Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

Sifat Orang Bertauhid Yang Sufistik – Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata, “Sebagaimana yang saya terima dari Yusuf bin al-Husain ar-Razi, berkata, ‘Ada seseorang berdiri di depan Dzun-Nun al-Mishri sambil berkata, ‘Beritahu saya apa sebenarnya Tauhid itu?’ Dzun-Nun menjawab, yaitu hendaknya Anda tahu, bahwa Kekuasaan (Qudrat) Allah swt. terhadap segala sesuatu itu tanpa ada persenyawaan atau campuran. Ciptaan-Nya pada segala sesuatu tanpa penanganan secara langsung. Sedangkan sebab segala sesuatu adalah ciptaan-Nya, dan tidak ada alasan (sebab) bagi ciptaanNya. Di langit yang paling tinggi maupun di bumi yang paling rendah tidak ada pengatur lain selain Allah swt. Apa pun yang diilustrasikan oleh imajinasi Anda, maka Allah sama sekali berbeda dan bukan apa yang ada dalam benak Anda tersebut’.”

Al-Junaid – rahimahullah – ketika ditanya tentang Tauhid mengatakan, “Tauhid adalah pengesaan seorang muwahhid (yang manunggal dengan Allah) dalam merealisasikan Wahdaniyyah-Nya dengan kemahasempurnaan Ahadiyyah-Nya. Dimana Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, dengan meniadakan segala persamaan, sepadan, serupa dan berbagai bentuk peribadatan (penghambaan) kepada selain Dia. Tuhan Yang tidak bisa diserupakan, dikondisikan dengan bagaimana, digambarakan dan tidak pula dapat dimisalkan. Tuhan Yang Maha Esa, Mahakekal, Mahatunggal Yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Al-Junaid ditanya lagi tentang Tauhid. Maka ia menjawab, “Tauhid adalah suatu makna, dimana berbagai gambaran hilang di dalamnya, dan berbagai ilmu pun musnah di dalamnya. Sedangkan Allah swt. akan senantiasa Eksis dan tidak pernah lenyap.”

Dua jawaban yang dikemukakan oleh Dzun-Nun dan al-Junaid adalah jawaban tentang Tauhid dzhahir, yakni Tauhid orang-orang awam. Sedangkan jawaban al-Junaid yang terakhir – sebagaimana yang saya sebutkan sebelum ini – adalah jawaban Tauhid orang orang khusus.
Al-Junaid ditanya tentang Tauhid orang-orang khusus (khas), ia menjawab, “Adalah dimana seorang hamba hanya merupakan bayangan yang tak bisa berbuat apa-apa di hadapan Allah Azza wa Jalla, dimana perbuatan-perbuatan Allah dan segala yang diaturnya berlaku padanya sesuai dengan aturan-aturan hukum dan Kekuasaan-Nya, dalam kedalaman samudra Tauhid-Nya, dengan fana’ (sirna) dari dirinya, doa orang lain (makhluk) untuknya dan pemenuhan terhadap hakikat-hakikat eksistensi Kemahaesaan (Wahdaniyyah)-Nya dalam hakikat kedekatannya, dengan hilangnya rasa dan gerakannya. Karena al-Haq sendiri Yang menjalankan segala perintah yang diinginkan Nya. Di mana akhir perjalanan seorang hamba kembali dalam kondisinya yang pertama. Sehingga pada saat ini ia seperti sebelum ia ada.”

Al-Junaid juga berkata, “Tauhid adalah keluar dari kesempitan bentuk-bentuk temporal menuju ke hamparan luas keabadian dan kekekalan.”
Jika ada orang bertanya, Apa makna pendapat al-Junaid yang mengatakan, ‘Di mana akhir perjalanan seorang hamba kembali dalam kondisinya yang pertama. Sehingga pada saat ini ia seperti sebelum ia ada’.” Maka jawabannya adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wajalla:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi (tulang rusuk) mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikani.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat, kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan). ” (Q.s. al-Araf 172).

Al-Junaid mengemukakan tentang makna ayat tersebut, “Darimana ia berada, bagaimana ia berada sebelum saat ini ada? Bukankah yang menjawab pada saat itu adalah ruh-ruh yang memperlihatkan Kekuasaan Allah dan melaksanakan seluruh titah-Nya? Maka keberadaannya sekarang, pada hakikatnya sama seperti sebelum ia ada. Dan inilah puncak hakikat Tauhid kepada Dzat Yang Mahatunggal, yakni hendaknya keberadaan seorang hamba, seperti sebelum ia ada. Sementara Allah swt. senantiasa ada dan tetap eksis.”

Pernah ada seseorang bertanya kepada Abu Bakar Dulaf bin Jahdar asy-Syibli – rahimahullah – , “Wahai Abu Bakar, (panggilan asy-Syibli; pent.) beritahukan kepada saya tentang Tauhid murni, dengan suatu bahasa yang benar.” Asy-Syibli menjawab, “Celaka kau!!:
Barangsiapa menjawab tentang Tauhid, maka ia adalah orang yang kafir dan ingkar (mulhid).
Dan barangsiapa memberi isyarat tentang Tauhid, maka ia adalah penyembah berhala.

Sementara orang yang diam tak berkomentar tentang Tauhid adalah bodoh.
Sedangkan orang yang mengira, bahwa ia telah ‘sampai’ (wushul), sebenarnya ia tidak mencapai apa apa.

Barangsiapa bercerita tentang Tauhid maka ia adalah orang yang lalai, dan barangsiapa menyangka, bahwa ia dekat maka sebenarnya ia adalah jauh.
Sementara orang yang berpura-pura mampu menghayati, maka sebenarnya ia adalah orang yang kehilangan.

Sedangkan segala apa yang anda bedakan dengan daya imajinasi, dan anda pahami dengan akal sekalipun dalam makna yang paling sempurna menurut Anda, maka sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang diatur dan berasal dari diri anda, suatu ciptaan yang baru dan makhluk yang sama dengan Anda.”

Jika kita berusaha menerangkan apa yang dikatakan asy-Syibli sebagaimana mestinya, tentu akan memakan banyak waktu. Namun dengan singkat dan ringkas sepertinya ia ingin mengatakan tentang Tauhid: Adalah menjadikan Dzat Yang Maha Qadim sebagai Dzat yang sama sekali berbeda dengan makhluk yang diciptakan (muhdats). Sementara itu, tak ada cara lain bagi makhluk kecuali hanya menyebut-Nya, menerangkan-Nya dengan Sifat dan memberi atribut untuk-Nya sesuai dengan kadar yang bisa diterangkan kepada mereka dan digambarkan padanya.
Syekh Abu Nashr rahimahullah berkata: “Saya dapatkan dari Yusuf bin al-Husain tiga jawaban tentang Tauhid:
Pertama
, adalah jawaban tentang Tauhid untuk orang orang awam. Ialah dengan menjadikan Allah sebagai Dzat Yang Maha Esa, yang dengan Kemahaesaan-Nya Dia berbeda sama sekali dengan yang lain, dengan meniadakan segala perbandingan, persamaan, padanan dan serupaan. Sementara itu ia cenderung untuk menentang rasa takut dan harapan dengan hilangnya hakikat pembenaran. Sebab dengan tetap adanya hakikat pembenaran tak mungkin bisa cenderung untuk menentang rasa takut dan harapan.

Kedua, Tauhid orang-orang ahli hakikat dari sisi zhahir. Yaitu pengakuan akan Wahdaniyyah (Kemahaesaan) Allah, dengan tidak melihat pada sebab-sebab dan menghilangkan segala yang serupa. Selalu komitmen terhadap perintah dan larangan, baik secara lahir maupun batin dengan menghilangkan takut (ar-rahbah) kepada selain Allah swt. harapan (ar-raghbah) dan itu dilakukan dengan memberikan bukti-bukti kebenaran bersamaan dengan memberikan bukti-bukti dakwah (ajakan) dan mengabulkannya. Kalau ditanya, ‘Apa makna dari ungkapan, ‘Menghilangkan harapan (ar-raghbah) dan takut (ar-rahbah).’ Sementara keduanya adalah hal yang benar?” Maka Jawabannya, adalah memang keduanya merupakan hal yang benar (haq). Keduanya tetap berada pada posisinya semula. Namun kekuatan Wahdaniyyah telah memaksanya sirna, sebagaimana sinar matahari memaksa sinar planet lain dan bintang-bintang hilang, sedangkan mereka masih berada dalam posisi masing-masing.

Ketiga, Tauhid orang-orang khusus, dimana seorang hamba dengan rahasia hati, penghayatan dan kalbunya seakan-akan berada di hadapan Allah Azza wa Jalla. Dimana perlakuan dan pengendalian Allah berlaku pada dirinya. Demikian pula hukum-hukum Kekuasaan Nya berlaku padanya dalam samudra Tauhid-Nya, dimana dirinya fana’ dan perasaannya pun hilang karena al-Haq melakukan segala-galanya sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga keberadaannya sebagaimana sebelum ia wujud. Yakni berada dalam lingkaran ketentuan hukum-hukum Allah dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.
Sedangkan keterangannya adalah sebagaimana yang disinggung oleh al-Junaid dalam memahami firman Allah Azza wajalla dalam surat al-‘Araf : 172 di atas.

Dalam memahami hakikat Tauhid, mereka memiliki ungkapan lain. Dimana mereka menggunakan bahasa orang-orang yang telah bisa menghayati dan manunggal bersama Allah (al-wajidun). Sementara isyarat-isyarat mereka tentang hal itu sulit untuk dipahami. Di sini kami ingin menyebutkan sekilas tentang hal itu yang mungkin dapat diterangkan.

Sebagian besar disiplin ilmu ini memang penuh isyarat-isyarat yang tidak asing bagi orang yang memang ahlinya. Namun ketika hal ini dijelaskan dan diterangkan dengan bahasa ungkapan, maka menjadi tidak jelas dan hilang keindahannya. Saya terdorong untuk menjelaskannya, karena saya meletakkan dalam bentuk tulisan dalam kitab. Sedangkan kitab bisa jadi ditelaah oleh orang yang bisa memahami dan juga tidak menutup kemungkinan akan ditelaah oleh orang yang tidak sanggup memahami. Kemudian mereka yang tidak paham akan celaka.

Isyarat-isyarat hakikat Tauhid ini adalah sebagaimana yang oleh Ruwaim bin Ahmad bin Nazid al-Baghdadi, tatkala ditanya tentang makna Tauhid, “Menghilangkan bekas-bekas sifat manusiawi (al-basyariyyah) dan memurnikan Sifat Ketuhanan (Uluhiyyah)”. Yang dimaksud menghilangkan bekas-bekas sifat manusiawi ialah dengan mengganti tabiat (akhlak) nafsunya. Sebab sering kali nafsu mengaku sifat-sifat Ketuhanan (ar-Rububiyyah), dengan melihat dirinya yang melakukan perbuatan-perbuatannya. Seperti ucapan seorang hamba, ‘Aku dan aku.” Ia tidak mengatakan, “Kecuali Allah.” Sebab sifat Inniyyah (Keakuan) itu hanya milik Allah Azza wa jalla. Inilah yang dimaksud menghilangkan bekas-bekas sifat manusia. Sedangkan yang dimaksud memurnikan Sifat Ketuhanan (Uluhiyyah) ialah menunggalkan dan memurnikan Dzat Yang Maha Qadim dari segala yang baru diciptakan-Nya (al-Muhdatsat).

Sementara itu, ada pula yang mengatakan, bahwa Tauhid ialah melupakan apa saja yang selain Tauhid dengan cara menauhidkanNya. Sehingga apa saja mengharuskan hukum hakikat. Ada pula yang berpendapat, bahwa Wahdaniyyah adalah kekal-Nya al-Haq dengan fana’ (sirna)nya yang lain. Yakni fana’ yang mengharuskan fana’ adalah mengharuskan hukum hakikat. Dikatakan pula, bahwa Wahdaniyyah adalah Kekekalan al-Haq dan fana’nya segala sesuatu selain Dia. Yakni fana’nya seorang hamba untuk tidak menyebut diri dan hatinya, dengan selalu mengingat Allah swt. dan mengagungkan-Nya.

Ada pula yang mengatakan, bahwa Tauhid berarti tak ada satu makhluk pun makhluk. Sehingga tak ada yang sanggup menauhidkan Allah kecuali Allah sendiri. Sedangkan Tauhid untuk al-Haq yang datang dari makhluk adalah kekanak-kanakan. Kami katakan, bahwa apa yang mereka isyaratkan dalam hal ini adalah – hanya Allah Yang Mahatahu – firman Allah swt.:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. Ali Imran: 18).

Allah telah memberikan kesaksian untuk Diri-Nya sendiri dengan Wahdaniyyah (Kemahaesaan) sebelum makhluk-Nya. Maka hakikat Tauhid dari sisi al-Haq adalah kesaksian Allah terhadap Diri-Nya sendiri dengan Wahdaniyyah sebelum makhlukNya. Sementara Tauhid dari sisi makhluk, adalah sebagaimana mereka menauhidkan-Nya secara hakikat dan penghayatan hati nurani (wajd), sesuai dengan kadar yang dibagikan dan dikehendaki Allah untuk mereka. Inilah firman Allah, “Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian).” (Q.s. Ali Imran: 18).

Adapun dari cara pengakuan (ikrar), maka seluruh ummat Islam (ahlul-qiblah, pengikut para nabi) dalam hal ini adalah sama. Namun yang menjadi pedoman adalah yang ada dalam hati, dan bukan yang keluar dari lisan.
Asy-Syibli – rahimahullah – mengatakan, “Seseorang tak akan mencium bau Tauhid, tatkala ia mengilustrasikan Tauhid dan menyaksikan makna-makna, menetapkan Nama-nama, menambahkan Sifat-sifat dan berbagai atribut. Barangsiapa menetapkan semua ini, maka ia adalah orang yang menauhidkan secara hukum dan formalitas, dan belum secara hakikat dan ekastase (wajd).”

Makna ungkapan Asy-Syibly – dan hanya Allah Yang Mahatahu – ialah menetapkan sifat-sifat dan berbagai atribut sesuai dengan apa yang digariskan. Dan tidak menetapkannya atas dasar pengetahuan, pengertian yang sangat mendalam dan dugaan.
Sementara itu, dari kalangan orang orang arif ada yang mengatakan, bahwa Tauhid adalah sesuatu yang membutakan orang yang mampu melihat, membingungkan orang yang berakal dan membuat tercengang orang yang memiliki pendirian yang kokoh.

Saya katakan: Hal ini terjadi karena orang yang telah mampu merealisasikan hal itu secara hakiki, ia akan menemukan Keagungan dan Kebesaran Allah swt. dalam hatinya yang menjadikan akalnya bingung dan tercengang, kecuali mereka yang Allah swt. kokohkan.
Abu Said Ahmad bin Isa al-Kharraz – rahimahullah – berkata, “Kedudukan spiritual (maqam) pertama kali bagi orang yang mendapatkan ilmu Tauhid dan mampu merealisasikannya secara hakiki, ialah ketika sirna (fana’)nya segala sesuatu dari lubuk hatinya dan hanya menauhidkan Allah Azza wajalla.”

Ia juga mengatakan, bahwa awal dari tanda-tanda Tauhid ialah keluarnya seorang hamba dari segala sesuatu, dan mengembalikan seluruhnya pada Dzat Yang Menguasainya. Sehingga hamba yang dikuasai-Nya terhadap Sang Penguasa, melihat segala sesuatu itu selalu dikendalikan-Nya dan Dia sangat berpengaruh di dalamnya. Kemudian mereka Dia sembunyikan dalam jiwa mereka dari jiwa mereka, Dia matikan jiwa (nafsu) mereka dalam jiwa mereka dan Dia pilih mereka untuk Diri-Nya sendiri. Inilah awal memasuki Tauhid dari segi munculnya Tauhid dengan keabadian.
Syekh Abu Nashr as Sarraj – rahimahullah – berkata: Sedangkan penjelasannya – dan hanya Allah Yang Mahatahu – ialah fana’ dan tidak mengingat segala sesuatu karena hanya mengingat Allah swt. Sedangkan yang dimaksud, “keluarnya seorang hamba dari segala sesuatu” ialah dengan tidak menisbatkan sesuatu pun pada diri dan kemampuannya. Ia melihat bahwa, Penopang dan Pengendali segala sesuatu itu pada hakikatnya hanyalah Allah dan bukan mereka. Adapun makna dari ucapan Abu Said, “Sehingga hamba yang dikuasai-Nya terhadap Sang Penguasa, melihat segala sesuatu itu selalu dikendalikan-Nya,” adalah memberikan isyarat penguasaan al-Haq kepadanya dan hakikat Tauhid yang diberikan, sehingga ia melihat, bahwa Penopang utama segala sesuatu adalah Allah swt., dan bukan segala sesuatu itu sendiri. Tidakkah Anda mellhat ucapan seorang penyair:
Dalam segala sesuatu itu ada kesaksian yang menunjukkan bahwa Dia Maha Esa.

Adapun ucapan Abu Said, “Dia sangat berpengaruh di dalamnya.” maksudnya adalah bahwa corak dan warna tidak berlaku padanya dalam memandang segala sesuatu. Sebab Penopang utamanya adalah Allah Azza wajalla. Sementara itu, maksud dari ucapannya, “Mereka Dia sembunyikan dalam jiwa mereka dari jiwa mereka, Dia matikan jiwa (nafsu) mereka dalam jiwa mereka,” adalah tidak lagi merasakan sesuatu dan tidak melihat adanya gerakan, baik lahir maupun batin. Dimana semuanya memberikan isyarat, bahwa pada hakikatnya sirna di bawah pengendalian Kodrat dan manifestasi dari pelaksanaan apa yang dikehendakiNya, meskipun mungkin dinisbatkan pada penyebabnya.
Asy-Syibli – rahimahullah – pernah bertanya kepada seseorang, “Tahukah Anda, mengapa Tauhid tidak cocok untuk Anda?”
Orang itu menjawab, “Tidak.”

Asy-Sylbli – rahimahullah – memberi jawaban sendiri, “Sebab Anda memintanya dengan diri Anda sendiri.”
Dalam kesempatan lain, asy-Syibli juga pernah berkata, “Tauhid itu tidak cocok kecuali bagi orang yang pengingkarannya adalah penetapannya.”
Kemudian ia ditanya tentang apa yang dimaksud dengan itsbat (penetapan) Itu? Ia menjawab, “Yang dimaksud penetapan ialah menghilangkan segala yang serba keakuan.”

Maknanya – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa seorang yang menauhidkan Allah pada hakikatnya adalah mengingkari penetapan pada dirinya. Yakni dengan menetapkan dirinya dalam segala hal dengan hati nuraninya. Misalnya seperti ucapannya, “Karena aku (saya), untukku, dariku, kepadaku dan lain-lain.”

Maka orang yang menauhidkan Allah, akan menghilangkan segala bentuk keakuan seperti di atas dan mengingkarinya dengan hati nuraninya, meskipun secara formalitas hal itu tetap mengalir dari lisannya.
Asy-Syibli juga pernah bertanya pada seseorang, ‘Anda bertauhid dengan Tauhid Basyariyyah atau Tauhid Uluhiyyah?”
Laki-laki itu balik bertanya, “Apakah di antara keduanya ada perbedaan?”
Asy-Syibli menjawab, “Ya.”
Tauhid Basyariyyah ialah rasa takut akan siksa. Sedangkan Tauhid Uluhiyyah ialah Tauhid yang penuh pengagungan (ta’dzhim).
Syekh Abu Nashr as-Sarraj’ – rahimahullah – menjelaskan: Maknanya adalah, bahwa di antara sifat-sifat manusia adalah meminta balasan dan selalu melihat pada pekerjaannya serta banyak berharap (tamak) kepada selain Allah Azza wa Jalla. Orang yang menauhidkan Allah dengan penuh mengagungkan-Nya tidaklah sama dengan orang yang menauhidkan-Nya karena takut akan siksa-Nya. Sekalipun rasa takut akan siksa Allah adalah suatu kondisi spiritual yang sangat terhormat.

Asy-Syibli berkata, “Barangsiapa mampu melihat sebesar atom (dzarrah) dari ilmu Tauhid, maka ia tak akan mampu membawa seekor kutu, karena betapa beratnya beban yang sudah ia pikul.”
Tapi asy-Syibli juga pernah berkata, “Barangsiapa mampu melihat sebesar atom (dzarrah) dari ilmu Tauhid, maka ia akan sanggup membawa langit dan bumi di atas sehelai bulu matanya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskan: Maknanya – hanya Allah Yang Mahatahu – ialah, bahwa langit, bumi dan apa saja yang diciptakan Allah akan menjadi kecil dan hina di depan matanya tatkala ia melihat Kebesaran Allah Azza wajalla dengan mata hatinya melalui berbagai cahaya Tauhid.
Suatu riwayat menyebutkan, “Bahwa malaikat Jibril a.s. memiliki enamratus sayap: Dua sayap diantamnya jika dibentangkan maka akan menutupi ujung timur dan barat.”

Juga diriwayatkan dalam sebuah Hadis, dari Ibnu Abbas r.a.:
“Sesungguhnya rupa Jibril a.s. ketika di penyanggaan ‘Kursi’ laksana rantai yang ada di bagian dada baju besi.”
Disebutkan juga, bahwa sebenarnya, Jibril a.s., Arasy dan al-Kursi, kesemuanya ini bersama di alam Malakut, maka yang tampak pada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang Allah Azza wa Jalla (ma’rftat billah), hanyalah laksana pasir di balik alam Malakut, atau bahkan lebih kecil daripada pasir.

Abu al-Abbas Ahmad bin ‘Atha’ al-Baghdady – rahimahullah – pernah mengemukakan pada sebagian ucapannya, “Tanda hakikat Tauhid adalah melupakan Tauhid. Sedangkan kebenaran Tauhid adalah melihat bahwa yang melakukan segala-galanya hanyalah Yang Mahatunggal.”
Maksudnya ialah, hendaknya seorang hamba melupakan proses tauhidnya dalam menauhidkan Allah, dengan cara melihat bahwa yang melakukan segala-galanya adalah Allah Azza waJalla sebelum makhluk Nya ada. Sebab andaikata Allah tidak menghendaki mereka demikian, tentu mereka tidak akan menghendakiNya, dan mereka tidak akan bisa menauhidkan-Nya. ***

—(ooo)—

About these ads

March 10, 2008 - Posted by | Sufisme

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers

%d bloggers like this: