Daris Rajih

Search…View…Copy…Paste…

IBN SINA

A. Sejarah hidup

Abu ‘Ali al-Husayn Ibn Abd-Allah Ibn Sîna–yang digelari al-Syaikh al-Ra´îs dan dikenal dengan Ibn Sîna atau Avicenna saja –adalah seorang Persia. Ia dilahirkan pada Safar tahun 370 H/ Agustus 980 M di Afsyanat, salah satu desa di Bukhara di dekat Kharmaitsan. Ayahnya, bernama Abdullah yang menikah dengan wanita setempat bernama Sitârah, berasal dari Balkh dan pindah ke propinsi Bukhara pada saat Ibn Sîna berusia lima tahun di Masa Nûh Ibn Mansûr (366-387 H.) . Ibn Sîna mempunyai dua saudara bernama ‘Alî dan Mahmûd.

Ibn Sîna tumbuh di dalam keluarga kaya dan terpandang karena ayahnya menjadi wali di Afsyanat sebelum kemudian hijrah ke Bukhara. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga penganut aliran Syiah Isma’iliyah. Ayah dan saudara-saudaranya adalah penganut sekte ini. Namun demikian Ibn Sîna tidak menganut paham ini. Karena –sungguhpun ia diajari doktrin-doktrin sekte ini– ia kemudian menemukan kekurangan intelektual ajaran dan doktrin sekte tersebut. Ia juga hidup di dalam sebuah lingkungan bilingual (dua bahasa). ‘Bahasa ibu’-nya adalah bahasa Persia sedang bahasa pendidikannya adalah bahasa Arab.

Di Bukhara, Ibn Sîna mulai menerima pendidikan. Oleh ayahnya, ia diberi pelajaran privat dengan memanggil seorang tutor ke rumahnya. Tampaknya pendidikan yang disediakan untuk Ibn Sîna oleh ayahnya berskala sangat luas, mencakup kajian kegagamaan Islam dan mata kajian sekuler dari Arab, Yunani, dan tradisi India. Ia memulai pendidikannya dengan belajar menghafal al-Qur’an dan sastra dan bahasa Arab, termasuk dasar-dasar keagamaan lainnya seperti fiqh. Ia mempelajari fiqh kepada Abu Muhammad Isma’îl ibn al-Husainî al-zâhid. Diperkirakan, Ibn Sîna telah merampungkan pelajaran bahasa, sastra dan dasar-dasar keagamaan sebelum usia sepuluh tahun.

Selanjutnya, ia mempelajari ilmu-ilmu ‘aqliyat kepada teman ayahnya yang Ahli filsafat yaitu ‘Ali Abu Abd-Allâh al-Natilî. Melalui al-Natilî, awalnya Ibn Sîna berkenalan dengan logika, geometri, dan astronomi, serta filsafat Yunani. Dalam beberapa tahun berikutnya ia telah mempelajari logika Aristoteles melalui Organon, geometri-nya Euclid dengan mengkaji Elements, dan juga astronominya dan kosmologi Ptolomy dari Almagest, dan segera bisa melampaui pengetahuan gurunya di dalam ilmu-ilmu tersebut.

Sejak usia 14 atau 15 tahun Ibn Sîna meneruskan pendidikannya secara otodidak. Ia membaca teks dan uraian di dalam ilmu-ilmu alam, metafisika, dan ilmu kedokteran. Ia mempelajari kedokteran sampai mahir sehingga suatu ketika pada usia enambelas tahun ia telah mampu mengajar dan mempraktikkannya.

Dalam satu setengah tahun kemudian, sampai usia enam belas tahun, ia melengkapi pengetahuannya dengan mereview dan menguasai seluruh cabang filsafat: logika, matematika, ilmu-ilmu alam (fisika), dan metafisika. Pada usia enam belas tahun ini, Ibn Sîna telah secara aktif terlibat di dalam seminar-seminar resmi dan seminar-seminar kedokteran, dimana para dokter/tabib pada masanya datang kepadanya dan memintanya memberi penjelasan.

Di dalam memahami metafisika Aristoteles ia banyak terbantu oleh uraian Al-Farabî (w.950 H.) “Maqâlat fi Aghrâd Mâ Ba’da al-Thabî’at” yang menjelaskan tentang hal tersebut. Tampaknya ia sangat mengalami kesulitan untuk memahami metafisika Aristoteles sebelum membaca uraian Al-Farabî tersebut. Dikisahkan ia telah membaca metafisika Aristoteles empat puluh kali tanpa mengerti, sampai akhirnya memahami maksudnya dari tulisan Al-Farabî. Setelah membaca dan memahami buku tersebut, Ibn Sîna kemudian tidak sekedar memiliki kesiapan untuk memahami metafisika Aristoteles, tetapi kemudian bahkan kemudian dia memberikan kontribusinya yang mendalam dan distinktif di dalam keberanian mendefinisikannya.

Pada saat Ibn Sîna berusia tujuh belas tahun, ketika Abu al-Qâsim Nûh bin Mansûr bin Nûh –amir dinasti Samani– sakit keras dan Ibn Sîna yang dipanggil untuk mengobatinya bersama serombongan tim dokter lainnya dan ternyata mampu menyembuhkannya, hal tersebut mengantar Ibn Sîna menjadi staf kerajaan sebagai dokter. Posisi tersebut juga memberinya fasilitas akses ke perpustakaan kerajaan. Perpustakaan tersebut belakangan dikenang oleh Ibn Sîna sebagai “Perpustakaan yang sangat kaya dengan koleksi kitab. Sebagiannya adalah kitab yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang, sebagaimana ia sendiri belum mengenal sebagian kitab-kitab tersebut sebelumnya, dan bahkan tidak pernah lagi melihat sesudahnya.”

Pengalaman ini memungkinkannya untuk mengetahui kontribusi penulis dan sarjana dari masa kuno dan modern serta mengokohkan kebiasaan melacak dan melakukan sampling terhadap karya-karya derivatif dan repetitif yang ia lakukan selanjutnya. Pengalaman tersebut bisa kita bayangkan betapa sangat berharga; dimana saat itu literatur masih berupa manuskrip dan kopi lain berarti edisi baru, dan setiap terjemahan atau komentar bisa berarti suatu karya baru, metode ini bisa menjadi sangat bernilai bagi Ibn Sîna yang tentunya tidak ingin terperosok ke dalam argumen yang picik, dan ingin menempatkan apa yang dipelajarinya ke dalam suatu kerangka yang koheren dengan perjalanan ilmu.

Sayangnya, di dalam waktu tidak lama, perpustakaan tersebut terbakar. Ibn Sîna dituduh sengaja membakarnya dengan sengaja agar hanya dia yang tahu kitab-kitab langka yang telah dibacanya. Kurang lebih bersamaan waktunya dengan peristiwa tersebut–hanya selang beberapa bulan dari penyembuhannya, tepatnya pada Rajab 387 H /Juli 997 M, Amir Nuh meninggal dunia. Pada masa Nuh tersebut, di usia tujuh belas tahun, Ibn Sîna mengarang karyanya yang pertama dan sederhana berjudul “Maqâlat fi al-Nafs ‘alâ Sunnat al-Ikhtisâr”dan dipersembahkan kepada Amir Nuh.

Sejak meninggalnya Amir Nuh, kedua putera amir Nuh, yaitu Manshur dan Malik, saling berebut kekuasaan. Perebutan kekuasaan tersebut berjalan satu tahun tujuh bulan. Manshur kemudian tertangkap oleh pasukan Malik adiknya, dan kemudian dipenjarakan. Sewaktu di penjara, Manshur dihukum cungkil matanya, dan selanjutnya dalam keadaan sengsara ia meninggal dunia. Pada saat Amir Malik berkuasa,
kekuasaan kemudian direbut oleh tentara. Sang Amir sendiri dibunuh bersama segenap keluarganya dan tidak diketahui dimana kuburannya. Di dalam suasana sangat kacau tersebut, datang lagi “musibah” yang menamatkan riwayat dinasti Samani di Bukhara, yaitu datangnya serbuan tentara dari pusat yang dipimpin oleh seorang jenderal di bawah sultan Mahmûd Ghaznawi. Seluruh Bukhara jatuh ke tangan Gaznawiyah pada tahun 389 H./999 M.

Ketika usia Ibn Sîna mencapai 21 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya dan di tengah kondisi kehancuran Daulah Samaniyah, Ibn Sîna meninggalkan Bukhara menuju kota Kurkanj di Khawarizm. Di sana, ia disambut oleh wazir Abu al-Husein al-Sahlî di istananya yang menyenangi filsafat serta orang yang mencurahkan pemikirannya untuk filsafat. Ibn Sîna kemudian diperkenalkan kepada Amir ‘?li bin Ma´mûn, penguasa Kurkanj di bawah khalifah Ma´mûn bin Ma´mûn, yang memperkenankannya tinggal di istananya. Di istana Amir ?li, Ibn Sîna tinggal selama sepuluh tahun sampai 1012 M/402 H. Di Kurkanj, Ibn Sîna menunjukkan keterlibatannya pada kelompok ilmiah bersama dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Bairûnî (362-448 H.), Abû Sahl al-Masîhî (w. 401 H.), Ahli fisika Abî al-Khair Ibn al-Hasan Ibn al-Khammâr, dan
ahli matematika Abi Nasr Ibn al-’Arrâq. yang juga sama-sama berada di istana.

Pada masa tersebut, bintang Sultan Mahmûd Ghaznâwî di Ghazna sedang bersinar semerlang. Sultan Mahmûd menginginkan sinar kemenangannya semakin meluas. Ia ingin agar istanya menjadi yang paling agung. Karenanya ia kemudian menarik para ulama, filosof, penyair, dan ahli hikmah ke istananya dengan segala cara. Ketika ia mendengar kelompok Kurkanj, sultan Mahmûd berkirim surat pada sultan Ma´mûn, yang dibawa utusannya dan berisi permintaan agar mengirimkan seluruh tokoh tersebut ke istananya.

Sesampainya utusan Sultan Mahmûd sampai di Khawarizm, Amir menunjukkan surat kepada para ulama yang namanya tercantum di dalam surat tersebut. Sementara tiga orang–Al-Bairûni, Al-’Arrâq, dan Khammâr–menyatakan ketertarikannya dan akhirnya berangkat ke Ghazna, Ibn Sîna dan Al-Masîhî dengan bantuan Ma´mûn memilih melarikan diri ke selatan. Al-Masîhî tewas di dalam perjalanan di dalam sebuah badai di gurun pasir. Sementara Ibn Sîna dengan susah payah bisa tiba di Baward, lalu menuju Thus dan Nishapur. Akhirnya, ia sampai ke Jurjan yang ketika itu dikuasai oleh Syams al-Ma’âli Qabûs bin Wasymâkir yang menyambutnya dengan baik. Kejadian ini berlangsung masih di tahun 402 H /1012 M.

Sejak itu Ibn Sîna tinggal di Jurjan dan di sana–dalam usia tiga puluh dua tahun–ia bertemu dengan Abd al-Wâhid Abu ‘Ubaid al-Juzjâni yang kemudian menjadi murid, mendampingi perjalanannya selanjutnya dan sekaligus menuliskan napak tilas kehidupannya. Di sana ia juga bertemu dengan Abû Muhammad al-Syirâzi yang menyediakan satu rumah bagi Ibn Sîna, di samping rumahnya sendiri, yang digunakan sebagai pusat pengajaran. Dimana kemudian ia menulis karangan untuk al-Syirâzi berjudul Kitâb al-Irsyâd al-Kulliyat dan Al-Mabda’ wa al-Ma’âd. Di Jurjan juga, pada tahun 402 H /1012 M, Ibn Sîna memulai penulisan naskah besar kedokteran karangannya, Al-Qânûn fi al-Tibb.

Ketika Sultan Qabus terbunuh dan keadaan politik di Jurjan bergolak, Ibn Sîna– dengan diiringi oleh al-Juzjâni–berturut-turut pindah ke Rayy, Quzwain, kemudian ke Hamadan.

Di Rayy , kota terkaya di Persia utara masa itu, Ibn Sîna mengobati pangeran yang terserang melankolia dan depresi, Majd al-Dawlat (m. 387-420 H.) di istana kerajaan. Majd al-Dawlat adalah penguasa Buwaihi yang sangat lemah di dalam memerintah. Di dalam menjalankan roda pemerintahan ia “diatur” oleh ibunya, Ratu Dawâjir.

Ketika Sultan Mahmûd Ghaznâwi mengirimkan surat tantangan, Ratu Dawâjir masih dapat membalasnya melalui sebuah surat balasan. Tetapi ketika ibunya meninggal di tahun 1028 M, Majd al-Dawlat tidak lagi mampu mengontrol tentaranya dan bahkan mengundang Mahmûd Ghaznâwi, yang kemudian justeru menjadikannya tawanan. Dalam kondisi demikian, Ibn Sîna tidak menunggu lama lebih lagi, kemudian ia melarikan diri ke Quzwain.

Dari Quzwain berikutnya ia pindah ke Hamadan. Di Hamadan, ia dipanggil untuk mengobati penyakit kolik yang diderita Amir Syams al-Dawlat (m 387-412 H.), kepala pemerintahan dari dinasti Buwaihi saudara Majd al-Dawlat. Di sana ia tinggal empat puluh hari untuk mengobati Amir sampai sang Amir sembuh dari sakitnya. Ia tiba di sana di akhir tahun 405 H / 1015 M. Karena kesembuhannya, Ibn Sîna sangat dihormati sang Amir. Sampai-sampai Ibn Sîna diberi kehormatan menjadi “menteri pertama“ dan salah satu sahabatnya. Jabatan menteri tersebut dipegang oleh Ibn Sîna tidak kurang dari lima tahun.

Tampaknya Ibn Sîna bersikap sangat tegas di dalam menyikapi tentara dan pegawai yang korup. Angkatan bersenjata kemudian melakukan demonstrasi ke rumahnya, memfitnah lalu menahan dan menangkapnya. Ia ditangkap dan diminta kepada Amir agar dijatuhi hukuman mati. Amir menolak tuntutan mereka, tetapi untuk memuaskan tuntutan mereka amir akhirnya memperlakukan hukuman buang. Ibn Sîna terpaksa bersembunyi di rumah Abî Sa’îd bin Dakhduk selama empat puluh hari. Tak lama setelah itu, Amir Syams al-Dawlat sakit kembali, dan Ibn Sîna kembali diminta mengobati. Amir kemudian mengembalikan Ibn Sîna kembali menjadi menteri.

Di saat Syam al-Dawlah meningal dunia dan Samâ’ al-Dawlat (m. 412-414 H.) menggantikan ayahnya serta memilih Tâj al-Mulk menjadi Wazir, Ibn Sîna menulis surat permintaan suaka politik kepada Alâ’ al-Dawlat, amir Isfahan. Kejadian tersebut diketahui oleh Tâj al-Mulk, yang menyebabkannya ditangkap dan ditahan di benteng Fardajan di wilayah Jarrah sekitar 55 mil di luar kota Hamadan. Ketika itu, harapan untuk keluar dari penjara tampaknya dipandangnya sangat tipis, sampai ia menulis syair :

????? ??????? ??? ???? ??? ?? ?? ??? ??????

(Aku masuk dengan pasti sebagaimana telah engkau saksikan,
sementara ketidak pastian menyertai dalam hal kapan keluar)

Namun, di benteng tersebut, ia menyelesaikan penulisan kitab Al-Hidâyat, dan kisah allegoriknya Hayy Ibn Yaqzân.

Ketika kemudian terjadi peperangan antara Samâ’ al-Dawlat–amir Hamadan–dengan Alâ’ al-Dawlat–amir Isfahan, Ibn Sîna kemudian dilepas oleh Alâ’ al-Dawlat setelah ia terpenjara selama empat bulan lamanya. Sekeluarnya Ibn Sîna dari penjara. Ia kemudian minta perlindungan ke Isfahan. Di sana, ia disambut dengan hangat. Ibn Sîna tinggal di Isfahan selama tiga belas tahun. Di Isfahan, Ibn Sîna hidup terhormat. Ia hadir di majlis Amir pada setiap malam Jum’at, bertukar pikiran dengan para ulama di hadapan Amir, bahkan menemani Amir ke medan-medan peperangan.

Di dalam suatu peperangan menemani Alâ’ al-Dawlat, Ibn Sîna terserang penyakit kolik sampai ususnya luka. Penyakit yang menyerangnya tersebut tampaknya parah. Dalam satu hari, Ibn Sîna mengalami nyeri perut sampai delapan kali, sehingga ketika penyakitnya bertambah parah, ia terpaksa kembali ke Isfahan untuk menyembuhkan dirinya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali lagi menemani Alâ’ al-Dawlat. Hanya saja ia tidak memelihara diri dan bahkan banyak membahayakan dirinya dengan syahwat, sampai belakangan penyakitnya kambuh kembali dan ia jatuh tersungkur, walaupun akhirnya berhasil sembuh.

Di dalam perjalanannya menemani Amir ke Hamadan, penyakitnya kambuh di jalan. Ia akhirnya menganggap pengobatan tak akan mampu lagi menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian menghentikan pengobatan dan berpasrah pada takdir. Ia berkata: “Sesuatu yang mengatur badanku kini tidak lagi dapat mengaturku. Sekarang tak ada gunanya lagi pengobatan”. Ibn Sîna kemudian mandi, bertaubat, menyedekahkan miliknya, dan memerdekakan budak-budaknya. Ia kemudian meninggal tahun 428 H / 1037 M dan dimakamkan di Hamadan.

Apabila kita cermati, maka perjalanan hidup Ibn Sîna dari segi produktifitas keilmuannya, dapat dibagi menjadi dua fase: fase pertama adalah fase pembentukan (al-tahsîl) dan fase produktif (al-intâj al-’ilmî). Fase pertama yaitu fase belajarnya dimulai usia lima tahun sampai sepuluh tahun belajar dasar-dasar Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, serta ilmu perbintangan, serta masa-masa belajar sesudahnya. Pada masa ini, Ibn Sîna mengalami masa yang lebih didominasi oleh masa belajarnya yang lebih banyak melakukan penyerapan; dimana aktifitas Ibn Sîna lebih banyak reseptif dan retentif. Sedangkan fase kedua, yaitu fase produktif yang dimulai pada usia dua puluh satu tahun. Pada fase ini Ibn Sîna mulai melakukan aktifitas produktif. Setelah masa tersebut, ia secara aktif menghasilkan karya-karya secara produktif dan sintetis.

B. Karya-karya Ibn Sîna

Sungguhpun Ibn Sîna banyak sekali berpindah-pindah dari satu kota ke kota
lainnya dan pada setiap fase keberadaannya di suatu daerah sangat sibuk dengan tugas pekerjaan kenegaraannya sehari-hari yang hampir menghabiskan seluruh waktunya, tetapi ia tetap produktif. Bisa dikatakan bahwa di setiap kota tempat ia tinggal, ada setidaknya satu karangan yang diselesaikannya. Dari masa 58 tahun hayatnya, tiga puluh tujuh tahun adalah masa produktivitasnya menulis dan melahirkan karya-karyanya. Terhitung, Ibn Sîna mulai berkarya pada usia 21 tahun, Ibn Sîna terus berkarya siang dan malam di sela-sela kesibukannya. Karangan Ibn Sîna hampir meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan dengan tingkatan pembahasan yang beragam. Ia menulis berbagai kitab mulai dari karya-karya tentang metafisika, logika, kedokteran, psikologi, fisika, hingga tentang sastra dan bahasa Arab.

Tentang jumlah keseluruhan karyanya, kebanyakan sumber mengatakan bahwa buku karangan Ibn Sîna hanya sekitar 99-100 buah, sementara beberapa orang ada yang mencatat bahwa karyanya mencapai jumlah 242 tulisan , bahkan 276 . Karya-karya tersebut dapat dikelompokkan, sebagaimana dilakukan oleh GC Anawati, ke dalam 15 kelompok, yaitu : 1) Filsafat Umum (General Philosophy); 2) Logika; 3) Sastra; 4) Sya’ir; 5) Ilmu-ilmu alam; 6) Psikologi; 7) Kedokteran; 8) Kimia; 9) Matematika; 10) Metafisika; 11) Tafsir al-Qur’an; 12) Tasawuf; 13) Akhlak, Rumah-tangga, politik, dan Nubuwah; 14) Surat-surat pribadi; dan 15) Serba-ragam

Di antara beberapa karya terpenting dan termasyhur Ibn Sîna yaitu :

1. Kitab al-Qânûn fi al-Tibb (??????? ?? ????): Kitab yang terdiri dari lima jilid ini di barat di kenal dengan sebutan Canon. Kitab yang berbentuk ensiklopedi dalam bidang kedokteran ini menjadi “kitab suci” kedokteran Eropa selama lima abad lamanya. Penulisannya dimulai di Jurjan di tahun1012, diteruskan di Rayy tahun 1014, dan diselesaikan di Hamadan tahun 1015 hingga 1023. Cetakan pertama dari kitab ini terbit di Roma; terjemahan latin dari Gerard Cremona (1187), dicetak di Milan 1473, di Padus tahun 1476, dan Venesia tahun 1482.

2. Kitab Al-Syifâ’ (?????? dalam bahasa latin “Sanatio”): Kitab yang ditulis di Hamadan ini merupakan ensiklopedi filosofis yang didasarkan pada tradisi Aristotelian yang dimodifikasi oleh pengaruh neo-Platonism dan teologi Islam. Kitab ini terdiri dari empat bagian: yaitu logika (al-mantiq), fisika (al-thabî’iyyat), matematika (al-riyâdiyyat), dan metafisika (al-ilâhiyyat) yang tertuang ke dalam buku setebal delapan belas jilid. Kitab ini sebagian telah diterjemahkan dan diterbitkan secara bertahap ke dalam berbagai bahasa. Penerjemahan dan penerbitan secara bertahap tersebut, mengingat tebalnya kitab tersebut dan mempertimbangkan kebutuhan universitas-universitas. Terjemahan tentang bagian fisika dan metafisika diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan dicetak di Venice Itali pada tahun 1495. Berikutnya bagian Logika, Fisika, dan metafisika diterbitkan di dalam bahasa Arab di Roma pada tahun 1593. Dan di Paris Perancis di tahun 1658, dilakukan penerjemahan dan penerbitan bagian logika saja.

3. Kitab Al-Najât (??????): Kitab ini adalah merupakan ringkasan al-Syifa. Hanya saja kitab ini tampaknya memiliki nilai lebih dari al-Syifa’ dari sisi cakupan, kejelasan dan susunan katanya. Kitab ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Terjemahan pertama ke dalam bahasa latin dari kitab ini dilakukan oleh John of Spain dan Gundissalinus di Venice tahun 1508. Terjemahan latin kedua dilakukan oleh Mgr. Carame di Roma pada tahun 1926 di bawah judul “Avicennae Metaphisices Compendium”. Sementara terjemahan Jermannya digarap oleh M. Horten pada tahun 1907, dalam bahasa Prancis dilakukan oleh A.M. Goichon di bawah judul “La Distinction”, dan dalam bahasa Inggris dilakukan oleh F. Rahman di tahun 1951 dengan judul “Avicenna’s Psychology” yang diterbitkan oleh Oxford University Press.

4. Kitab Al-Isyârât wa al-Tanbihât (???????? ??????????): Kitab ini adalah karya filosofis Ibn Sîna yang paling matang dan komprehensif. Kitab ini untuk pertama kali diterbitkan dalam bahasa Arab oleh M. Forget pada tahun 1892 di Leiden Belanda, kemudian terjemahannya di dalam bahasa Prancis oleh MAF. Mehren diterbitkan dengan judul “Traites Mistiques d’Avicenna”, dan versi terjemahan lainnya oleh A.M. Goichon diterbitkan di Paris pada tahun 1951 dengan judul “Livre des Directives et Remarques.” Penerbitan Kitab ini belakangan dilakukan di Mesir atas tahqiq Dr. Sulaimân Dunyâ, (w. 1985 M.)`Guru besar madya dalam ilmu filsafat, dan diterbitkan oleh Dar al-Ma’arif, Mesir pada tahun 1957, 1958, dan 1960. Di dalam terbitan baru tersebut, disertakan komentar Nasir al-Din al-Thûsî.

Karyanya yang lain dapat disebutkan yaitu : 1) Al-Majmû’(Compendium); 2) Kitab Al-Hikmat al-Masyrîqiyyat; 3) al-Birr wa al-Itsm; 4) al-Hâsil wa al-Mahsûl; 5) al-Urjûzat fi al-Thibb; 6) al-Adawiyat al-Qalbiyat; 7) Kitab al-Qaulanj; 8) Majmu’at Ibn-Sîna al-Kubro; 9) Danesh Nameh I alâ’i; 10) Kitab al-Insâf; 11) Kitab al-Hudûd; 12) Isagoge (Al-Isaghôji); 13) Fi Aqsâm-al-’Ulûm al-Aqliyyat; 14) Risâlat fi Sirr al-Qadar; 15) Fi Aqsâm al-’Ulûm al-Aqliyat; 16) Fi Itsbât al-Nubuwwat; 17) Al-Azrâq; 18) Tadbîr al-Manâr ‘an al-Siyâsat al-Ilâhiyyat; 19) Risâlah al-Siyâsat; 20) dan Tadbîr al-Junûd wa al-Mamâlik wa al-’Asâkir wa Arzâqihim wa Kharaj al-Mamalik; 21) Qissah Salmân wa Absal; 22) Risâlat Hayy bin Yaqzan; 23) Al-Risâlat ‘ala al-Thayr wa al-Syibkat ‘ala al-Thayr; 24) Lisân al-’Arab; 25) Makhârij al-Hurûf; 26) Al-Risâlat fi Asbâb Hudûts al-Hurûf; dan, 27) Al-Qasîdah al-’Ainiyat; 28) Kitab al-Irsyâd al-Kulliyat dan Al-Mabda’ wa al-Ma’âd; dan 29) Kalimât al-Sufiyyat

C. Setting Sosio-Geografis-Politis Kehidupan Ibn Sîna

Negeri Iran– tempat Ibn Sîna lahir, hidup dan kemudian berkiprah– terletak di atas antara India dan Arabia dan diapit oleh Selat Kaspia dan Teluk Persia. Datarannya yang besar berada di antara sungai Tigris dan Efrat di timur dan sungai Indus dan Helmand di Barat. Ia melebar di utara laut Arab hingga dataran tinggi pegunungan Khurasan dan merentang dari utara hingga bagian timur lingkar Kaspia di Jurjan hingga kota-kota Nishapur, Thus, Merw, Herat, Balkh, pegunungan Pamir dan Hindu Kush. Di utara dan timur, melampaui sungai Amu Darya (Sungai Oxus) yang mengalir ke laut Aral, terdapat Bukhara dan Samarkand di daerah yang dikenal dengan mâ warâ’ al-nahr , yang dibatasi oleh sungai Jaxartes (sungai Syr Daria) dan padang rumput yang luas.

Ketika tentara Arab Islam datang ke Khurasan di akhir abad VII dan awal abad VIII M, mereka menjumpai suatu daerah kaya. Dengan curah hujan tipis di dataran tinggi yaitu hanya kurang dari 10 inchi per tahun, beberapa lembah sungainya yang subur menumbuhkan gandum dan beras. Beberapa daerah di wilayah ini dikenal karena jeruk orange, aprikot, buah persik, buah pir, gula, katun, kenari hijau, delima, kelembak, melon, almond, wijen, anggur dan kismis, seperti juga lahan yang ditanami kayu untuk diambil kulitnya sebagai obat sakit gigi. Buminya mengandung tembaga, timah, besi, merkuri, perak, dan emas.

Di sana terdapat kandungan bumi yang bernilai seperti batu pirus di Nishapur serta rubi, batu akik merah tua (garnet), lapis lazuli, dan asbestos yang dapat ditemui di Badakhstan. Pengrajin Khurasan membuat peralatan dari baja, sutera, besi, tembaga, dan emas, serta tekstil, karpet, dupa, kismis, dan sabun. Sejak tahun 751 M., ketika para tawanan perang yang dibawa dari China membawa seni ke Samarkand, perajin ahli membuat kertas dari linen, rami, potongan rami, yang secara bertahap menggantikan papirus sebagai alat penulisan. Di dataran tinggi juga ada peternak kuda dan para pastoral yang beternak kambing dan unta, memproduksi mentega, keju, terompet, pakaian dari bulu binatang dan kulit.

Di saat orang Islam datang, mereka sampai masuk ke Transoxiania, Farghana, Kabul, Makran di tepian laut Arab, hingga ke Syr Daria, tepian timur Indus, dan tepian Punjab dan Kashmir. Pada masa Ibn Sîna, daerah-daerah tersebut belum sepenuhnya menganut Islam. Populasi di daerah tersebut juga disumbang oleh orang yahudi, Kristen, zoroaster, dan Budha. Dari 750, hanya diperkirakan 8% dari penduduk kota Khurasan, seperti Nishapur, adalah muslim. Angka tersebut masih di bawah 50% hingga permulaan abad III H/IX M, tetapi berkembang menjadi 80% pada akhir abad. Di daerah pedesaan dan kota-kota yang lebih kecil seperti Musalla dan Karkuy di Sijistan, Baihaq di Khurasan, dan Varaksha Bukhara barat, perpindahan agama kepada Islam lebih lambat disebabkan resistensi pembangunan masjid dan ketekunan para da’i Zoroaster dan kuil-kuil api hingga abad IV H/X M dan V H/XI M di beberapa tempat. Di Nishapur sendiri, sejumlah 5000 penganut Zoroaster, Kristen, danYahudi, mengadopsi Islam di tahun 383 H/993 M. Di desa kediaman Ibn Sîna, Afsyanat yang berada di luar Bukhara, masjid pertama didirikan + tahun 709 M. dan kedua tahun 741 M. Bukhara memiliki masjid empat tahun setelah Afsyanah. Masjid yang kedua didirikan di tahun 771 M, dan yang ke tiga didirikan oleh mantan pendeta Budha di tahun 793 M, dan dua lagi didirikan di dekat pasar kota sekitar abad XIX M.

Islam berasal dari Arab tetapi mendirikan sebuah kerajaan Arab di Syria segera setelah wafatnya Nabi. Penaklukan Iran dan Khurasan oleh Islam merubah pusat gravitasi Islam ke daerah timur dan menimbulkan revolusi Abbasiah di th. 132 H/750 M, sebagai sebuah akhir hegemoni Arab. Baghdad didirikan di Tigris di tahun 145 H./762 M. sebagai kota metropolis dari kekhalifahan baru, walupun tidak kurang dari seabad kemudian setelah revolusi tersebut, Mu’tasim (m. 218-227 H) yang merupakan khalifah kedelapan Abbasiah, mengalihkannya ke istana megahnya yang baru dibangun di Samarra, kota yang berjarak 60 mil dari ibukota lama, dan mengelilinginya dengan 4000 orang Turki sewaan untuk melindunginya dari gerombolan Baghdad dan tentara Khurasan yang sejak mereka berkuasa, menjadi kekuatan teror bagi dinasti Abbas.

Di sisi lain, hal yang turut menyumbang dalam keruntuhan Abbasiah adalah suku-suku yang ada di Asia tengah. Turki Oguz linggal di kedua sisi laut Aral. Merentang ke bawah lembah Jaxartes, diakhiri di atas Bukhara dan Samarkand dari tepian danau Balkhash, ada Qarluq yang diperintah oleh Qara-Khan (atau Ilig Khans). Qarluq menekan daerah-daerah Muslim dari pegunungan Tien Shan China sejak 840. Di timur mereka ada suku Uighur. Lebih jauh ke timur, ada Qara-Khitai, Cathay atau China Mongol, di mana para khan nya memerintah China selama dua abad (916-1125) sebelum mereka diusir. Serbuan dari Mongol lainnya di bawah Jengis Khan dan Khulagu serta dari Turki seperti Timur Lenk di abad XIV akan membuat Timur Tengah runtuh dan tidak bisa sepenuhnya dipulihkan lagi.

Di tahun 945, khalifah di Baghdad dijadikan tawanan bayangan panglima Buwaihi yang mengalahkannya, pimpinan dari suku Syiah Dailamiyat yang berasal dari dataran tinggi selatan Kaspia yang kekuatannya disandarkan pada barisan prajurit suku yang dimilikinya dengan pusat kekuasaan di Shiraz. Tahun berikutnya Khalifah dibuat lumpuh dan penguasa boneka ditempatkan di istananya.

Hingga 1055 M., Buwaihi memerintah sementara khalifah Abbasiah diperlakukan sebagai tahanan di istana mereka. Kekuasaan dipegang oleh para menteri dan penanggung jawab kerumahtanggaan kekhalifahan dan direbut melalui tipu daya para wali, ibu suri, sida-sida (kasim), atau panglima pengawal. Pemberontak, penjarah, tentara sektarian, dan amir-amir yang tidak puas melingkari pusat kekuasaan.

Sekitar awal tahun 205 H/820 M, khalifah Al Ma´mûn (m. 198-218 H) menyaksikan jenderalnya Tahir mendirikan dinasti otonom di Khurasan (tahun 207 H / 822 M.). Kekuatan khalifah pada saat itu untuk bertindak sangat terbatas karena dia baru menghadapi pemberontak di Azerbaijan, disamping saudara Tahir sendiri adalah kepala panglima militernya.

Menyaingi Tahiriyah, yang kekuasaannya berpusat di Nishapur, muncul Shaffariyah di Sistan (Sijistan), selatan Khurasan. Hingga awal abad IX, pelaku ancaman sektarian adalah dari Khawarij, penentang radikal dari setiap kekuasaan Islam yang ada karena apa mereka dianggap sebagai pelaku “kompromi terhadap prinsip secara munafik”.

Dibawah pukulan Shaffariah dan Tahiriah, kekuatan Khawarij, dapat ditekan hanya menjadi gerombolan pembuat teror dan pengacau. Akan tetapi di abad X sebuah ancaman baru timbul di timur dari kelompok Syi’ah Isma’iliyah dan muncul secara menakjubkan dengan menaklukkan Mesir serta mendirikan dinasti fatimiah.

Isma’iliyah adalah sekte yang kemudian dikenal sebagai Assasin. Ia adalah Syi’ah tujuh (Sab’iyyat) yang meyakini bahwa imam yang terakhir adalah Ismail (w.133 H./750-1 M) putera Imam Ja’far Shadiq (80 H/148 H.), seorang keturunan nabi dari Fatimah dan Ali. Tidak seperti syi’ah duabelas yang muncul belakangan dan bergelimang dibawah kebaikan hati dari Buwaihi, atau Zaidiyah yang ada di Yaman pada tahun 897 dengan sikap politiknya yang moderat, Isma’iliyah adalah militan yang revolusioner. Setelah penaklukan Mesir, penguasa Fatimiah mendirikan Kairo di tahun 973, mendirikan perguruan tinggi besar al-Azhar sebagai tempat belajar dan pangkalan pengiriman da’i mereka ke timur.

Upaya Shaffariah meruntuhkan kekuasaan Tahiriah tampaknya hanya sebagai daya dorong sebelum pada gilirannya betul-betul runtuh oleh dinasti Samaniyah tempat ayah Ibn Sîna mengabdi, yang mandatnya kekuasaanya banyak ditopang oleh dihqan (penguasa/tuan tanah) yang berkuasa di Khurasan. Samaniah datang dari Balkh, satu dari empat kota besar di Khurasan. Pendiri dari dinasti ini adalah Saman-Khudat, orang Soghdia penguasa kota Saman yang masuk Islam di abad VIII M. Sekalipun Tahiriyah telah berdiri di Khurasan, kekhalifaan Bagdad, menemukan kekuatan tandingan bagi Samaniah. Pada tahun 819, Al-Ma´mûn memberikan penghargaan kepada empat cucu Saman-Khudat atas jasa mereka mematahkan sebuah pemberontakan dengan menjadikan mereka gubernur di Samarkand, Herat, Farghanah, dan Shash (Tashkent). Secara nominal, pangeran-pangeran ini adalah pengikut Tahiriah, tetapi ketika Tahiriah tumbuh independen, Samaniah menempa dan menguji kekuatan mereka sendiri melalui peperangan dengan penguasa dan penentang lokal. Ahmad, satu dari empat pangeran tersebut, mampu menjadikan anaknya, Nasr, sebagai pangeran yang otonom di Samarkand, menyaingi Shaffariah. Saudara Nasr, rival sekaligus penerus Ismail, mengalahkan Tahiriyah ditahun 837 dan mendudukkan dirinya di Bukhara. Dua tahun kemudian, ia mendapat pengakuan khalifah Al-Mu’tamid (m. 256-279 H.), sekalipun pergantiannya oleh Nasr, saudaranya tidak mendapat pengakuan serupa hingga Nasr meninggal sembilan tahun kemudian.

Harapan Baghdad tampaknya agar Samâniyah dan Saffariyah bisa saling menghancurkan satu sama lain. Akan tetapi, hal itu tidak pernah terjadi. Memenuhi panggilan khalifah agar membantunya melawan Saffariyah, Isma’il (892-907) menghancurkan kekuatan mereka dalam sebuah pertempuran di dekat Balkh di tahun 900 dan mengirimkan pemimpinnya untuk di eksekusi di Baghdad pada tahun 902. Dia mengkonsolidasikan kekuatannya dengan menundukkan sejumlah pemerintahan kecil di Asia tengah; dan reformasi yang dilakukannya dalam pajak, perdagangan, dan bahkan kedudukan tanah, menjadi legenda. Dinastinya bertahan hanya satu abad lebih. Mereka adalah sunni dengan elaborasi birokrasi yang modelnya serupa Baghdad, sebuah struktur kelas yang berakar pada orang-orang Sassaniyah Persia, tergantung pada prajurit-prajurit Turki, dan diharapkan untuk menjadi perimbangan bagi dihqan. Di awal 914 budak penjaga membunuh Ahmad bin Isma’il di dalam tendanya di dekat Bukhara–oleh sebagian orang disebut karena dia terlalu dekat dengan sarjana dan ahli teologi. Tetapi kebijakan intelektual, teologis, dan artistik Samaniyah bukan sekedar ornamen. Ia adalah simbol dari ketertiban dan stabilitas dinasti yang menjadi pijakan dari legitimasi mereka.

Pada era Samaniyah, tersebutlah penyair Firdausî (939-1020) yang menciptakan syair kepahlawanan (epic) Persia, Syah Nameh (kitab sang raja), sebagai pujian cita-cita kesatraan sponsornya pembesar Tus yang berpikir independen. Yang menarik dicatat dari masa ini adalah perjalanan Firdausî di usia empat puluh satu tahun ke istana Mahmûd Ghaznâwi pada saat runtuhnya kekuasaan Samaniah (+ th.1004 M), untuk menyelesaikan karyanya yang hebat, dan setibanya di sana ia menerima keacuhan dan sikap bermusuhan dari monarki Sunni Turki tersebut, yang tampaknya tidak memiliki waktu untuk membaca dengan teliti karya epic monumental yang merupakan karya hidup sang penyair, dan lebih menyukai sajak-sajak pujian, kisah fantastik tradisi Persia, kisah-kisah dongeng, dan cerita roman yang ditulis oleh seorang Syiah. Sang wazir liberal yang menarik Firdausî ke istana kemudian jatuh dari kekuasaan. Kisah Firdausî kemudian berkisar pada kejadian ketika Mahmûd menghargai sang penyair tidak dengan dinar yang dijanjikan untuk setiap baris dari epic besarnya, tetapi hanya dengan satu dirham, dua puluh ribu picis, sebagai ganti dari dua puluh ribu uang logam emas yang seharusnya diterimanya.

Samaniyah setia kepada Baghdad sekalipun tampaknya tidak pernah membayar pajak atau upeti kepada khalifah, selain pemberian simbolis. Para pangerannya juga selalu menyebut dirinya amir, jenderal, dan gubernur, tidak pernah menyebut dirinya khalifah. Samaniyah mengirimkan laporan formal apa yang dilakukannya ke Baghdad dan selalu memasukkan nama khalifah dalam uang logamnya. Ketika Buwaihi dapat mengontrol Baghdad, Samaniyah tetap loyal kepada kekhalifahan Baghdad dan bahkan menyembunyikan orang yang mengaku Abbasiah di tahun 968 dan menyerang kekuatan Buwaihi hanya untuk dipukul mundur.

Setelah penaklukan awal Ismailiyah di Transoxiania, tampaknya kepentingan Samaniyah adalah mempertahankan kesukuan di Asia tengah demi kepentingan perdagangan kafilah. Dalam mencapai tujuan ini mereka relatif sukses, mempengaruhi respek kesukuan dan secara bertahap mengatur perpindahan agama mereka kepada Islam. Dasar kesuksesan mereka adalah penduduk dari wilayah kekuasaannya. Sebagai pelengkap kekuatan dihqan Khurasan, Samaniyah mengundang penguasa tanah independen dari Transoxiania. Orang-orang perbatasan yang kokoh dan independen ini bangga pada saham dan keramahan mereka. Istakhiri menceritakan seorang pemilik tanah di Soghd yang pintunya tidak pernah ditutup selama satu abad dan memberi makan memberi penginapan satu atau dua ratus musafir setiap malamnya. Pemuda atau orang yang tidak punya tanah bisa bergabung dengan gerombolan perampok yang tidak kompak atau menggabungkan diri dengan gerakan pemberontak, tetapi orang-orang dari Mâ warâ’ al- Nahr yang teguh menyokong ghâzi, serdadu-serdadu iman, dan selalu bisa menemukan lapangan pengabdian di kepemimpinan bidang kesukuan. Ketika kekuasaan Samaniyah jatuh, beberapa orang mengikuti Mahmûd ke India. Tetapi di masa gemilang mereka, Samaniyah menjaga perbatasan, bergantian dengan bantuan para sukarelawan yang diorganisasikan di dalam ratusan ribât, yang kerapkali didanai dengan awqâf.

Pada saat kondisinya yang aman saat itu di perbatasannya, rezim Samaniyah membantu perkembangan keberadaan budaya Persia kuno di dalam Islam, yang didasarkan pada administrasi yang sehat, hasil bumi, perdagangan dengan Rusia hingga ke utara, dan sepanjang jalur sutera hingga ke China. Di Bukhara, Nasr bin Ahmad (m. 914-943 M.) yang pada usia delapan tahun menggantikan ayahnya yang mati syahid, diberi nama julukan dengan nama al-Sa’îd, yang beruntung. Karena wazirnya seorang sarjana dan ahli ilmu bumi yang cakap, Abû ‘Abd-Allah Muhammad ibn Ahmad al-Jayhâni (menjabat dua periode pada tahun 914-922, 938-941 M.), ia mampu untuk memadamkan beberapa pemberontakan yang dilakukan oleh keluarga amir-amir muda dan memperoleh kembali hak milik dinasti yang hilang, dan membangun sebuah gedung perwakilan rakyat yang megah ditempat istana kuno Bukhar-Khudah, sebuah tempat dengan sebuah bangunan kantor bersebelahan untuk sembilan diwannya: wazir, bendaharawan, sekretaris negara, kepala polisi, kepala pos, intelejen, kepala perkebunan, muhtasib, atau pemeriksa pasar dan moral, dan qadi atau kepala pengadilan. Beberapa kantor dipegang oleh para birokrat profesional yang seringkali masih ada hubungan famili. Kementrian keuangan yang ada dibawah kantor wazir tampaknya sangat kompleks. Terdapat dua puluh enam daftar atau jabatan dalam urusan keuangan dan militer, dua bidang yang pada masa itu berhubungan sangat dekat. Di sana bahkan ada sekolah istana untuk merekrut budak, yang kemudian menjadi model bagi dinasti-dinasti berikutnya. Nizam Al Mulk (w. 408) mengenang tata cara tersebut dengan rasa bangga:

Ini adalah sistem yang tetap dipakai pada saat itu oleh Samaniah. Budak-budak diberikan kenaikan pangkat berjenjang dalam tingkatan sesuai lama pengabdian mereka, keterampilan dan jasa umum mereka. Jadi setelah seorang budak dibeli, setelah satu tahun dia diperintah untuk melayani dengan berjalan kaki di sanggurdi, dengan memakai jubah zandaniji dan sepatu boot. Dia tidak diperbolehkan untuk menunggang kuda didepan umum atau sendirian, dan jika ditemukan menunggang, ia akan dihukum.

Setelah satu tahun pengabdian, pimpinan tenda akan berbicara kepada pengurus rumah tangga istana dan memberinya sebuah laporan. Mereka kemudian akan memberikan kepada budak tersebut, sebuah kuda turki kecil dengan sebuah sadel yang dibungkus kulit mentah, kekang datar, dan kulit sanggurdi. Setelah mengabdi setahun dengan kuda dan cemeti, ditahun ketiga di diberi sebuah sabuk untuk dipakai dipinggang. Di tahun keempat mereka memberi budak tersebut sebuah tempat anak panah dan wadah tali yang harus diikatkan ketika dia mendaki. Ditahun kelima, dia memperoleh sadel dan kekang yang lebih baik dengan tanda bintang pada tanda tersebut bersama dengan sebuah jubah yang bagus dan sebuah tongkat kebesaran untuk dipegang di gelanggang. Di tahun keenam dia dibuatkan sebuah nampan mangkok dan piala untuk digantung di pinggangnya.

Di tahun ketujuh ia adalah pembawa jubah hakim. ditahun kedelapan, mereka memberinya sebuah tenda satu puncak dengan enam belas pasak dan menaruh tiga budak yang baru dibeli sebagai pasukannya; dan mereka memberinya pangkat sebagai pimpinan tenda dan memakaikannya topi bulu hitam yang dihiasi dengan kawat perak dan jubah yang dibuat di Ganja. Setiap tahun mereka meningkatkan tingkat dan tanggung-jawabnya, sampai dia menjadi seorang kepala kelompok, dan kemudian pengurus rumah tangga kerajaan. Jika dia mengembangkan sebuah reputasi dengan sesuai, mampu dan berani, melakukan langkah yang terkemuka, dan dikenal bijaksana di antara teman sebaya dan loyal kepada tuannya, kemudian pada usia 35 tahun mereka bisa menjadikannya seorang amir dan memberinya kepemimpinan di sebuah propinsi. Istana Samaniyah sangat megah tetapi dapat didatangi oleh ulama dan orang-orang terkemuka, dan setiap musim panas Nasr membawa tentaranya ke Herat, Samarkand atau tempat-tempat lainnya sebagai manuver.

Al-Tha’âlibî al-Naisabûry (961-1038) yang menulis sebuah memoar literer Arab, Yatîmat al-Dahr, yang merupakan ontologi dan penghargaan bagi para penyair Arab yang “disangga” oleh kekuasaan Samaniyah. Dia menuturkan kunjungan ayahnya ke istana Nasr di Bukhara dan sekelompok filosof dan penulis yang dijumpai di sana, yang kemudian tidak pernah dijumpainya lagi. Penyair, sejarawan, saintis, dan ahli teologi diperbolehkan berada di istana. Perpustakaannya, tempat di mana Ibn Sîna sebagai pemuda pernah menjelajah, telah didirikan. Pembesar istana, Abu Dulaf (w. 225 H/839/840 M.), dikirim sebagai duta besar ke China dan menulis laporan lengkap mengenainya. Di antara orang termasyhur yang dibawa ke istana Nasr adalah penyair Rudaki (w. 330 H / 940 M), yang menulis ghazal (sayir cinta), pidato/tulisan berisi pujian, dan musik untuk kecapi. Rudaki mendirikan bentuk epik Persia, mengadopsi dongeng Sindbad dari versi Pahlavi dari sebuah sumber India dan mengubahnya menjadi dongeng India Kalila dan Dimnah dalam larik-larik Persia.

Sebagaimana di sebut di atas, wazir Al-Jayhâni menjabat dua kali periode. Keberadaannya (antara 922 s/d 938) tidak menjabat, terjadi karena dia dicurigai berkecenderungan Syiah rahasia-beberapa bahkan mengatakan bahwa kepercayaan yang sesungguhnya dianutnya adalah dualisme Manikea, jika Syiah dianggap tidak cukup jelek. Kejatuhan Amir sangat diakibatkan oleh penyerangan terhadap simpati Syi’ah. Agen-agen Ismailiyah dari Khurasan menginfiltrasi pengiring Nasr, merubah orang-orang istana yang berada dalam posisi kunci, sanak saudara dan para karyawan, serta mempengaruhi sang pangeran sendiri untuk mendukung atau mentoleransi dakwah Ismailiyah di Khurasan. Penurunan Nasr dari tahta oleh sebuah komplotan rahasia pegawai sunni adalah sebagai akibat langsungnya. Nuh, anaknya, kemudian menghabisi komplotan tersebut. Sejarah mencatat, Nuh menyelamatkan nyawa ayahnya, mengalihkan kemarahan orang-orang yang berkomplot, menguasai tahta, mengampuni seluruh pelaku kecuali sang pemimpin kudeta yang gagal tersebut dan mengarahkan tentara menghadapi Isma’iliyah dan simpatisannya, gerakan yang justeru berhasil menekannya di tahun di tahun 942. Sisa pecahan gerakan tersebut bergerak di bawah tanah.

Nûh (memerintah 942-954) menyeponsori ahli sejarah al-Narsakhi (899-959), yang menulis sejarah Bukhara di dalam bahasa Arab di tahun 943, memuji dinasti secara umum, dan sang amir secara khusus, sebagai yang memperbaiki ketenteraman. Di bawah Abd al-Mâlik (memerintah 954-961) dan penggantinya Mansûr bin Nûh, seorang Bal’âmi kedua, yang melayani di kantor yang sama dengan ayahnya, Annals Arabnya Thabari diterjemah ke dalam bahasa Persia. Tafsir al-Qur’an Tabari yang berjilid-jilid diterjemahkan segera setelahnya. Karya-karya Persia diangkat: tentang astronomi oleh Abu Nasr al-Qummî; tentang geografi oleh Abu al-Mu’ayyad al-Balkhî (w. 332), seorang pengarang dua bahasa yang di patronase oleh Nûh bin Manshûr (976-997). Nama yang disebut terakhir ini, adalah pangeran penguasa Samaniyah ke delapan di mana ayah Ibn Sîna mengabdi. Salah satu pejabat di istananya adalah Muhammad bin Yusuf al-Khawarizmi (w. 997). Karangannya “Mafâtih al-’Ulûm”, sebuah klasifikasi ilmu-ilmu arab dan ilmu asing, ditulis pada tahun 976 dan dipersembahkan kepada wazir-nya Nûh. Kitab tersebut membuka ketertarikan tentang perkembangan Ilmu-ilmu pengetahun Islam dan ilmu-ilmu Yunani yang dapat di akses oleh orang Islam melalui penerjemahan karya Yunani klasik, khususnya di bawah Abbasiah.

Pada saat Ibn Sîna dilahirkan, Samaniyah kehilangan kontrol di beberapa daerah pinggiran dan melepaskannya pada tuan tanah serta kehilangan kontrol dari gubernur-gubernur militer yang ditunjuk dari jenjang tentara budak. Ketika Ibn Sîna tumbuh dewasa, Bukhara sendiri sedang berada di dalam ancaman, dan sebagai pemuda dia menyaksikan dinasti di mana ayahnya mengabdi telah hanyut oleh arus kekuatan baru.

Adaptasi / cuplikan dari Tesis Abd. Hamid Wahid

About these ads

February 27, 2008 - Posted by | Ibn Sina, Kisah Sufi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers

%d bloggers like this: