesusahan pun yang menghalangi perjalanan ku itu. Setiap kali aku bertemu orang orang nasrani itu, mereka memalingkan pandangan nya daripada ku dan terus menjauh kan diri, hingga akhirnya sampailah aku dimuka sebuah gedung yang besar lagi indah pula.

Aku berhenti dan memerhatikan gedung itu, dan kelihatan disitu ada beberapa orang sedang berkumpul, masing masing lengkap dengan senjata nya, dan sitangan mereka pula ada alat alat  penahan diri dari serangan orang. Apabila mereka melihat aku dating , mereka lalu mendekati ku seraya bertanya :
‘Apa kah engkau ini seorang tabib ?’
‘Benar saya adalah seorang tabib,’ aku menjawab dengan tersenyum..
‘kalau begitu bawa dia mengadap paduka Raja /’ jelas yang lain.
‘Buat apa pula saya dibawa mengadap Raja ?’ Tanya ku hairan.
‘Raja perlu kepada tabib seperti engkau ini!’ kata mereka.
Aku pun dibawa mereka untuk menggadap paduka Raja. Aku masih binggung mengapa RAJA Rom mahu mengungdang semua tabib tabit dating keistananya. Ini tentu ada pekara yang penting.

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Ibrahim Al-Khawwas RA, Kisah Sufi | 3 Comments

Berbaik Sangka Kepada Nya

Ibrahim Al-Khawwas berceita lagi ;

Aku meninggalkan negeri ku menuju ke Makkah untuk berhaji, kali ini tampa kenderean dan bekal apa pun. Ditengah perjalanan ,aku tersesat sehingga tidak mengethui arah mana yang harus dituju.
Tiba tiba terlihat oleh ku seorang pendita Nasrani mendatangi ku seraya bertanya::   ‘Wahai pendita muslim ! Bolih aku menemani mu dalam perjalanan ini ?’
‘ Bolih,’ jawab ku kepadanya. ‘Memang kebetulan pula , saya pun tak mempunyai teman yang lain’.

Aku tidak tahu dari mana datangnya pendita Nasrani ini, dan aku pun tidak mahu bertanya. Hati ku berkata syukur aku telah dikurniakan Tuhan seorang teman, kalau tidak tentu aku akan terus sesat tidak tahu hendak menuju kemana.  Kami pun berjalan selama tiga hari tiga malam tampa merasakan makan dan minum. Kamai merasa terlalu lapar sekali,namun begitu masing masing kami terus berdiam diri antara satu dengan yang lain.

Kemudian dengan tiba tiba pendita Nasrari  itu berkata :  ‘Wahai pendita muslim ! apakah kau tidak membawa makanan dan minuman untuk kita menikmati bersama ?’  Mendengar pertanyaan itu , aku agak terkejut sedikit. Selama ini aku berkata dalam hati   ku . apakah si pendita Nasrani ini tidak membawa bekal makanan atau minuman. Sudah tiga hari kita tidak makan dan minum. Rupanya dia tidak punya apa apa, maka dia bertanya pula kepada ku. Apa yang hendak aku katakana kepadanya ?    ‘Ya, ada !’ tiba tiba terkeluar dari mulut ku kata kata yang berani itu.  Mari lah kita nikmati bersama ! usul pendita Nasrani itu dengan wajah yang tersenyum.  Celaka aku! Aku telah berdusta kepada diri ku sendiri. Dimana ada makanan dan minuman yang akan aku keluarkan ?  Wajah ku pucat lesi. Tiada jalan bagi ku  melainkan dengan memohon kurnia dari Allah s.w.t.

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Ibrahim Al-Khawwas RA, Kisah Sufi | 1 Comment

Keluarga Terpilih

Imam Abul Qusim Aljunaid r.a. bercerita :

Sekali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga untuk menziarahi maqam Nabi alaihis-shalatuwasalam, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana ,tiba tiba terdengar oleh telinga ku  suatu suara rintihan  yang melas serta sangat menyayat hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang remuk remdam.

Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung  mengucapkan ..Assalamualaikum, ya Abul Qasim!!..

Waalaikumussalam! Jawab ku penuh kehairanan….Nak, siapakah yang memberitahukan nama ku pada mu, sedangkan kita belum pernah mengenal satu sama lain ?  Aku bertanya kepadanya..

Wahai Abul Qasim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah , wahai Abul Qasim, kalau aku sudah mati, maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah kebukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Junaid Al-Baghdadi, Kisah Sufi | 3 Comments

Hubungan Baik

Syaikh Usman Al-Jurjani-anhu bercerita :

Sekali peristiwa saya meninggalkan negeri Kufan untuk menuju ke Basarah.   Di tengah tengah perjalanan saya temui seorang wanita yang cukup tua, berpakaian baju dari bulu, serta berkerudung rapat.   Ia berjalan sambil berkata … Ya Allah !Alangkah jauhnya perjalanan bagi orang orang yang tidak memiliki petunjuk jalan! Alangkah menakutkan perjalanan itu bagi orang orang yang tidak memiliki teman!

Saya merasa hairan melihat sikap wanita tua ini, lalu saya mendekatinya dan mengucapkan salam  kepadanya .  Ia membalas salam dan bertanya:
Siapa anda ini? , tanyanya ,  moga moga Allah merahmati mu !…

Saya adalah Usman Al-Jurjani, jawab ku.
Oh, semoga Allah memberkati mu, sambungnya lagi.   Hendak pergi kemanakah wahai Usman A-Jurjani ?     saya akan ke Basrah untuk sesuatu keperluan.   Ia bertanya seterusnya:

Hai Usman ! Mengapa tidak anda memberitahu orang yang ada padanya keperluan  mu  tadi datang membawa kepada mu , supaya anda tidak susah susah lagi pergi kepadanya ?!    Oh, saya masih beluh mengenalinya lagi sesunguh pengenalan, dengan penuh kesal.

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Al-Jurjani, Kisah Sufi | 1 Comment

Kisah Abu Dzar R.A, Pejuang Sebatang Kara

Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.

Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), berta’wa dan wara’ (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, dikali lain beliau SAW bersabda, “Abu Dzar — diantara umatku — memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.

Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut ‘La Haula Walaa Quwwata Illa Billah’. ”

Continue reading

April 10, 2008 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment

Kecintaan Abu Dzar Al-Ghifari pada Nabi SAW

Dalam perjalanan menuju perang Tabuk, Abu Dzar tertinggal di belakang pasukan karena beliau mengendarai hewan yang lambat jalannya. Saat mengetahui hal ini, para sahabat memberitahukan hal tersebut Nabi Saw. Nabi Saw memutuskan mendirikan tenda di sebuah tempat terdekat. Sementara itu Abu Dzar yang tertinggal di belakang merasa kecewa dengan kendaraannya, lalu turun dan berjalan kaki.

Saat itu salah seorang sahabat berteriak bahwa ada seseorang dikejauhan sedang menuju kemari. Nabi SAW berkata : ” Ya Allah, semoga itu Abu Dzar.” Sahabat lainnya memberitahu Nabi SAW. bahwa orang itu memang Abu Dzar. Maka Nabi SAW berdo’a: “Semoga Allah SWT mengampuni Abu Dzar ! ia berjalan sendirian, akan mati sendirian dan akan dibangkitkan kembali sendirian,” Kemudian beliau memerintahkan kepada para sahabat agar memberinya air. Tetapi ketika Abu Dzar tiba, beliau melihatnya sedang membawa sewadah air. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Kamu punya air tetapi kamu tampak kehausan? ”

“Ya, Nabi Allah ! Semoga kedua orang tuaku dikorbankan untukmu! Ditengah jalan aku merasa kehausan, lalu aku pergi kesebuah tempat yang ada airnya. Setelah mencicipinya aku merasa sejuk dan enak dan aku berkata pada diriku, tidaklah adil jika aku meminum air ini sebelum Nabi meminumnya” jawab Abu Dzar.

Mendengar ini Nabi Saw berkata , “Wahai Abu Dzar ! Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu! Engkau akan meniti hidupmu kelak dalam kesendirian, mati dalam kesendirian yang jauh dari rumah penduduk, dan kemudian masuk syurga sendirian.

April 10, 2008 Posted by | Kisah Hikmah | Leave a comment