Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Sufi dan Penjudi

Alkisah, jaman dahlulu kala hidup serang sufi yang berkeyakinan bahwa ia bertugas untuk mendekati orang–orang yang melakukan perbutan tercela, menyadarkan dan mengarahkan mereka kepada pemikiran spiritual sehingga mereka bisa menempuh jalan kebenaran.

Namun padahal yang tidak dapahami sang sufi , bahwasanya seorang guru sejati tidak mengajarkan asas-asas yang tetap kepada setiap orang, karena seorang guru dapat saja memperoleh hasil yang bertolak belakang dari apa yang diinginkan jika ia tidak mengetahui apa yang ada di hati sang murid.

Beginilah ceriitanya, suatu hari sang sufi menemukan sesorang yang kecanduan berjudi dan tidak bisa menghentikan kebiasaannya ini.

Sufi ini kemudian memutuskan untuk turun tangan dan mengawasi sang penjudi. Setiap penjudi kita ini pergi ke rumah judi, sang sufi meletakkan sebuah batu di depan rumah si penjudi untuk menandai dosa, dengan harapan nantinya batu-batu yang terus bertambah akan menjadi peringatan akan kejahatan.

Demikianlah, setiap meninggalkan rumahnya untuk pergi berjudi,penjudi ini merasa bersalah, dan sepulangnya ke rumah, ia merasa lebih berdosa lagi melihat batu-batu itu semakin menggunung. Akan halnya sang sufi , setiap menaruh batu dalam tumpukan, selain merasa geram juga merasakan semacam kepuasan pribadi — sesuatu yang dianggapnya illahi— ; mencatat dosa.

Tak terasa proses ini berlangsung dua puluh tahun. Dan setiap penjudi ini bertemu sang sufi , ia merasa malu, dan membathin,” Akankah aku mengerti kebajikan. Betapa orang saleh itu telah bersusah payah untuk keinsyafanku. Kapan aku bisa bertobat, menjadi seperti dia. Aku yakin pastilah ia seorang ahli sorga.”

Kemudian, ketika suatu hari ada bencana alam, kedua tokoh cerita kita ini tewas bersamaan harinya. Datanglah seorang malaikat menjemput sipenjudi, dan berkata,” Mari pergi ke sorga bersamaku.

“Penjudi ini kaget dan memprotes, “Ah, tak mungkin. Aku seorang pendosa dan harus pegi ke neraka. Pastilah kamu salah orang, harusnya kamu jemput sufi yang telah berusaha menginsyafkanku selam duapuluh tahun terakhir ini.”

Akan tetapi, malaikat menjawab,”Sebaliknya, ia sekarang tengah diantar malaikat yang lain ke tempat yang lebih rendah. Neraka!”

Sang penjudi malah beteriak marah, “Tidak adil. Bagaimana mungkin.Pastilah kalian telah memutarbalikkan perintah!

“Tentu tidak,” jawab sang malaikat,” Begini ceritanya, sufi itus elama duluh puluh tahun diliputi oleh rasa superioritas dan rasa berjasa. Selama itu pula ia tidak menumpuk batu untukmu, tapi sesungguhnya untuk dirinya sendiri. Dan sekarang ia harus menerima buahnya.”

Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pahala?” tanya sang penjudi.””Engkau mendapatkan pahala karena setiap bersua sufi itu, engkau memikirkan kebajikan, dan berbaik sangka kepada sufi itu.

Kebajikanlah yang sekarang memberikan pahalanya kepadamu.”

March 11, 2008 - Posted by | Kisah Sufi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: