Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

LATAR BELAKANG TAREKAT

Semua guru darwis menggunakan formulasi yang dirancang untuk ajaran-ajaran mereka. Pengisolasian, seperti pada kasus pengujian sesuatu dengan informasi yang tidak mencukupi, prosedur-prosedur ini, materi dan gagasan-gagasan tampaknya digabungkan dengan keyakinan lain, dan dengan kegiatan-kegiatan masa lampau, atau muncul di wilayah yang tidak mernbicarakan metafisik secara terus terang.

Tetapi, karena pengetahuan dasar kaum darwis sering tidak diketahui pengamat-pengamat ini, maka alasan kaum Sufi memilih beberapa metode, apalagi efektikitas metode itu sendiri, tetap tidak diketahui.

Dengan mudah kita bisa membedakan berikut ini, sebagai metode sangat terkemuka yang digunakan kaum darwis dalam membantu memunculkan pemikiran lebih tinggi kepada masyarakat mereka.

  1. Auditory (yang berhubungan dengan pendengaran), visual dan pengaruh-pengaruh indera (rasa) lain.
  2. Materi-materi yang diverbalkan, termasuk legenda dan cerita, dimaksudkan untuk membentuk dalam pemikiran bukan kepercayaan, melainkan suatu pola, sebuah blueprint yang membantunya beroperasi dengan cara ‘lain’.
  3. Bekerja, memuja, latihan, dalam persesuaian, dengan tujuan melahirkan, membebaskan dan mengalirkan suatu dinamika tertentu (bukan yang bersifat emosional dan indoktrinasi), yang selanjutnya adalah ‘bekerja’.
  4. Penggunaan tempat, obyek, simbol dan sebagainya, yang dilakukan untuk menyuplai kognisi (kesadaran atau pengertian) manusia awam, bukan untuk melatih mereka.
  5. Pengorganisasian kelompok lokal dan kelompok lainnya, menyusun orang-orang yang dipilih karena kemungkinan inheren harmonisasi mereka dalam komunitas esoteris; untuk mendorong perkembangan atas sesuatu yang ada dalam komunitas; bukan komunitas yang tertarik pada gagasan tersebut.
  6. Seleksi, dari formulasi tradisional atau lainnya, terhadap kegiatan dan prosedur melalui patokan semata. Akankah pekerjaan ini berhasil, memberi tipe pribadi tertentu di kultur tertentu?
  7. Penciptaan komunitas kerja melalui seleksi lokal, diakui, kelompok-kelompok kejuruan dan lainnya, yang juga dapat digunakan dalam ‘kerja’ kaum darwis. Pengenalan sistem pengelompokan mungkin saja kurang memadai di dalam kultur lokal, karena tidak mempunyai, ketertarikan psikologis atau validitas ekonomis.
  8. Hasil dari prosedur, teknik dan materi yang bisa digunakan untuk berhubungan dengan aspek batiniah manusia, tanpa mengganggu kebiasaan aktikitas mereka didasarkan pada pengondisian lokal atau temporal. Oleh karena itu, kegiatan darwis merupakan kemampuan tinggi yang terlatih dan perjuangan yang kompleks. Karakteristik utama tarekat-tarekat darwis kenamaan — menari, melompat, mendengar, bermain musik dan sebagainya — semuanya adalah popularisasi secara bodoh yang ditiru dari ‘teknologi’ asli yang sudah mapan, yang keahlian merupakan pengetahuan instan para guru tentang proses penerapan pada suatu keadaan.

Sekali fakta-fakta ini dikenal, dua pernyataan utama kaum darwis muncul sebagai pendirian praktis dan masuk akal:

  1. Persatuan seluruh kaum darwis dan ‘kerja’ menjadi lebih mudah dilakukan. Kontradiksi yang mirip antara satu ‘Jalan’ dan lainnya dilepaskan. Misalnya, kegiatan Syeikh Naqsyabandi dalam menginisiasi murid pada berbagai kelompok menjadi dapat dipahami, bahkan pada tingkatan intelektual. Pernyataan kebangkrutan para peniru memusatkan pada beberapa teknik, lebih jelas dipahami.
  2. Hubungan antara filsafat praktis masa lalu dan masa kini, tampak didasarkan pada kesatuan pengetahuan tingkat-tinggi, bukan pada penampilan. Ini menjelaskan, mengapa Rumi yang Muslim memiliki murid Kristen, Zoroaster dan lainnya; mengapa Khidr ‘guru gaib’ Sufi yang agung, dikatakan sebagai orang Yahudi; mengapa Pangeran Mogul Dara Shikoh mengidentifikasi ajaran-ajaran Sufi dalam Hindu Vedas, namun dirinya sendiri anggota Tarekat Qadiriyah; bagaimana Pythagoras dan Sulaiman dapat dikatakan sebagai guru Sufi. Juga menjelaskan mengapa kaum Sufi akan menerima pakar-pakar kimia pernah menjadi Sufi, sebagaimana memahami faktor-faktor pokok yang mendasari filsafat evolusioner Rumi, atau ‘Agama Kristen’ al-Hallaj; mengapa, Yesus dikatakan berdiri di tempat terdepan kaum Sufi.

Pentingnya informasi ini, bagaimanapun tidak berakhir di sini. Esensial bagi siapa pun yang menjadi calon murid Sufisme, untuk mengingat bahwa semua formulasi, latihan, tarekat, teknik, yang ia pelajari di luar tarekat Sufi, mewakili jubah luar masa sekarang atau menggantikan kerja edukatif yang intensif, yang mungkin saja tampak dalam satu atau banyak bentuk. Oleh karena itu, ia tidak dapat memutuskan secara legitimatif bahwa prinsip atau kegiatan Sufi untuk menarik baginya (serta berguna) dan lainnya tidak. Berhubungan dengan materi historis, khususnya, hanya para peniru (sealim apa pun) yang berpikir bahwa suatu kegiatan direkomendasikan hanya karena guru anu menggunakannya.

Karena doktrin ‘waktu, tempat dan masyarakat’, latihan-latihan Sufi bernilai:

  1. Bagi mereka yang tertarik pada tekniknya. Mereka adalah orang-orang yang mencari stimulus psikologis semata. Mereka bukan orang mistik (kebatinan) maupun penganut ajaran filsafat wujud, kendati sering merasa dari golongan tersebut.
  2. Untuk tujuan informasi, membiasakan khalayak yang memungkinkan dengan macam dan tipe latihan yang digunakan kaum darwis.
  3. Dalam mengembangkan kapasitas individu dan kelompok, hanya saat dijelaskan dengan benar oleh tarekat Sufi dalam sebuah kultur yang dimiliki mayoritas pengikutnya. Dalam upaya memanfaatkan materi tercatat, sangat perlu bagi pembaca untuk menguji pokok-pokok teori dan kegiatan Sufi dengan permahaman jernih terhadap pokok-pokok yang disebut terdahulu.

Tarekat-tarekat darwis yang masih hidup, semula dirancang untuk tujuan mengatur dan mengadakan calon terpilih, teknik-teknik khusus yang disempurnakan oleh Pendiri masing-masing tarekat.

Tarekat-tarekat tersebut yang umumnya dikenal di Timur, termasuk Empat Tarekat Utama di mana materinya dipelajari di sini, telah menstabilkan ritual dan keanggotaan mereka saat ini, secara eksklusif berdasar pada kultur Timur dan agama Islam. Ajaran dalam tarekat-tarekat ini, sekarang terbatas khusus untuk kaum Muslim


Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat oleh Idries Shah
Judul asli: The Way of the Sufi, Penterjemah Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha
Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Pertama Sya’ban 1420H, November 1999
Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177
Telp.(031) 3539440 Fax.(031) 3529800

March 4, 2008 - Posted by | Sufisme

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: