Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

P a h i t

Suatu hari Nasrudina mengeluh pada istrinya, Shakila: “Dulu, waktu baru nikah, setiap kali saya pulang ke rumah, kau membawakan sandal saya dan anjing kita menyambut dengan gonggongan. Kini terbalik, anjing kita yang membawakan sandal, dar kau yang menggonggong.”

Mendengar kegusaran suaminya, Shakila tak kalah tangkas menangkis: “Jangan mengeluh suamiku, bagaimanapun engkau tetap mendapatkar pelayanan yang sama: ada yang membawakan sandal dan ada yang menggonggong.”

Menyelaraskan keinginan memang tak mudah. Ada unsur waktu, ada rasa pakewuh. Tapi, begitu watak asli terkuak seiring dengan rasa bosan yang muncul kecerewetan, ketidaksabaran, dan ketidak bersahajaannya pun mencuat. Begitulah manusia. Cenderung menyukai mengenakan topeng khususnya bila urusan duniawi jadi tujuan pokok.

Mungkin, topeng itu pula yang membuat kita sering terkecoh. Kita suka melihat yang tampak, bukan bagian yang “dalam”. Kita cenderung mencuatkan ego. 

Begitulah jika manusia menekankan keinginan sendiri tanpa menimbang perasaan orang lain. Hatinya kopong. Kesetiaan, penghormatan, perhatian kepedulian, keadilan, kejujuran, semua ditentukan melalui kualitas hati. Tanpa hati yang jernih, seseorang akan sulit menyatakan terima kasih, apalag berbagi kasih.

March 24, 2008 - Posted by | Kisah Sufi, Nasrudin Hoja

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: